Social Advertising

Dulu, gambaran menghubungi layanan pelanggan di sebuah perusahaan adalah menelepon, menunggu, dan belum tentu mendapatkan solusi hari itu juga. Namun image tersebut semakin lama semakin bergeser dengan semakin berkembangnya teknologi contact center dan keberadaan saluran lain, salah satunya adalah media sosial.

Bahkan tren saat ini, perusahaan startup tidak mencantumkan nomor call center di laman mereka, melainkan lebih mengutamakan menggunakan email, media sosial, maupun web-chat sebagai bentuk layanan pelanggan mereka karena kemudahan yang ditawarkan strategi ini. Media sosial telah mengubah cara berinteraksi antara pelanggan dengan perusahaan secara langsung tanpa gangguan pihak manapun. Ketika belum ada jawaban pun, pelanggan tidak harus menunggu melalui telepon, namun dapat sewaktu-waktu dikirimkan jawaban yang lengkap melalui email maupun pesan di media sosial.

Ketika satu pelanggan mengajukan pertanyaan spesifik di Twitter, setiap follower dari brand tersebut memiliki akses ke jawaban tersebut. Kemampuan untuk menjawab pertanyaan setiap saat inilah yang memberikan lebih banyak kebebasan kepada pelanggan untuk mengeksplorasi produk dan layanan brand sesuai kebutuhan mereka.

Perusahaan, terutama startup yang sedang berkembang, harus memanfaatkan promosi dengan menggunakan media sosial. Jika perusahaan Anda memiliki pengelola atau administrator untuk aplikasi perpesanan, social profile, dan saluran telepon sepanjang waktu, maka Anda harus menemukan cara untuk mengkomunikasikan dedikasi Anda terhadap layanan melalui iklan media sosial berbayar dan meningkatkan posting di media sosial.

Sebagai tambahan, review pelanggan, kutipan, maupun testimonial dalam iklan sosial juga sangat membantu dalam mendapatkan pelanggan baru. Pelanggan saat ini cenderung lebih mempercayai testimonial dari pelanggan lain daripada brand baru itu sendiri. Jadi, social advertising atau iklan sosial ini akan sangat membantu brand perusahaan Anda untuk mendapatkan posisinya serta untuk mendapatkan pelanggan baru. (MZ)

Berbagai sumber

Merancang Presentasi yang Menarik

Membuat presentasi mungkin terlihat sederhana, namun ternyata juga tidak sesederhana yang kita pikirkan. Isi presentasi memang penting, tapi jika tampilan presentasi kurang menarik tentu akan membuat audiens tidak tertarik dan cepat merasa bosan. Andi Anugrah membawakan pelatihan Design Powerpoint Presentation untuk melatih peserta berpikir kreatif untuk menyusun presentasi yang menarik.

Sejumlah peserta yang hadir di pelatihan kali ini berasal dari beberapa perusahaan seperti dari Kereta Api Indonesia, Acer Indonesia, Anugerah Pharmindo Lestari, Kalbe Nutritionals, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Infomedia Nusantara, dan Angkasa Pura I.

Materi yang disampaikan oleh Andi Anugrah antara lain seputar bagaimana cara untuk mendapatkan ide kreatif. Cara paling umum dilakukan adalah melihat hal-hal secara langsung, mendengar, dan melakukannya. Agar slide presentasi tampil menarik, jangan ragu untuk bermain dengan bentuk, kombinasi warna, angka, dan kata. Pada sesi pelatihan tersebut peserta juga ditantang untuk membuat skrip dan menyusun urutan materi sesuai dengan skrip yang telah dibuat. Hal yang tidak kalah penting adalah menyusun presentasi dengan tema yang sesuai dengan kepribadian pembuat presentasi.

Esra Melita Hutabarat, atau lebih akrab disapa Esra, mengatakan bahwa pelatihan yang dijalaninya kali ini memberikan manfaat baginya. Selama ini peserta dari Kalbe Nutritionals ini mengaku bahwa penampilan slide presentasi tidak menjadi perhatian utama. Namun setelah mengikuti pelatihan ini, Esra merasa bahwa penampilan slide presentasi juga harus diperhatikan agar audiens tertarik dan memperhatikan presentasi yang disampaikan.

Lain lagi dengan Roesdaniel Ibrahim, peserta pelatihan dari Otoritas Jasa Keuangan, pelatihan ini merupakan hal yang baru baginya. Di OJK sendiri sebenarnya sudah diterapkan standar slide presentasi yang cukup berbeda dengan yang disampaikan oleh Andi Anugrah. Namun hal penting lain yang didapatkan adalah bagaimana menggali kreativitas agar penampilan presentasi tidak monoton.

Di akhir perbincangan dengan kedua peserta tersebut, Esra mengaku ingin mengikuti pelatihan lain yang berhubungan dengan public speaking, dimana Esra ingin agar apa yang dia sampaikan dapat meyakinkan lawan bicaranya. Roesdaniel sendiri mengatakan bahwa dia membutuhkan pelatihan softskill lain seperti mediasi tim, couching dan counselling, complaint handling, dan monitoring untuk softskill yang dimiliki Agent. (MZ)

Presentasi Itu Mudah

Bagi yang belum pernah melakukannya atau jam terbang yang kurang, presentasi seperti sebuah momok. Terkadang hal-hal yang sudah dipelajari sebelumnya tiba-tiba menghilang saat berhadapan dengan audiens. Namun jika seseorang yang baru akan meningkatkan skill presentasi mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan saat presentasi dan segala persiapannya, niscaya melakukan presentasi itu mudah.

Training bertajuk Upgrade Your Presentation Skill kembali diadakan di Graha Seti pada Senin lalu (27/3). Training yang dibawakan oleh Mubyar Nur Khaliq dihadiri oleh sejumlah peserta dari PT. Nutricia Indonesia Sejahtera, PT. VADS Indonesia, PT. Pertamina (Persero), PT. Bumi Serpong Damai, Tbk., Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, PT. Supra Primatama Nusantara (Biznet), PT. Swakarya Insan Mandiri, PT. Bank OCBC NISP, Tbk., PT. Adi Sarana Armada (Assarent), dan PT. Sarihusada Generasi Mahardhika.

Sesi pertama diisi dengan perkenalan yang dilakukan oleh trainer juga oleh seluruh peserta. Kegiatan ice breaking juga dilakukan untuk membuat seluruh peserta lebih rileks dan akrab. Memasuki materi pertama yaitu mempersiapkan presentasi. Peserta belajar lebih jauh tentang teknik dasar membuat materi presentasi. Peserta praktek secara langsung mulai dari menyiapkan materi presentasi, peralatan presentasi, hingga membuka presentasi dengan baik dan memberikan kesan bagi audiens.

Setelah coffee break, peserta memasuki sesi kedua yaitu membangun kepercayaan diri saat melakukan presentasi di podium. Peserta diajak untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri saat melakukan presentasi. Semuanya dilakukan sejak sebelum presentasi dimulai hingga selesai, bahkan kepercayaan diri saat menghadapi pertanyaan dari audiens. Sesi kedua ditutup dengan presentasi yang dilakukan oleh Riski, peserta dari Bank OCBC NISP.

Selepas istirahat siang, peserta kembali memasuki ruang training dan bersiap untuk materi selanjutnya. Namun sebelum itu, peserta diajak untuk melakukan ice breaking dengan bertanya satu sama lain, berhitung, dan menulis nama di kertas. Materi selanjutnya adalah tentang bagaimana mengajukan pertanyaan kepada audiens dan juga menjawab pertanyaan dari audiens. Peserta juga melakukan praktek secara langsung untuk mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dengan baik dan benar.

Materi terakhir adalah tentang bagaimana menutup presentasi dengan baik dan memberikan dampak terhadap audiens. Selain mendapatkan materi, peserta juga melakukan praktek secara langsung. Seluruh sesi diakhiri dengan presentasi yang dilakukan oleh seluruh peserta. (MZ)

Problem Solving ala Leader Kekinian

Membangun kebersamaan tim yang baik bukan merupakan pekerjaan mudah, namun juga tidak mustahil untuk dilakukan. Hal pertama yang wajib dilakukan jika kebersamaan mulai goyah adalah menemukan titik permasalahan dan melakukan penanganan terhadap hal tersebut.

Pertama, leader harus mampu untuk menumbuhkan semangat anggota tim. Semangat tim dapat ditempuh dengan sejumlah cara antara lain dengan memastikan anggota tim mengetahui mengapa mereka dipilih untuk melakukan sebuah tugas, menentukan tujuan bersama dan sasaran spesifik untuk menantang kekuatan tim, mendorong tim untuk berkomunikasi, memberikan pujian atas hasil yang dicapai tim, meminta saran dari anggota tim, serta meluangkan waktu untuk menanggapi laporan dan informasi dari tim secara terperinci.

Kedua, mengenali masalah yang dialami tim. Leader tidak mungkin berspekulasi atas masalah yang dialami, leader sebaiknya bertanya secara langsung untuk mengidentifikasi masalah. Jika masalah mengancam kerja semua tim, maka tidak ada jalan lain selain mengkaji ulang semua strategi dan tujuan pembentukan tim.

Ketiga, bicarakan masalah anggota tim secara pribadi. Setelah masalah dapat diidentifikasi, tugas seorang leader selanjutnya adalah membicarakan hal tersebut dengan anggota tim yang terlibat. Biarkan anggota tim mengutarakan apa yang terjadi, namun tetap lakukan pengamatan agar dapat memberikan penilaian yang seimbang.

Dalam menghadapi masalah, ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan dan hal yang sebaiknya dihindari. Hal-hal yang sebaiknya dilakukan adalah berkata secara jujur, melihat masalah dari sudut pandang tim, menggunakan masalah untuk perubahan ke arah yang lebih baik, bersikap positif saat menghadapi masalah, dan menangani masalah sesegera mungkin.

Hal-hal lainnya meliputi jangan pertahankan orang yang sulit, jangan kehilangan kesabaran terhadap anggota tim, jangan kehilangan arah tujuan tim, jangan ragu meminta bantuan orang luar bila perlu, dan jangan buat masalah dengan mengabaikan ketegangan yang ada.

Terakhir, belajar dari pemecahan masalah, lakukan sejumlah langkah positif dengan mencermati kejadian yang menimbulkan masalah, mengenali kinerja buruk sub-group, mengakui kesalahan pimpinan sub-group, menawarkan dukungan bagi pemimpin sub-group, mengkaji ulang perlunya pelatihan secara teratur, dan mengamati keadaan setelah enam bulan untuk melihat hasil.

Source: Managing Teams by Robert Heller