Cerita seputar kita – part 1

Banyak yang hadir disekeliling kita, silih berganti, saya coba amati dalam seharian saya di rumah.
Pagi-pagi pengantar koran datang dengan motornya, masih baru, orangnya masih muda dengan bersemangat dia melempar koran ke teras rumah. Masih terlipat rapi, saya kemudian mengambil dan membaca headline-nya.
Sebentar kemudian hadir tukang sayur yang pertama, disusul yang kedua.
Ada juga pengantar roti yang menggunakan mobil. Biasanya anak saya yang sulung suka membelinya, karena dia paling suka makan roti.
Tak lama setelah itu datang mobil penjemput, yang mengantar sekolah anak saya yang masih SD.
Terkadang juga sebelum jemputan datang, ada lagi beberapa pengantar majalah, kali ini ada yang antar majalah buat isteri saya dan ada juga buat anak-anak.
Kami memang punya beberapa pengantar koran dan majalah yang berbeda. Bagi-bagi rejeki, jadi tidak borong dari satu vendor.

Cerita sedikit mengenai pengantar koran yang paling pagi tadi. Saya sudah berlangganan koran dengan loper ini sejak tahun 1996, seumuran dengan anak saya yang pertama. Dan kalau dihitung saya sudah menghabiskan lebih dari 144 bulan berlangganan koran pada loper yang sama.
Dengan loper koran ini, silah berganti orang suruhan yang mengirimkan korannya, bahkan pada saat saya harus berpindah rumah yang kesekian kalinya, loper ini tetap bisa menemukan rumah saya. He he he …
Terakhir kali ketemu beberapa minggu yang lalu, pemiliknya sudah terlihat tua, dengan mengendari motor bututnya, dia biasanya mampir hanya untuk menagih. Jika saya sempat ketemu biasanya saya ajak ngobrol mengenai bisnisnya.
Ceritanya banyak mengenai bagaimana sulitnya mengelola lapak koran, berapa banyak lapak koran yang telah dibukanya dan berapa banyak yang sudah digusur.
Tapi dia tidak menyerah dengan semua itu. Pikirannya hanya bagaimana supaya dia bisa hidup, mempekerjakan anak-anak dan menghidupi mereka serta menunjang sekolahnya.
Waktu saya ingin membuat majalah juga, dia sempat menjadi tempat untuk mengenal bagaimana mengelola distribusi majalah. Majalah apa yang lebih disukai, bagaimana menentukan harga, dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan penghasilan mereka? Sebenarnya, kalau saya hitung, dengan harga koran perbulan, kalau tidak salah 18ribu diawal tahun 1996 dan sekarang sudah menjadi 85ribu atau anggaplah dengan rata-rata 20ribu keuntungan, maka saya baru menyumbang 144x20ribu atau hampir 2,8 juta selama kurun waktu 12 tahun.
Begitulah bisa dikatakan sedikit, tergantung dari anda menilainya.

Walapun begitu, mari coba kita hitung lagi berapa sih penghasil loper koran ini, jika dia bisa mengantar koran untuk 100 s/d 200 pelanggan per hari, maka kemungkinan penghasilannya antara 2-4juta perbulan. Jika di potong untuk ongkos antar dengan 30% dari nilainya, maka tersisa antara 1,4 – 2,8 juta berarti loper korannya akan mendapat 600ribu – 1,2jt. Wow, lumayanlah jika jam kerjanya hanya sekitar 3 jam dipagi hari.

Bukan berarti bahwa hanya satu orang yang mengantar koran selama kurun wakru itu. Karena tak kurang dari 6 anak yang silih berganti selama kurun waktu itu yang rajin mengantar koran ke rumah saya. Salah seorang dari mereka bahkan sudah kuliah dari hasil mengantar korannya.

Bahkan jika hujan pun, koran tetap diantar, untuk menghindari koran basah biasanya dibungkus plastik, cukup kreatif juga. Walaupun dia harus mengeluarkan biaya untuk membungkusnya, apalagi saya yakin jika sebulan saja musim hujan, cukup mahal juga tambahan biaya plastiknya.
Pernah sih, kepikir bagaimana jika plastiknya dikembalikan saja, jadi bisa dipakai dihari berikutnya. Tapi cuma kepikiran doang, ternyata sulit dilaksanakan, biasanya plastiknya langsung rusak dikucek-kucek. Yah, sudahlah, anggap saja itu sudah diperhitungkan sebagai biaya.

Dan menurut saya, dia juga biasanya mendapatkan pekejaan tambahan sebagai direct marketing, maksudnya penyebar brosur. Dalam lipatan koran biasanya ada sisipan brosur produk tertentu. Mulai dari produk perumahan, antena TV, pinjaman bank dan macam-macam deh. Saya yakin dia mendapatkan uang juga dari kegiatan itu, semoga !

Yah, begitu perjuangan orang disekeliling kita. Cerita ini akan bersampung dengan profil lainnya. Nantikan … Semoga saya mampu untuk menuliskannya. (**)

Regards, Andi Anugrah

Sent from my BlackBerry® powered by Telexindo