Manfaat Transformasi Digital

Perkembangan perangkat telekomunikasi khususnya smart-phone di Indonesia telah mendorong pertumbuhan penggunaan aplikasi berbasis mobile. Ketersediaan perangkat ini juga disertai dengan ketersediaan jaringan data kecepatan tinggi yang memungkinkan pelanggan menggunakan berbagai aplikasi dengan nyaman.

Provider telekomunikasi saat ini berlomba menyediakan paket data, sehingga jika kecepatan akses berkurang pelanggan bisa berpindah dari satu penyedia ke penyedia lain. Pelanggan juga dimudahkan dengan ketersediaan jaringan internet di berbagai fasilitas umum. Hal ini juga menjadi daya tarik bagi sejumlah restoran, cafe atau tempat makan yang menyediakan akses internet bagi pelanggan.

Jika tidak ingin disebut sebagai revolusi industri digital, maka kita sebut saja ini sebagai proses transformasi digital. Pada dasarnya sejumlah perusahaan telah memulai dan mencoba beberapa tahun yang lalu. Kegagalan yang pernah terjadi akibata, ketersediaan device, akses dan model bisnis yang kurang sesuai. Saat ini persaingan untuk memberikan kemudahan semakin menjadi tuntutan, perusahaan dituntut untuk semakin efisien dan efektif dalam proses bisnisnya. Teknologi digital hadir untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Pada dasarnya transformasi digital tidak hanya akan berdampak pada perusahaan, namun juga akan membawa tiga manfaat utama kepada masyarakat. Pertama, potensi kenaikan pendapatan pribadi melalui kerja lepas dan digital. Kehadiran gojek, grab dan berbagai aplikasi lain telah memungkinkan pekerja lepas untuk mengisi kekosongan penyediaan berbagai jenis pelayanan. Berbagai keahlian lainnya dapat dipenuhi dengan aplikasi berbasis mobile, penyediaan tenaga pengajar, teknisi, ahli bangunan, ahli gambar, ahli desain, ahli aplikasi sampai dengan konsultan atau dokter pribadi.

Kedua, transformasi digital akan membawa kota yang lebih cerdas, aman dan efisien. Dengan teknologi berbagai fasilitas umum dapat dikendalikan dan diawasi secara terpusat. Fasilitas pembayaran atau transaksi dilakukan secara digital dan tidak memerlukan kertas. Penggunaan transportasi umum yang terkendali, sehingga jadwal kedatangan dan keberangkatan dapat terpantau melalui perangkat mobile. Keterlibatan masyarakat dalam mengawasi dan melaporkan berbagai kebutuhan pelayanan umum akan memudahkan petugas dalam menindaklanjuti berbagai gangguan keamanan.

Ketiga, kehadiran teknologi digital akan mendorong terciptanya pekerjaan dengan nilai yang lebih tinggi. Dengan kemampuan proses bisnis yang lebih terstruktur, maka teknologi digital akan membantu otomatisasi berbagai pekerjaan. Selanjutnya pekerjaan rutin dan detail bisa ditangani oleh teknologi digital, yang sekaligus mendorong terciptanya temuan baru dalam menganalisis kebutuhan pelanggan. Berbagai kebutuhan dapat dianalisis dengan detail, sehingga menemukan kebutuhan spesifik yang mempunyai nilai yang lebih tinggi. Kecepatan dalam mewujudkan produk atau pelayanan memberikan nilai tersendiri atas ketersediaan teknologi digital.

Untuk mengikuti proses Transformasi Digital tersebut, perusahaan perlu memperhatikan beberapa aspek. Pertama menciptakan budaya digital. Suatu organisasi perlu membangun budaya kolaborasi dimana ia terhubung ke seluruh fungsi dalam bisnisnya, dan memiliki ekosistem pelanggan dan mitra yang dinamis dan matang. Data kemudian dapat dicakup di seluruh organisasi dan segala fungsi, di mana keputusan yang lebih baik dapat dibuat dan pada akhirnya melayani kebutuhan pelanggan serta mitra dengan lebih baik.

Kedua perusahaan harus membangun ekosistem informatif. Dalam dunia digital, organisasi menangkap lebih banyak volume data secara internal maupun eksternal. Kuncinya adalah agar organisasi dapat mengubah data menjadi sebuah aset modal, dan memungkinkan berbagi data serta kolaborasi internal dan eksternal secara terbuka namun tepercaya. Selain itu, strategi data yang tepat akan memungkinkan perusahaan memulai inisiatif AI mereka untuk mengidentifikasi koneksi, wawasan, dan tren.

Ketiga, perusahaan harus memulai dalam skala kecil dan membangun jaringan mikro. Usaha transformasi digital tidak dimulai dengan perubahan yang luas, namun secara serangkaian revolusi mikro. Ini merupakan proyek kecil dan cepat yang memberikan hasil bisnis yang positif dan menghasilkan inisiatif transformasi digital yang lebih besar.

Keempat, perusahaan perlu mengembangkan tenaga terampil yang sesuai dengan kebutuhan teknologi digital. Organisasi-organisasi saat ini harus mempertimbangkan kembali pelatihan dan peningkatan kemampuan tenaga kerjanya, sehingga para pekerja dilengkapi dengan keahlian, seperti analisis pemecahan masalah yang kompleks, pemikiran kritis dan kreativitas di sektor ekonomi digital. Yang lebih penting lagi, mereka perlu menyeimbangkan tenaga kerja untuk menarik minat tenaga kerja digital, serta terbuka dalam menciptakan sumber kerja yang fleksibel, di mana mereka memasuki pasar berbasis keterampilan. Dari perspektif kecakapan digital, bakat digital yang dibutuhkan untuk mendukung perekonomian diantaranya artificial intelligence, big data, komputasi awan, customer experience serta pengujian pengguna serta perangkat lunak.

Sudah siapkah kita ? Tunggu tulisan selanjutnya hasil survei mengenai tantangan digital di contact center. Namun jangan lupa ikutan memberikan pendapat dalam survei tersebut, sehingga anda menjadi bagian analisis tersebut. Semoga bermanfaat dan berkenan adanya. (AA)

Optimisme Pedagang Makanan

Dalam kesempatan car free day hari ini, menyempatkan ngobrol dengan rekan-rekan tim Telexindo. Melihat lebih dekat suasana yang ada di ruang terbuka sekitar jalan Thamrin. Berbagai macam kepentingan hadir disana, ada berdagang, ada yang olahraga, ada yang wisata kuliner, ada yang cuci mata, ada yang meminta sumbangan, ada juga yang melakukan survey dan berbagai kegiatan lainnya.

Berjalan sejauh kurang lebih 5 km, tak terasa karena diselingi dengan berbagai perbincangan menarik dan juga kesempatan foto bareng. Banyak cerita dan pengamatan yang dilakukan untuk memberikan makna bagi pengembangan diri dan perusahaan. Ada saja ide yang menarik dijadikan ide, bisa begini atau begitu dengan mengamati yang dilakukan orang lain.

Pernahkah anda mendengar makanan cilok, cilung atau cilor, makanan dengan bahan yang sama. Namun kita tidak akan membahas bahan makanan ini, kita hanya mencoba membahas bagaimana pedagang memiliki optimisme dalam menjual. Coba saja perhatikan, sepanjanh jalan banyak penjual makanan yang menjual berbagai macam jenis makanan.

Apakah semua makanan tersebut habis terjual ? Bagaimana jika tidak habis ? Apakah mereka akan rugi dan berhenti menjual ? Berapa keuntungan yang mereka dapatkan ? Sejumlah pertanyaan coba dijawab untuk mengungkap bagaimana pedagang merencanakan proses penjualan dan menghitung keuntungan yang mungkin mereka peroleh.

Mereka harus menghitung dengan baik supaya semua makanan yang mereka bawa terjual habis. Artinya mereka harus menghitung bahan yang harus buat dan sesuai dengan harga yang mereka akan jual. Jika terlalu kecil atau sedikit, maka pelanggan akan pindah ke gerobak lainnya. Porsi yang mereka jual cukup dengan waktu penjualan selama car free day artinya harus habis sebelum jam 10:00 atau jam 11:00.

Kelihatannya tak ada upaya khusus untuk mengajak pembeli untuk mencoba dagangan mereka. Pembeli datang dan pergi yang tak peduli apa nama gerobak yang menjual dagangan tersebut. Sepertinya sudah ada standar acuan pembuatan makanan, yang menyebabkan pembeli bisa membeli dimana saja dan yakin rasanya hampir sama.

Ada juga gerobak yang cukup terkenal dengan namanya, sehingga menarik minat pelanggan membeli lagi di gerobak tersebut. Berbagai nama penjual makanan yang cukup terkenal hadir di sepanjang trotoar jalan thamrin. Deretan penjual ketoprak dan bakso, berselang-seling di area khusus depan pagar Kementerian BUMN. Warna gerobaknya sama, yang kepikiran adalah apakah makanannya sama ? Jangan-jangan ini cuma satu pemiliknya, sambil memikirkan bagaimana kualitas dari makanan tersebut.

Yang jelas penjual makanan itu, berapapun banyaknya mereka tetap optimis bahwa ada pembeli yang membeli makanan yang dijajakan. Sebuah silap positif yang harus ditiru bahwa optimisme dalam berdagang dibutuhkan untuk membuat kita tetap kreatif dan semangat dalam berusaha.

Mereka yakin pasti ada kalanya kurang beruntung, sehingga pembeli kurang. Ada saja resiko hujan, atau gangguan keamanan yang bisa terjadi. Namun semangat mereka menghadapi tantangan kehidupan membuat mereka bisa berhitung untung rugi dan membuat mereka tetap optimis dalam berjualan. (AA)

Pendidikan dan Pelayanan

pendidikan

Apakah Anda bekerja di contact center karena pendidikan Anda ? Sebagian dari kita tentu bekerja tidak sesuai dengan jenjang pendidikan yang kita telah lalui. Sebaliknya sebagian dari kita bisa jadi diterima di suatu perusahaan karena pendidikan kita. Jika kita perhatikan pada setiap lowongan pekerjaan, ada yang mencantumkan jenjang pendidikan, persyaratan seperti SMU, diploma 3 atau sarjana S1 lazim kita lihat di iklan lowongan.

Yang menarik adalah tertulis “D3 atau S1 semua jurusan”, artinya apapun jalur pendidikan Anda, yang penting Anda D3 atau S1. Dengan demikian hard skill yang Anda pelajari di universitas atau akademi tidak terlalu penting, yang penting Anda punya kemampuan komunikasi. Tidak penting apakah Anda belajar menggambar, belajar perhitungan fisika, atau rumus kimia dan struktur biologi dan berbagai hal lainnya, kalau Anda tidak bisa komunikasi, tidak diterima di contact center.

Apakah kemudian contact center salah jika menerima pelamar dari jurusan pertanian, kehutanan, elektro, mesin, geologi, ilmu gizi atau kimia ? Apakah hanya boleh menerima dari jurusan komunikasi, jurusan bahasa, jurusan hukum atau jurusan sosial lainnya. Bagaimana dengan jurusan manajemen komputer, sistem informatika, desain grafis, atau akuntansi komputer. Walaupun semua itu lebih menonjolkan hard skill dalam proses belajarnya, namun banyak di antara mereka juga menjadi manajer yang baik dalam menjalankan operasional contact center.

Walaupun banyak juga contact center yang membutuhkan keahlian tertentu dalam memberikan pelayanan. Ada yang membutuhkan perawat, ada yang butuh dokter, ada yang butuh ahli komputer, ada yang butuh ahli keuangan dan begitu juga ada yang butuh ahli gizi. Menempatkan contact center dalam kerangka keahlian harus disesuaikan dengan jenis pelayanan yang diberikan. Jika hanya memberikan informasi tertentu di layar komputer, maka hanya menonjolkan kemampuan berbicara. Namun jika sudah mengarah pada kemampuan analisa, konsultasi dan teknis, maka kemampuan hard skill akan dibutuhkan.

Bagi sebagian contact center, mungkin masih menjadi pertanyaan. Berapa banyak di antara kita akhirnya tidak menggunakan hard skill yang kita pelajari bertahun-tahun di bangku kuliah. Mengingat banyak pelayanan di contact center lebih bersifat koordinasi dan aspek penanganan hubungan antar manusia. Sehingga tidak merasakan manfaat mata pelajaran pada saat kuliah.

Padahal mungkin saja semua yang kita pelajari adalah proses untuk membentuk diri kita lebih kreatif atau tahan terhadap berbagai tantangan dalam bekerja. Atau bisa juga berbagai tugas pada saat kuliah membantu kita untuk terlatih menulis dan menganalisa permasalahan dengan sistimatis. Mungkin juga karena waktu kuliah, kita tidak pernah berpikir nanti mau kerja sebagai apa, hanya mengikuti jalur jenjang pendidikan yang ada. Bisa jadi juga kita memilih jurusan hanya yang terasa paling mudah atau yang paling mungkin diterima di perguruan tinggi negeri.

Begitulah, kita tidak mungkin menyalahkan kondisi pendidikan yang telah kita lewati, semua itu toh memberikan pengalaman tersendiri bagi kita yang melewatinya. Ada rangkaian peristiwa yang kita lewati dalam masa kuliah, yang menyebabkan kita mengenal banyak orang. Mengenal karakter dosen atau mengenal karakter lawan jenis atau mengenal karakter rekan-rekan kuliah. Bertemu dengan pasangan kita yang sekarang, atau menemukan seorang sahabat. Bagi yang tidak merasakan dinamika masa kuliah, mungkin akan menyesal. Bukankah begitu ?

Walaupun begitu, ada kalanya kita memikirkan kemana ilmu yang kita pelajari mengenai berbagai ilmu pasti yang ternyata lebih menonjol unsur sosial dalam pekerjaan kita. Dalam dunia contact center yang lebih menonjolkan hubungan antar manusia, sepertinya lebih cocok dilatar belakangi oleh bidang ilmu sosiologi, psikologi dan komunikasi serta manajemen. Lalu kenapa kita mau bergabung dalam industri yang tidak menggunakan ilmu kita. Apakah karena tidak ada pekerjaan yang sesuai dengan ilmu yang kita pelajari ? Atau memang waktu telah merubah arah kita dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Namun bukan berarti terlambat untuk Anda memperdalam kemampuan soft skill, kemampuan yang dibutuhkan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Kemampuan yang membantu Anda untuk mengenal diri sendiri dan proses dalam berinteraksi dengan orang lain. Soft skill yang tentunya sangat bermanfaat dalam pekerjaan contact center, keterampilan berbicara, keterampilan menyimak, keterampilan menjual, keterampilan membangun hubungan (relationship), keterampilan negosiasi, keterampilan pelayanan dan berbagai keterampilan lainnya.

Semua itu dapat dipelajari, namun harus dipraktekkan, sehingga menjadi terampil dan mahir. Mengingat soft skill membutuhkan proses yang membuat kita menjadi paham, terampil dan selanjutnya menjadi mahir. Sangat sedikit di antara kita yang langsung bisa menguasai soft skill tertentu, karena semua itu dipengaruhi oleh penerimaan orang lain. Kita bisa pandai matematika, jika kita bisa menghitung sesuatu dengan rumus tertentu. Namun terampil berbicara hanya bisa terjadi, jika orang lain paham yang kita bicarakan. Itulah perbedaan antara hard skill dan soft skill.

Sebenarnya semua itu juga dipelajari di bangku kuliah, namun kita terkadang tidak menyadarinya. Dengan menganggap bahwa semua mata kuliah dalam bentuk hard skill yang disusun dengan kerangka SKS, padahal proses pembentukan karakter kita adalah interaksi yang kita lakukan dengan orang lain. Untuk itu kita tidak bisa menyalahkan jalur pendidikan yang kita pilih. Begitu juga kita tidak bisa menyalahkan kenapa jumlah SKS hanya berisi berbagai mata pelajaran yang tidak akan berguna dalam pekerjaan.

Daripada memikirkan semua itu, mari kita belajar mengejar ketinggalan kita. Begitu juga mari mengajarkan kepada anak-anak kita betapa keseimbangan dalam belajar hal teknis dan administrasi, harus dibarengi dengan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. (AA).

Cerita Sendal

sendalku

CERITA SENDAL

Kali ini saya ingin membahas mengenai Sandal atau Sendal. Apa yang menarik mengenai sebuah Sendal ? Pernahkah anda melihat bagaimana sebuah Sendal diproduksi ? Dimana Sendal tersebut diproduksi, siapa yang membuatnya ? Kemudian bagaimana perjalanan sebuah Sendal dari mesin produksi sampai ke pelanggan.

Jika anda membeli sebuah Sendal, maka anda akan mencobanya. Berapa banyak orang yang telah mencoba sendal tersebut ? Anda tentunya tidak akan menghitung dan pastinya anda juga tidak mencoba mencari tahu, siapa yang pernah mencobanya sebelum anda.

Ketika anda sudah cocok dengan ukuran Sendal tersebut, akankah anda mengambil ukuran yang cocok tersebut, atau anda akan meminta kemasan yang baru. Contoh Sendal tersebut akan kembali ke rak pajangan dan akan dicoba oleh pelanggan berikutnya. Sampai pada akhirnya Sendal tersebut digantikan oleh model yang baru. Apa yang terjadi kemudian dengan Sendal pajangan tersebut ? Entahlah, bahkan penjaga tokonya juga mungkin tidak tahu.

Diantara sekian banyak Sendal yang telah diproduksi, tentunya ada model yang sama dan diproduksi massal serta digunakan oleh banyak orang. Mungkin anda akan menerka, kapan terakhir anda menemukan Sendal yang sama yang anda gunakan, baik ukuran, warna dan bentuk ? Jika anda tidak pernah menemukannya, apakah anda termasuk salah satu pelanggan yang aneh, sehingga hanya anda yang menggunakan model tersebut. Bisa terjadi, ini hanya kebetulan saja bahwa model yang anda gunakan hanya diproduksi sedikit saja.

Jika anda ke Masjid, apakah anda menggunakan Sendal ? Apakah anda pernah menemukan Sendal yang sama dengan yang anda gunakan ? Bahkan sampai Sendal anda tertukar dengan orang lain, karena orang yang lebih dahulu keluar salah memakai Sendal anda yang lebih baru. Akhirnya anda harus menunggu sampai orang terakhir dan menerima Sendal yang tersisa untuk dipakai pulang. Jika anda mengabaikan dan merelakan, maka anda akan pulang tanpa Sendal.

Ada yang menarik dari sini bahwa walaupun Sendal diproduksi secara massal dan entah berapa banyak. Akan tetapi jarang kita menemukan Sendal yang sama di suatu tempat, misalnya di Masjid atau tempat penitipan Sendal. Sendal yang diproduksi banyak dan kemudian akan tersebar ke seluruh dunia, bisa karena terjual di toko-toko seluruh dunia. Bisa juga karena pembeli datang ke suatu tempat dan membawa pulang sebagai oleh-oleh buat orang terdekatnya. Perusahaan pembuatnya membuat aplikasi untuk mencatat penjualan yang dilakukannya. Namun saya yakin ia tak akan mencatat kemana perginya Sendal tersebut.

Saya yakin bagi sebagian orang bisa mempunyai Sendal 2 atau 3 atau bahkan 100. Diantara sekian banyak Sendal yang dimiliki, tak pernah mereka membeli Sendal yang sama model, warna, dan bahannya. Jikapun membeli model yang sama, kemungkinan akan mencoba dengan warna yang lain. Suatu saat, saya pernah mencoba membawa suatu Sendal dan ingin membeli dengan model dan warna yang sama, tapi penjualnya mengatakan model tersebut tidak diproduksi lagi. Artinya pembuatnya selalu berpikir untuk membuat model-model baru dari waktu ke waktu.

Ternyata Sendal juga mempunya cerita tersendiri. Saya memiliki Sendal yang dipakai pada banyak kesempatan, sehingga banyak rekan yang tahu Sendal tersebut. Warnanya merah berbahan karet, sehingga nyaman di kaki. Sendal ini telah menemani dalam berbagai kegiatan, saya pakai ke Masjid, tanpa kuatir tertukar, karena sangat unik. Saya pakai juga ke mall, biar gampang carinya lelaki dengan Sendal merah. Ada kalanya juga saya pakai ke kantor, bahkan acara sedikit formal juga sempat digunakan.

Kejadiannya adalah pada saat Jambore contact center diadakan, saya sebagai pemimpin upacara. Berhubung sepatu yang seharusnya saya gunakan masih di mobil dan sopir saya sedang pergi agak jauh, sehingga saya tidak sempat mengambil sepatu. Upacara harus berjalan dan jadilah saya menggunakan Sendal tersebut saat memimpin upacara.

Begitulah cerita sebuah Sendal. Apakah anda punya Sendal yang penuh kenangan ? atau Anda punya Sendal yang tidak terpakai lagi ? Daripada Anda jual secara online, yakinlah masih banyak orang yang diluar sana yang membutuhkan Sendal tersebut. Berikanlah secara Gratis. Maukah anda menyubangkannya atau bahkan mau membelikan Sendal baru buat yang membutuhkan. Siapa yang mau ?  (AA)