Permainan Tukaran Kado

Permainan Tukaran Kado

Biasanya setiap akhir tahun, Telexindo mengadakan acara tukaran kado. Setiap karyawan diminta membawa kado dalam bungkusan kertas koran. Kemudian kado tersebut dikumpulkan dan diberikan nomor undian. Setiap karyawan akan mendapatkan kesempatan pengundian sesuai dengan nomor yang sudah disiapkan pantia.

Berdasarkan nomor yang diterima, maka karyawan akan mendapatkan hadiahnya sesuai nomor yang ada pada kado. Setelah itu ada acara ramai-ramai membuka kado secara bersamaan. Ada yang senang dapat hadiahnya dan ada juga yang lebih tertarik dengan hadiah dari orang lain. Tak lupa foto-foto dan makan bersama.

Namun kali ini panitia melakukan perubahan kegiatan tukaran kado. Setiap karyawan tetap diberikan nomor undian, namun nomor tersebut adalah nomor urut mengambil hadiah. Kado yang dikumpulkan juga tidak diberikan nomor, karena karyawan boleh memilih bungkusan yang diinginkan. Pastinya yang punya nomor awal lebih berkesempatan memilih hadiah yang lebih bagus.

Oh, ternyata tidak. Permainannya adalah urutan selanjutnya boleh mengambil hadiah yang dibuka peserta sebelumnya, jika ia menyukainya. Begitu peserta lain menyukai kado yang sudah dibuka oleh peserta sebelumnya, maka ia harus mengambil lagi kado yang baru. Bisa juga ia meminta kado orang lain. Begitu seterusnya sampai semua mendapatkan giliran mengambil kado.

Kado hanya boleh diminta orang berbeda sebanyak 2 kali, sehingga jika seseorang meminta kado yang sudah dibuka oleh karyawan lainnya. Kado tersebut masih bisa berpindah tangan 1 kali. Selama masih 1 kali berpidah tangan, maka siapapun boleh meminta kado yang ada ditangan. Kadang-kadang karena ia suka kadonya, maka ia sembunyikan. Tetap saja ada yang mengincar kado yang disembunyikan.

Tak boleh ada yang menolak, jika kadonya diminta oleh orang lain. Itulah makna saling memberi dan tak ada ego untuk memiliki sesuatu hanya untuk kepentingan diri sendiri. Semua senang dengan pilihan hadiah yang didapatkan, bahkan ada mendapatkan hadiah yang lebih mahal.

Coba tebak, apa saja kado yang dibawa karyawan. Biasanya yang dibawa adalah tempat minum, gelas, tempat makan, sendok garpu, atau peralatan yang biasanya mereka gunakan makan dan minum di kantor. Kali ini ada juga yang memberikan sandal, bantal, sandaran kepala, cermin, senter dan handuk. Masih ada yang lainnya, yang entah apa namanya, yang jelas bermanfaat.

Begitulah Telexindo merangkai kebersamaan diakhir periode tahun buku 2017. Ada saja kejutan yang dapat dirasakan oleh karyawan, walaupun dengan hidangan sederhana di ruang teras belakang kantor. Semua menjadi indah, jika dinikmati bersama dalam suasana yang gembira. (AA)

Perjalanan Ibadah

Perjalanan Ibadah

Sejak tahun 2008 pemenang The Best Contact Center Indonesia mendapatkan hadiah perjalanan keluar negeri untuk melakukan benchmarking ke contact center pada negara yang dituju. Setiap tahun lebih dari 100 peserta mengikuti kegiatan benchmarking, baik sebagai pemenang maupun sebagai pendamping ataupun anggota ICCA.

Berbeda halnya dengan tahun 2017, panitia memberikan kesempatan untuk mengikuti paket ibadah umroh sebagai pengganti hadiah benchmarking. Hal ini dilakukan setelah mendapatkan umpan balik atau survey tujuan benchmarking yang diinginkan. Pilihan utama jatuh pada paket benchmarking ke eropa dan kedua adalah umroh. Akhirnya panitia menetapkan Eropa sebagai tujuan utama, sekaligus bisa diikuti oleh semua pemeluk agama.

Untuk tetap memenuhi keinginan peserta, maka panitia memberikan pilihan pengganti paket Eropa yaitu paket umroh. Setiap pemenang Platinum boleh mengganti hadiahnya dengan paket umroh, bahkan pemenang lainnya boleh juga melakukan upgrade ke paket umroh. Bahkan hadiah bisa diberikan kepada orang tua dan boleh mengajak pasangan.

Tahap awal pendaftaran, beberapa peserta yang sudah menetapkan pilihan sudah mendaftarkan diri mengikuti paket umroh. Dengan sasaran awal minimum 20 peserta sudah cukup memadai untuk tahap awal pemberangkatan peserta umroh. Walaupun pada akhirnya ada 30 peserta yang ikut dalam rombongan kami.

Proses pengurusan administrasi berangkat umroh tergolong lebih mudah dibandingkan berangkat ke paket eropa. Hanya perlu foto, passport dan suntik meninghitis sebagai syarat mendapatkan visa, selebihnya tidak ada yang perlu dilakukan.

Setelah melakukan manasik umroh, seminggu kemudian perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Jeddah dan transit di Abu Dhabi. Perjalanan kali ini menggunakan pesawat Etihad dan tiba di Jeddah menjelang sholat dzuhur. Terlihat banyak penumpang yang sudah mengenakan pakaian ihram pada saat rombongan dari Abu Dhabi ke Jeddah.

Proses antrian imigrasi di Jeddah tidak semudah dan bersahabat seperti yang dibayangkan di bandara lainnya. Antrian pajang terlihat dan dituntut kesabaran pendatang untuk melalui pemeriksaan imigrasi. Terlihat ada beberapa jalur yang disiapkan, akan tetapi terkadang proses untuk penanganan satu orang lebih lama dari lainnya. Sebuah ujian kesabaran yang harus dilalui.

Keluar imigrasi dan pengambilan bagasi, tiba waktunya sholat dzuhur dan rombongan bergegas melaksanakan sholat jama’ awal dzuhur dan ashar. Berbeda dengan bandara lainnya, tempat sholatnya jauh lebih luas. Begitu kesan pertama dalam perjalanan menuju di kota suci Madinah dan Mekkah.

Setelah perjalanan lebih dari 12 jam dari Jakarta ke Jeddah via udara, perjalanan masih harus dilanjutkan via darat. Perjalanan dari Jeddah menuju kota suci Madinah harus ditempuh dalam 6 jam menggunakan bis. Kami disuguhi makan siang diatas bis dengan hidangan khas masakan Indonesia. Hampir semua rombongan menikmati dan menghabiskan makanannya.

Jelang sholat Isya, kami tiba di kota Madinah dan rombongan bergegas mengikuti sholat Isya di Masjid Nabawi. Tentunya tak sabar rombongan ingin banyak beribadah di Masjid Nabawi dan berkunjung ke makam Rasulullah. Tak banyak waktu untuk beristirahat, karena jam 2 atau 3 pagi kami harus bergegas ke Masjid lagi untuk memperbanyak sholat malam.

Terdengar adzan yang mengingatkan kota untuk sholat malam, selanjutnya ada adzan lagi dalam 1 jam kemudian yang menandakan waktunya sholat shubuh. Butuh waktu 30 menit untuk memberikan kesempatan kepada jamaah untuk sholat sunnat shubuh. Terilahat Masjid Nabawi mulai penuh.

Rutinitas sholat di Masjid Nabawi yang tenang dan diselingi dengan memperbanyak membaca kitab suci Al Quran. Bisa juga belajar mengaji dari beberapa ustaz yang memberikan kesempatan kepada jamaah untuk belajar. Ada juga ceramah dalam berbagai bahasa termasuk Bahasa Indonesia.

Kegiatan di Madinah juga diselingi dengan kunjungan ke beberapa tempat bersejarah dan tak lupa berkunjung ke kebun korma. Begitu juga mengunjungi museum Al Quran dan Asmaul Husna. Kami diajak berkeliling seputar Masjid Nabawi dan dipandu oleh pembicara dalam Bahasa Indonesia. Terlihat banyak juga rombongan dari Indonesia dan Malaysia yang mengikuti kegiatan kunjungan di berbagai museum tersebut.

Tibalah saatnya kami akan berangkat menjalankan inadah umroh di kota Mekkah. Perjalanan dari Madinah ke Melkah dilakukan lepas sholat dzuhur dan diharapkan tiba di Mekkah pada malam hari. Hal ini bermanfaat untuk memudahkan proses ibadah dalam kondisi malam yang lebih sejuk dan lebih sedikit jamaah.

Dengan berpakai ihram, rombongan terus meneriakkan “labaikallah humma labbaik”, yang meneguhkan hati bahwa kita sedang memenuhi panggilan Allah yang maha kuasa. Tak henti-hentinya rombongan menerikkan kalimat ini dan semangat anak muda yang menyertai perjalanan ini membuat kami terharu. Ketika kecapaian ada yang tertidur, ketika terbangun kembali mereka semangat menerikkan kalimat tersebut.

Tiba di Mekkah, langsung menuju hotel untuk makan malam dan istirahat sejenak. Selanjutnya rombongan langsung menuju Masjidil Haram dan menjalankan ibadah umroh. Dimulai dengan tawaf, dilanjutkan dengan sholat sunnat tawaf serta diakhiri dengan sa’i serta tahallul.

Tawaf dilakukan dengan mengelilingi Kabah sebanyak 7 kali dan Sa’i dilakukan dengan berlari-lari kecil antara Safa dan Marwah sebanyak 7 kali. Sedangkan Tahallul dilakukan dengan mencukup rambut jamaah. Disarankan untuk mencukur habis rambut bagi ikhwan, sedangkan bagi akhwat (wanita) cukup dengan memotong tiga bagian dari ujung rambutnya.

Jam 2 pagi semua proses sudah selesai dan saatnya untuk menunggu sholat shubuh. Bagi sebagian jamaah, masih ingin melaksanakan tawaf yang kedua, sekaligus berupaya mencium hajar aswad. Rombongan tak ingin kembali ke hotel dulu dan lebih memilih untuk ibadah di Masjidil Haram dan memanjatkan do’a sambil menunggu sholat shubuh.

Kondisi Masjidil Haram yang sedang dalam renovasi membuat jamaah yang tidak menggunakan pakaian ihram untuk melakukan Tawaf lebih jauh. Mengingat mereka tidak boleh Tawaf dalam lingkarang terdekat dari Kabah dan harus melakukan di lantai 2 atau diatasnya.

Duduk berdua lepas sholat shubuh menunggu pagi dan mengisi dengan bacaan Al Quran serta memanjatkan do’a. Sekaligus memohon ampunan atas segala kesalahan, mengingat semua hal yang telah dilakukan sebagai refleksi diri dan memohon petunjuk untuk diberikan petunjuk jalan yang benar.

Berharap bahwa perjalanan bersama rombongan pemenang ICCA tahun ini bukan merupakan yang pertama dan terakhir. Masih ingin kembali bersama rombongan pemenang lainnya dan merasakan semangat untuk melakukan perbaikan. (AA)

Pesawat, Hotel, dan Online Travel

Pesawat, Hotel, dan Online Travel

Perjalanan seru dengan bantuan fasilitas online travel dari aplikasi di handphone coba kami jalankan dalam beberapa hari di bulan Desember. Sengaja kami tidak melakukan booking pesawat atau hotel lebih awal, karena jadwal kegiatan pekerjaan yang bisa berubah sesuai dengan kondisi di lapangan.

Perjalanan pertama menggunakan Citilink dari Jakarta ke Semarang, kali ini dengan pesawat Airbus A320 dipesan dari tiket.com. Di Semarang kami sempat menginap 1 malam dan memesan Hotel via Traveloka, hotel yang dipilih lokasinya dekat dengan kantor pelaksanaan pekerjaan kami.

Yang dilanjutkan dengan penerbangan dari Semarang ke Surabaya dengan menumpang pesawat Wings Air, pesawat ATR 72-500. Seru juga menumpang pesawat ini, pakai baling-baling, disertai sedikit guncangan selama perjalanan. Ada delay selama kurang lebih 1 jam, sehingga kami harus tiba agak malam.

Benar saja, kondisi Gunung Agung di Bali menghalangi kami ke Denpasar dan memilih lanjut ke Makassar. Untuk itu dari Surabaya, kami melanjutkan perjalanan ke Makassar dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia type ATR 72-600. Tentunya berbeda dengan type ATR 72-500, pesawat ini tanpa baling-baling, lebih baru dan terasa lebih nyaman. Kami membeli tiketnya juga melalui fasilitas online.

Penerbangan ke Balikpapan dari Makassar kembali menggunakan Garuda Indonesia, dengan pertimbangan jadwal kerja yang padat dan butuh waktu yang on-time. Kali ini menggunakan pesawat yang lebih besar. Namun saya tidak mengingat type pesawatnya. Yang jelas pramugarinya lebih cantik dan muda diantara jalur penerbangan lainnya.

Kami memilih hotel yang sedang promosi di fasilitas order online traveloka untuk menginap semalam di Balikpapan. Tak banyak yang ingin dikerjakan selain makan Kepiting di Balikpapan, sehingga kami memilih hotel yang lokasinya tidak dekat mall. Kami memilih swiss bellin hotel, yang semoat keliru dengan Swiss Bell Hotel.

Dari Balikpapan, kami melanjutkan ke Medan dan transit di Jakarta, kali ini menggunakan Garuda Indonesia dengan type pesawat Boing 737-800 atau Airbus A330-200. Entahlah, tidak terlalu memperhatikan dan mengingat dengan jelas. Yang pasti mendapatkan hidangan makan 2 kali.

Sampai di bandara Kuala Namu, kami melakukan pemesanan hotel via aplikasi mobile. Akhirnya mendapatkan hotel dengan harga yang lumayan murah di dekat bandara. Kami memilih The Crew Hotel, yang merupakan salah satu anak usaha dari Lion Group. Saat sarapan terlihat banyak pilot dan pramugari yang menginap disini.

Melanjutkan penerbangan ke Palembang, kami menggunakan pesawat Air Asia dengan type pesawat Airbus A320. Jadwal yang cocok dengan kebutuhan kami hanya jadwal Airline ini, karena Garuda Indonesia terlalu pagi. Pembelian juga dilakukan dengan fasilitas online sehari sebelumnya.

Kali ini kami memilih menginap di Amaris Palembang, lokasinya dekat dengan keramaian, sehingga mudah kami mencari makan. Apalagi Palembang sedang dilanda kemacetan di jam kantor. Tak lupa kami menikmati masakan ikan pindang khas palembang.

Selesai tugas di Palembang, kami kembali ke Jakarta dengan pesawat Citilink, dengan type pesawat yang sama A320. Berkat bantuan online travel pada aplikasi mobile sangat membantu kami melakukan pemesanan. Apalagi dengan jadwal yang padat dan harus mengatur lokasi yang dekat dengan lokasi pekerjaan. (AA)

Sembilan hari di Delapan Bandara

Sembilan hari di Delapan Bandara

Mendapatkan tugas sebagai pengamat pada salah satu perusahaan dan memberikan rekomendasi sudah sering dilakukan. Namun kali ini harus menjalankan perjalanan yang cukup menantang, dan melewati 8 bandara dalam 9 hari. Bahkan kami harus menggunakan jasa penerbangan dari 5 Airlines dengan tipe pesawat berbeda.

Tentunya tugasnya bukan untuk menjadi pengamat bandara, akan tetapi sebagai mystery shopper pada bandara tersebut. Ah salah, pasti anda menebak pekerjaannya merupakan proyek dari perusahan bandara itu. Nah, bukan begitu maksudnya. Saya hanya menjadi penikmat dari fasilitas bandara yang saya kunjungi. Pekerjaan yang kami lakukan adalah melakukan analisis pada pelayanan contact center.

Perjalanan dimulai dari bandara Halim Perdanakusuma Jakarta dengan tujuan ke Semarang. Menikmati proses yang berlangsung pada bandara yang terasa sempit jika dibandingkan dengan Bandara Soekarna Hatta. Namun ini menjadi pilihan karena lebih dekat dari rumah dan kantor. Yang jelas ada jadwal pesawat yang pas dengan jadwal kami.

Bandaranya terasa penuh dengan banyaknya penumpang yang terasa tak tertampung dengan semakin meningkatnya frekuensi penerbangan dari bandara ini. Antrian kendaraan yang masuk dan keluar tak dapat dihindari, begitu juga antrian masuk area check in. Begitu juga ketika kita masuk ke area menunggu, tampak sekumpulan penumpang yang menunggu karena pesawat delay. Akan sulit kita menemukan bangku kosong, dan agak sedikit kurang nyaman, karena jarak antara tempat duduk sangat dekat.

Yang menarik tentunya dari bandara ini adalah fasilitas self check in yang memudahkan untuk yang tidak bawa bagasi. Begitu juga fasilitas makan dengan sejumlah restoran dan cafe cukup memadai. Bahkan di ruang tunggu yang sempit, masih ada beberapa cafe yang memakan tempat yang cukup luas.

Penerbangan kali ini menggunakan pesawat Citilink dan saya akan bercerita mengenai airlines yang kami gunakan selama perjalanan ini dalam tulisan terpisah. Penerbangan yang singkat ke Semarang dan kami tiba di Bandara Adi Sucipto Semarang.

Berhubung ada bagasi, maka kami harus menunggu proses pengambilan bagasi. Memperhatikan ruang pengambilan bagasi tentunya yang pernah ke bandara ini, akan merasa ruang tunggunya agak sempit. Suasananya agak mirip dengan Bandara Halim, bahkan mungkin Halim masih lebih baik. Kalau tidak salah hanya ada satu ban berjalan yang tersedia, sehingga tidak dapat membayangkan jika banyak pesawat yang datang.

Yang menarik dari bandara ini adalah pengumuman yang dilakukan dalam Bahasa Jawa, selain Bahasa Indonesia dan English. Bagi orang luar Jawa seperti saya yang tidak mengerti, mungkin saja menjadi menarik gaya penyampaiannya, walaupun agak aneh. Beberapa pojok dibuat untuk mengabadikan diri, belum menarik minat saya untuk ber selfi ria. Maklum dalam kondisi botak, kurang layak untuk dipamerkan.

Tak lama di bandara, karena tugas sudah menanti. Kami segera mengambil taxi bandara yang tersedia. Sangat cepat prosesnya, tak ada antrian di counter atau tak ada tenaga penjual yang teriak menawarkan jasa taxinya. Kali ini kami tidak menggunakan fasilitas online car seperti go-car atau grab car.

Hari berikutnya kami bergegas ke bandara untuk menuju penerbangan selanjutnya ke Surabaya. Tentunya yang kami tuju adalah Bandara Juanda. Suasana bandara ini berbeda dengan ruangan pengambilan bagasi yang jauh lebih luas. Tampak diujung ada deretan tenaga penjual layanan taxi yang berebut penumpang. Kami tentunya memilih salah satunya, karena sudah agak larut dan kami harus istirahat untuk jadwal kerja esoknya.

Setelah menyelesaikan tugas seharian, kami bergegas kembali ke Bandara Juanda. Kali ini proses pemeriksaan agak ketat dan melalui beberapa tahapan pemeriksaan. Kebetulan kami juga melakukan kunjungan ke salah satu contact center yang ada di bandara ini. Jadi kami harus melewati pemeriksaan tambahan 2 kali.

Yang berkesan tentunya adalah makanan di bandara, karena pada saat datang tadi malam kami makan di sini. Pada saat berangkat kami kembali mencoba salah satu makanan di sana. Tak ketinggalan kami mencoba mantau dengan ayam lada hitam. Mungkin karena lapar jadi terasa enak, atau memang enak rasanya. Entahlah, yang jelas saya mau membeli lagi.

Perjalanan selanjutnya ke Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar. Sebetulnya bandara ini terletak di kota Maros atau mungkin perbatasan antara Maros dan Makassar. Sama halnya dengan Bandara Soekarno Hatta yang berada di Tangerang, tapi tetap di tuliskan di Jakarta. Saya kira ini hanya untuk memudahkan, sebagai ibukota negara atau ibukota provinsi.

Datang tengah malam, jadi tak banyak yang kami perhatikan di bandara ini. Walaupun saya beberapa kali mendarat di bandara ini, jika pulang kampung halaman. Jadi saya tidak mau banyak komentar terhadap bandara ini. Bergegas kami mengambil taxi bandara yang sudah lebih teratur dibanding sebelumnya.

Besoknya kami melaksanakan pekerjaan dan agak santai karena kami akan berangkat ke Balikpapan hari berikutnya. Kami masih sempat menikmati ikan bakar khas Makassar dan juga berbelanja tambahan pakaian. Jadwal pekerjaan menuntut kami melanjutkan ke beberapa kota dan tak dapat kembali ke Jakarta, sesuai jadwal semula.

Melewati 2 malam di Makassar, kami melanjutkan ke Balikpapan dengan bandaranya yang baru dan bagus yaitu Sepingan. Tiba pagi hari di bandara ini, kami perhatikan ada Supermaket dan Departemen Store di bandara ini. Kayaknya next time kalau mau ke Balikpapan bisa beli baju disini, jika kekurangan baju.

Sebagai bandara yang baru, ada 1 counter pelayanan taxi, dengan petugas yang berbusana daerah dan kami mencobanya. Hanya Rp 70 ribu untuk sekali jalan, sayangnya kami salah jalan, jadi kami harus membayar 2 kali lipat. Berhubung ada 2 lokasi yang di kota ini, maka kami salah dalam memberikan petunjuk. Beruntung tidak macet, sehingga kami bisa tiba dengan cepat.

Hanya semalam di Balikpapan dan kami menuju ke Medan. Kali ini penerbangan harus transit di Jakarta. Bandara yang kami tuju tentunya Soekarno Hatta dan lanjut ke Kuala Namu. Penerbangan 2 jam dari Balikpapan ke Jakarta dan lanjut 2 jam lagi ke Medan. Transit di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta memang tidak mudah, karena jarak antara gate bisa sangat jauh.

Ada fasilitas angkutan golf car yang bisa digunakan, akan tetapi hanya mengambil penumpang di titik yang ditentukan. Jadi yang terlanjur jalan, tidak bisa menghentikan mobil penumpang yang lewat. Saya coba menghentikan salah satu, tapi mereka tidak mau, saya pikir mungkin sudah ketentuannya begitu, sehingga saya meneruskan jalan melewati lorong yang panjang.

Tiba malam hari di Kuala Namu, kami memutuskan menginap di hotel dekat bandara. Bandara Kuala Namu yang baru dan bagus, tertata dengan rapi. Tidak sulit untuk menemukan taxi di bandara ini, bahkan petugasnya cukup membantu kami untuk mendapatkan taxi yang diharapkan.

Setelah menginap dua malam di Medan, pagi hari kami melanjutkan penerbangan ke Palembang. Bandara yang dituju tentunya Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Tak banyak yang kami perhatikan di bandara ini, maklum sudah melewati beberapa hari yang cukup melelahkan. Rasanya tak ada waktu menikmati bandara, hanya jadi tempat numpang lewat.

Hanya semalam di Palembang, banyaknya pembangunan disana sehingga kemacetan banyak terjadi. Kami memutuskan tidak kemana-mana, hanya menikmati makan malam dengan ikan pindang khas palembang. Tentunya kami juga menikmati hidangan empek-empek yang disediakan tuan rumah.

Rasanya kangen pulang ke rumah setelah perjalanan 9 hari yang melelahkan. Kami kembali melewati Bandara Halim, karena lebih mudah kembali ke rumah. Tiba di Bandara Halim, kami mencoba mencari online taxi, salah satu menggunakan grab car, sedangkan saya mencoba go-car. Cukup mudah menemukan diantara padatnya kendaraan malam itu. (AA)