Big Data, Block Chain, dan Virtual Currency

Big Data, Block Chain, dan Virtual Currency

Pembahasan cukup menarik mengenai Big Data, Block Chain dan Virtual Currency dalam Seminar Contact Center Bank Indonesia bersama beberapa pembicara dari Bank Indonesia, Telkom Indonesia, Komisi Informasi dan Ebdesk Indonesia. Acara yang dihadiri oleh kalangan contact center Indonesia, cukup menarik minat peserta untuk menyimak sampai akhir.

Sesi pembahasan pertama adalah mengenai virtual currency yang dibawakan oleh Yosamartha, Asisten Direktur Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran Bank Indonesia. Beliau memaparkan secara detail bagaimana perkembangan penggunaan virtual currency dan hubungannya dengan teknologi block chain.

Yosa juga menggambarkan contoh penggunaan virtual currency yang merupakan mata uang yang tidak disertai dengan underlined asset yang jelas. Bahkan ia mencontohkan, jika anda mempunyai uang bitcoin (salah satu virtual currency), maka anda tidak bisa menukarkan dengan uang tunai. Namun jika anda mau membeli bitcoin, maka banyak yang menyediakan. Untuk itu diharapkan masyarakat berhati-hati dalam menyikapinya.

Dengan sejumlah resiko dan fluktuasi nilai yang tidak bisa diprediksi, apalagi nilainya bisa melonjak lebih dari 300 persen, maka menurut Yosa ini dapat dikategorisasikan sebagai investasi bodong. Dengan demikian pemilik virtual currency tidak dapat dijamin nilainya, semua itu merupakan resiko pribadi. Menginagt virtual currency tidak ada negara yang menjaminnya.

Bitcoin menggunakan teknologi yang namanya blockchain yang saling menghubungkan berbagai perangkat yang saling terhubung, yang memungkinkan untuk mencatat transaksinyang dilakukan secara tersebar. Jika melakukan transaksi blockchain, maka proses pencatatan yang dilakukan di suatu payment gateway, secara otomatis akan membutuhkan verifikasi dari device lain yang menyatakan terjadinya transaksi. Semua itu akan tersebar dalam semua jaringan yang ada.

Memang Yosamartha mengatakan bahwa konsep blockchain tidak mudah untuk membahasnya. Namun ia menekankan bahwa penerapannya bisa dalam berbagai hal. Yang diproteksi oleh Bank Indonesia saat ini adalah proses penggunaan untuk transaksi pembayaran. Dengan demikian semua Bank di Indonesia dilarang untuk menggunakannya sebagai alat pembayaran yang sah.

Tak kalah menariknya pada sesi diskusi panel yang membahas mengenai bigdata. Pada dasarnya ada 3 pembicara, namun hanya 2 yang membahas mengenai bigdata. Rudwan Prasetyarto dari Ebdesk mencoba memaparkan bagaimana wujud bigdata. Ridwan mencoba menampilkan apa yang dilakukan oleh ratusan server dalam mengidentifikasi dan mengelola hubungan suatu informasi.

Hal yang sama disampaikan oleh Komang Budi Aryasa, Deputy EGM Divisi Digital Service Telkom Indonesia. Komang menegaskan prinsip dasar bigdata, bukan pada banyaknya data, namun pada strukturnya. Data yang tertabulasi dalam jumlah yang banyak bisa dikatakan small data, karena mudah dilaporkan.

Bagi Komang, bigdata artinya data itu tidak terstruktur dan tersebar dalam berbagai format, dan dibutuhkan upaya untuk melakukan interkoneksi antara data, sehingga menjadi informasi yang akurat. Bisa saja data itu berupa gambar atau foto, video, tulisan, bisa berupa status facebook, twitter, email, chat, dan berbagai media lainnya.

Pada intinya, informasi dan teknologi berkembang dengan pesatnya, dan kita harus mencari value dari informasi tersebut sehingga dirasakan manfaatnya. Demikian pemaparan dari Komang, sekaligus menjadi kesimpulan penting dari pengelolaan big data. (AA)

Buka Yang Tertutup

Keterbukaan Informasi Publik : Buka Yang Tertutup

Ini kata kunci yang disampaikan Gede Narayana, Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat, bahwa salah satu tugas utama dari Komisi Informasi Pusat adalah membuka informasi yang selama ini tertutup. Hal ini dipaparkan Made sebagai salah satu panelis dalam Seminar Contact Center di Bank Indonesia.

Acara Seminar yang berlangsung di salah satu ruangan bersejarah di gedung Kebun Sirih, Bank Indonesia dan dihadiri oleh berbagai kalangan praktisi contact center Indonesia. Tidak kurang dari 70 perusahaan yang hadir dengan hampir 200 peserta. Acara Seminar dibuka oleh Agusman, Direktur Eksekutif Departmen Komunikasi Bank Indonesia, serta Andi Anugrah, Chairman Indonesia Contact Center Association (ICCA).

Lebih lanjut, Gede mengungkapkan bahwa dengan mengacu pada UU Keterbukaan Informasi Publik, setiap Badan Publik atau Lembaga yang menyelenggarakan Yudikatif, Eksekutif dan Legislatif harus menyampaikan informasi yang tidak dikecualikan. Dalam hal ini termasuk BUMN, lembaga yang dibiayai negara atau mendapatkan bantuan luar negeri serta sumbangan masyarakat.

Informasi yang harus disediakan adalah informasi yang bersifat tersedia setiap saat, tersedia serta merta dan sesuai permintaan. Yang dikecualikan harus ditetapkan sebagai informasi yang tidak tersedia untuk publik yang disertai alasan yang jelas sesuai dengan ketentuan UU KIP.

Jika tidak, tentunya berpotensi untuk menjadi sengketa informasi. Publik berhak melaporkan lembaga publik yang tidak bersedia memberikan informasi kepada KIP. Hal ini menuntut setiap lembaga publik untuk menyusun Daftar Klasifikasi Informasi, yang digunakan sebagai acuan dalam menyediakan informasi.

Setiap permohonan informasi harus dapat tercatat, sehingga dapat dilaporkan atau dijadikan acuan pelaksanaan KIP. Informasi dapat disampaikan dalam bentuk website atau tertulis, dan lembaga publik harus memastikan bahwa informasi yang disediakan pada website adalah informasi terbaru dan akurat.

Peranan ini yang dapat dilakukan dengan contact center, yang menyediakan informasi berdasarkan permintaan atau secara proaktif menyebarkan informasi. Penggunaan berbagai media komunikasi seperti telepon, email, chat, website atau sosial media bahkan robot memungkinkan untuk menyediakan berbagai klarifikasi informasi.

Dalam kesempatan ini juga, Gede Narayana, menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia yang telah mempelopori penyusunan Daftar Klasifikasi Informasi dengan baik. Sekaligus mengelola Layanan Informasi Publik dengan puluhan ribu klasifikasi informasi yang telah ditetapkan.

(AA)

Permainan Tukaran Kado

Permainan Tukaran Kado

Biasanya setiap akhir tahun, Telexindo mengadakan acara tukaran kado. Setiap karyawan diminta membawa kado dalam bungkusan kertas koran. Kemudian kado tersebut dikumpulkan dan diberikan nomor undian. Setiap karyawan akan mendapatkan kesempatan pengundian sesuai dengan nomor yang sudah disiapkan pantia.

Berdasarkan nomor yang diterima, maka karyawan akan mendapatkan hadiahnya sesuai nomor yang ada pada kado. Setelah itu ada acara ramai-ramai membuka kado secara bersamaan. Ada yang senang dapat hadiahnya dan ada juga yang lebih tertarik dengan hadiah dari orang lain. Tak lupa foto-foto dan makan bersama.

Namun kali ini panitia melakukan perubahan kegiatan tukaran kado. Setiap karyawan tetap diberikan nomor undian, namun nomor tersebut adalah nomor urut mengambil hadiah. Kado yang dikumpulkan juga tidak diberikan nomor, karena karyawan boleh memilih bungkusan yang diinginkan. Pastinya yang punya nomor awal lebih berkesempatan memilih hadiah yang lebih bagus.

Oh, ternyata tidak. Permainannya adalah urutan selanjutnya boleh mengambil hadiah yang dibuka peserta sebelumnya, jika ia menyukainya. Begitu peserta lain menyukai kado yang sudah dibuka oleh peserta sebelumnya, maka ia harus mengambil lagi kado yang baru. Bisa juga ia meminta kado orang lain. Begitu seterusnya sampai semua mendapatkan giliran mengambil kado.

Kado hanya boleh diminta orang berbeda sebanyak 2 kali, sehingga jika seseorang meminta kado yang sudah dibuka oleh karyawan lainnya. Kado tersebut masih bisa berpindah tangan 1 kali. Selama masih 1 kali berpidah tangan, maka siapapun boleh meminta kado yang ada ditangan. Kadang-kadang karena ia suka kadonya, maka ia sembunyikan. Tetap saja ada yang mengincar kado yang disembunyikan.

Tak boleh ada yang menolak, jika kadonya diminta oleh orang lain. Itulah makna saling memberi dan tak ada ego untuk memiliki sesuatu hanya untuk kepentingan diri sendiri. Semua senang dengan pilihan hadiah yang didapatkan, bahkan ada mendapatkan hadiah yang lebih mahal.

Coba tebak, apa saja kado yang dibawa karyawan. Biasanya yang dibawa adalah tempat minum, gelas, tempat makan, sendok garpu, atau peralatan yang biasanya mereka gunakan makan dan minum di kantor. Kali ini ada juga yang memberikan sandal, bantal, sandaran kepala, cermin, senter dan handuk. Masih ada yang lainnya, yang entah apa namanya, yang jelas bermanfaat.

Begitulah Telexindo merangkai kebersamaan diakhir periode tahun buku 2017. Ada saja kejutan yang dapat dirasakan oleh karyawan, walaupun dengan hidangan sederhana di ruang teras belakang kantor. Semua menjadi indah, jika dinikmati bersama dalam suasana yang gembira. (AA)

Sembilan hari di Delapan Bandara

Sembilan hari di Delapan Bandara

Mendapatkan tugas sebagai pengamat pada salah satu perusahaan dan memberikan rekomendasi sudah sering dilakukan. Namun kali ini harus menjalankan perjalanan yang cukup menantang, dan melewati 8 bandara dalam 9 hari. Bahkan kami harus menggunakan jasa penerbangan dari 5 Airlines dengan tipe pesawat berbeda.

Tentunya tugasnya bukan untuk menjadi pengamat bandara, akan tetapi sebagai mystery shopper pada bandara tersebut. Ah salah, pasti anda menebak pekerjaannya merupakan proyek dari perusahan bandara itu. Nah, bukan begitu maksudnya. Saya hanya menjadi penikmat dari fasilitas bandara yang saya kunjungi. Pekerjaan yang kami lakukan adalah melakukan analisis pada pelayanan contact center.

Perjalanan dimulai dari bandara Halim Perdanakusuma Jakarta dengan tujuan ke Semarang. Menikmati proses yang berlangsung pada bandara yang terasa sempit jika dibandingkan dengan Bandara Soekarna Hatta. Namun ini menjadi pilihan karena lebih dekat dari rumah dan kantor. Yang jelas ada jadwal pesawat yang pas dengan jadwal kami.

Bandaranya terasa penuh dengan banyaknya penumpang yang terasa tak tertampung dengan semakin meningkatnya frekuensi penerbangan dari bandara ini. Antrian kendaraan yang masuk dan keluar tak dapat dihindari, begitu juga antrian masuk area check in. Begitu juga ketika kita masuk ke area menunggu, tampak sekumpulan penumpang yang menunggu karena pesawat delay. Akan sulit kita menemukan bangku kosong, dan agak sedikit kurang nyaman, karena jarak antara tempat duduk sangat dekat.

Yang menarik tentunya dari bandara ini adalah fasilitas self check in yang memudahkan untuk yang tidak bawa bagasi. Begitu juga fasilitas makan dengan sejumlah restoran dan cafe cukup memadai. Bahkan di ruang tunggu yang sempit, masih ada beberapa cafe yang memakan tempat yang cukup luas.

Penerbangan kali ini menggunakan pesawat Citilink dan saya akan bercerita mengenai airlines yang kami gunakan selama perjalanan ini dalam tulisan terpisah. Penerbangan yang singkat ke Semarang dan kami tiba di Bandara Adi Sucipto Semarang.

Berhubung ada bagasi, maka kami harus menunggu proses pengambilan bagasi. Memperhatikan ruang pengambilan bagasi tentunya yang pernah ke bandara ini, akan merasa ruang tunggunya agak sempit. Suasananya agak mirip dengan Bandara Halim, bahkan mungkin Halim masih lebih baik. Kalau tidak salah hanya ada satu ban berjalan yang tersedia, sehingga tidak dapat membayangkan jika banyak pesawat yang datang.

Yang menarik dari bandara ini adalah pengumuman yang dilakukan dalam Bahasa Jawa, selain Bahasa Indonesia dan English. Bagi orang luar Jawa seperti saya yang tidak mengerti, mungkin saja menjadi menarik gaya penyampaiannya, walaupun agak aneh. Beberapa pojok dibuat untuk mengabadikan diri, belum menarik minat saya untuk ber selfi ria. Maklum dalam kondisi botak, kurang layak untuk dipamerkan.

Tak lama di bandara, karena tugas sudah menanti. Kami segera mengambil taxi bandara yang tersedia. Sangat cepat prosesnya, tak ada antrian di counter atau tak ada tenaga penjual yang teriak menawarkan jasa taxinya. Kali ini kami tidak menggunakan fasilitas online car seperti go-car atau grab car.

Hari berikutnya kami bergegas ke bandara untuk menuju penerbangan selanjutnya ke Surabaya. Tentunya yang kami tuju adalah Bandara Juanda. Suasana bandara ini berbeda dengan ruangan pengambilan bagasi yang jauh lebih luas. Tampak diujung ada deretan tenaga penjual layanan taxi yang berebut penumpang. Kami tentunya memilih salah satunya, karena sudah agak larut dan kami harus istirahat untuk jadwal kerja esoknya.

Setelah menyelesaikan tugas seharian, kami bergegas kembali ke Bandara Juanda. Kali ini proses pemeriksaan agak ketat dan melalui beberapa tahapan pemeriksaan. Kebetulan kami juga melakukan kunjungan ke salah satu contact center yang ada di bandara ini. Jadi kami harus melewati pemeriksaan tambahan 2 kali.

Yang berkesan tentunya adalah makanan di bandara, karena pada saat datang tadi malam kami makan di sini. Pada saat berangkat kami kembali mencoba salah satu makanan di sana. Tak ketinggalan kami mencoba mantau dengan ayam lada hitam. Mungkin karena lapar jadi terasa enak, atau memang enak rasanya. Entahlah, yang jelas saya mau membeli lagi.

Perjalanan selanjutnya ke Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar. Sebetulnya bandara ini terletak di kota Maros atau mungkin perbatasan antara Maros dan Makassar. Sama halnya dengan Bandara Soekarno Hatta yang berada di Tangerang, tapi tetap di tuliskan di Jakarta. Saya kira ini hanya untuk memudahkan, sebagai ibukota negara atau ibukota provinsi.

Datang tengah malam, jadi tak banyak yang kami perhatikan di bandara ini. Walaupun saya beberapa kali mendarat di bandara ini, jika pulang kampung halaman. Jadi saya tidak mau banyak komentar terhadap bandara ini. Bergegas kami mengambil taxi bandara yang sudah lebih teratur dibanding sebelumnya.

Besoknya kami melaksanakan pekerjaan dan agak santai karena kami akan berangkat ke Balikpapan hari berikutnya. Kami masih sempat menikmati ikan bakar khas Makassar dan juga berbelanja tambahan pakaian. Jadwal pekerjaan menuntut kami melanjutkan ke beberapa kota dan tak dapat kembali ke Jakarta, sesuai jadwal semula.

Melewati 2 malam di Makassar, kami melanjutkan ke Balikpapan dengan bandaranya yang baru dan bagus yaitu Sepingan. Tiba pagi hari di bandara ini, kami perhatikan ada Supermaket dan Departemen Store di bandara ini. Kayaknya next time kalau mau ke Balikpapan bisa beli baju disini, jika kekurangan baju.

Sebagai bandara yang baru, ada 1 counter pelayanan taxi, dengan petugas yang berbusana daerah dan kami mencobanya. Hanya Rp 70 ribu untuk sekali jalan, sayangnya kami salah jalan, jadi kami harus membayar 2 kali lipat. Berhubung ada 2 lokasi yang di kota ini, maka kami salah dalam memberikan petunjuk. Beruntung tidak macet, sehingga kami bisa tiba dengan cepat.

Hanya semalam di Balikpapan dan kami menuju ke Medan. Kali ini penerbangan harus transit di Jakarta. Bandara yang kami tuju tentunya Soekarno Hatta dan lanjut ke Kuala Namu. Penerbangan 2 jam dari Balikpapan ke Jakarta dan lanjut 2 jam lagi ke Medan. Transit di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta memang tidak mudah, karena jarak antara gate bisa sangat jauh.

Ada fasilitas angkutan golf car yang bisa digunakan, akan tetapi hanya mengambil penumpang di titik yang ditentukan. Jadi yang terlanjur jalan, tidak bisa menghentikan mobil penumpang yang lewat. Saya coba menghentikan salah satu, tapi mereka tidak mau, saya pikir mungkin sudah ketentuannya begitu, sehingga saya meneruskan jalan melewati lorong yang panjang.

Tiba malam hari di Kuala Namu, kami memutuskan menginap di hotel dekat bandara. Bandara Kuala Namu yang baru dan bagus, tertata dengan rapi. Tidak sulit untuk menemukan taxi di bandara ini, bahkan petugasnya cukup membantu kami untuk mendapatkan taxi yang diharapkan.

Setelah menginap dua malam di Medan, pagi hari kami melanjutkan penerbangan ke Palembang. Bandara yang dituju tentunya Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Tak banyak yang kami perhatikan di bandara ini, maklum sudah melewati beberapa hari yang cukup melelahkan. Rasanya tak ada waktu menikmati bandara, hanya jadi tempat numpang lewat.

Hanya semalam di Palembang, banyaknya pembangunan disana sehingga kemacetan banyak terjadi. Kami memutuskan tidak kemana-mana, hanya menikmati makan malam dengan ikan pindang khas palembang. Tentunya kami juga menikmati hidangan empek-empek yang disediakan tuan rumah.

Rasanya kangen pulang ke rumah setelah perjalanan 9 hari yang melelahkan. Kami kembali melewati Bandara Halim, karena lebih mudah kembali ke rumah. Tiba di Bandara Halim, kami mencoba mencari online taxi, salah satu menggunakan grab car, sedangkan saya mencoba go-car. Cukup mudah menemukan diantara padatnya kendaraan malam itu. (AA)