Cerita dari Gate D3

Jam demi jam berlalu dan semua anggota tim benchmarking kelihatannya sudah kelelahan menunggu, dan menunggu janji dari pihak JetStar. Mereka ada yang dari jam 2 pagi menuju bandara, bahkan ada yang datang dari kemarin.

Seharusnya kami sudah berangkat jam 6:45 sesuai jadwal, sehingga bisa melaksanakan benchmarking ke Verizon Singapore. Namun entah apa yang terjadi dengan pesawatnya, kami harus menunggu untuk diberangkatkan jam 9:45.

Dengan penuh harap ada kepastian diberangkatkan jam 9:45, kami dipersilahkan untuk sarapan yang diatur dgn baik oleh pihak Travel. Duh, lega sejenak.

Mendekati jam 9:30 kami kembali ke Gate D3, dengan penuh harap sudah ada kepastian. Ternyata satu per satu penumpang dipanggil, yang tersisa hanya group kami. Pasrah, kata petugasnya, yang group tidak diprioritaskan. Padahal diawalnya kami jadi urutan nomor 1-32 org yang ada dalam daftar 70 kursi kosong yang akan berangkat duluan. Sialan petugasnya, ngatur seenak, tidak mau diomelin oleh penumpang individual, jadi dikorbankan group.

Berdebat sana-sini tak ada artinya, petugasnya hanya jadi bumper, karena katanya pihak airlines JetStar yang atur dan semuanya ada di Singapore. Menurut petugasnya, mereka sudah lama mengalami hal yang sama. Tak ada kompensasi ataupun sekedar air minum. Setelah protes sana-sini datang petugas dari Bandara, dan hanya geleng-geleng kepala. Tak ada tanggapan dan solusi. Hanya komentar, memang JetStar selalu begini. Ha ha ha … Mereka sudah tahu rupanya.

Sambil menunggu jadwal berikutnya yang diberikan adalah jam 12:55 pasti datang, katanya. Sudah ada bukti emailnya. Pesawatnya delay dari Perth, kami sudah nggak peduli pesawatnya dari mana. Yang jelas minta kepastian saja, ada atau tidak. Petugasnya tidak bisa menjamin, semuanya dikendalikan dari Singapore. Pokoknya kami diminta bersabar saja. Ilmu customer service diterapkan dengan seenaknya …

Karena delay sampai jam 12:45, kami tentunya nuntut ada makan siang. Dan ternyata harus berdebat untuk mendapatkan jatah makan siang, oh … Tega benar. Yah, sudahlah. Panjang perdebatannya, kayaknya menguras tenaga dan membuat lapar juga … dan ternyata mereka sadar juga, mengirimkan Hoka2 bento dan Air Mineral. Lumayan, dari pada bolak-balik keluar hanya untuk makan siang.

Dan saat email ini ditulis jam 13:40, pesawat yang sedianya dijanjikan jam 12:55 tak nampak batang hidungnya. Bahkan petugasnya yg menjanjikan, juga sudah hilang, tak kelihatan batang hidungnya. Hanya crewnya yang cuma bisa jawab, kita tidak tahu. Hmmm … ilmu dari mana itu.

Wah, sudahlah tobat pakai airines ini. Saya tidak tahu berapa kerugian yang dialami oleh pihak Travel untuk merecover hal ini. Namun semoga ada jalan keluar yang lebih baik.

Karena terpaksa kami harus mengganti pesawat jadinya pakai Garuda Indonesia. Ayo, Garuda, kami ternyata memang harus berharap padamu.

Sebuah kenangan manis di Gate D3 bandara Soekarno Hatta. Semoga tidak terjadi yang berikutnya. Dan tolong pihak Bandara / Angkasa Pura melarang airlines yang tidak bertanggungjawab seperti ini untuk mendarat di Indonesia. Terlalu banyak airline yang masih mau memberikan pelayanan lebih baik. Jangan jadi alasan, harga tiketnya murah jadi pelayanan seperti ini.

Semoga ada yang mendengar dan bisa melakukan perbaikan. Kalau cuma mendengar banyak, tapi yang mau melakukan perbaikan sedikit.

Salam hangat dari Gate D3.

Regards,

Andi Anugrah

+62811944345

powered by Telkomsel BlackBerry®