Cerita seputar kita – part 2

Cerita Seputar Kita
Bagian kedua

Sebagaimana niat saya sebelumnya untuk tetap menulis, berikut cerita lanjutan dari orang-orang diseputar kita. Mungkin juga anda menjumpainya, coba perhatikan upaya mereka … tidak perlu memberi uang, tapi belilah hasil jerih payahnya. Walaupun sedikit, mungkin itu bisa membuatnya bahagia.

Cerita hari ini, masih seputar pengantar koran dan majalah. Sebagaimana cerita saya sebelumnya, kami memiliki beberapa pengantar majalah yang sering datang ke rumah. Maklum isteri dan anak-anak suka membaca, mereka adalah sebagian dari pengantar majalah yang patut ditulis ketegarannya.

Yang pertama, kami panggil saja, pak tua, memang usianya sudah tua, mungkin seumuran dengan bapak saya yang sudah berumur lebih dari 60 tahun. Tapi dia masih bersemangat, dengan menggunakan sepeda, dia mengantar beberapa lembar koran kepada pelanggannya. Kelihatannya jangakuannya cukup luas juga karena pernah juga saya temui sedang mengayuh sepedanya beberapa kilometer dari komplex kami.

Menurut ceritanya, pak tua ini adalah dulunya seorang yang mempunyai bisnis sendiri dan karena krisis moneter tahun 1998, usahanya bangkrut dan ditinggalkan oleh semua keluarganya. Tinggallah dia berjuang untuk mengisi hidup dengan berjualan majalah. Entah benar atau tidak ceritanya, tapi anggap saja benar, toh nggak ada ruginya.

Saya tidak mau mengungkit apa bisnisnya dulu, takut tersinggung atau mengungkit kenangan masa lalunya. Dengan mengandalkan jualan koran ini, memang dia merasa bisa menghidupi dirinya. Dia tidak mengatakan lagi tinggal dengan siapa, yang jelas dia mampu menghidupi dirinya.

Kalau perhatikan tumpukan majalah atau koran disepedanya, kelihatannya dia juga tidak bisa menjual banyak dalam sehari. Paling beberapa lembar majalah, tapi begitulah ! Kenyataannya dia merasa mampu untuk menghidupi dirinya dari hari ke hari. Dan buktinya dia masih mampir di rumah kami, walaupun tidak setiap hari, tapi setiap minggu masih datang.

Terkadang membeli majalahnya bukan lagi karena mau membaca, tapi karena kasihan. Ada saja majalah yang diantar ke rumah setiap minggu, mulai dari majalah bobo sampai dengan femina atau tabloit kesehatan. Macam-macam deh, jadinya rumah layaknya tempat tumpukan koran dan majalah. Kadang kesel juga sih, kalau sudah numpuk, tapi pas anak-anak butuh gambar sesuatu untuk PRnya, baru deh tumpukan koran dan majalah itu bermanfaat.

Lain lagi gaya pengantar majalah yang satunya, dia sebenarnya penjual majalah di sekolah anak saya. Berhubung isteri kadang menunggu anak sekolah, maka dia sering baca majalah disitu. Yah, mungkin karena nggak enak baca doang, maka beli deh. Jadinya, jika isteri nggak ke sekolah, dia antar ke rumah majalahnya.
Saya bilang ada saja usaha orang untuk memaksa kita membeli. Terkadang memang seperti memaksa, tapi karena kasihan juga, yah akhirnya dibeli. Memang sih, kalau sudah dibeli tumpukan majalah itu akan dilahap habis oleh isteri saya.
Nggak tahu, bagaimana caranya dia menampung semua informasi itu. Pernah juga saya usulkan untuk membaca saja di internet, tapi dia nggak mau. Soalnya malas buka komputer. He he he …. Yah sudah dinikmati saja.

Sebenarnya pengantar majalah ini, orangnya masih muda, dan dari gayanya memang suka berbaik hati dengan pelanggan. Menurut isteri, memang di sekolah, banyak ibu-ibu yang suka baca saja ditempat dia, tapi nggak pernah beli. Paling juga kalau ada yang beli dibagi untuk yang lain-lain, jadi satu majalah dibaca oleh sekian banyak orang. Itupun setelah membaca majalah lainnya. Si Buyung ini, begitu namanya, akhir menjadi kayak perpustakaan sekolah saja. He he he … Ada-ada saja !

Ketegaran mereka menginspirasi untuk memberikan yang terbaik, termasuk berbagi dalam tulisan ini. Tak sanggup berbagi uang dengan anda semua … cukuplah tulisan yang dibagi. Semoga berkenan !

(**)

Regards, Andi Anugrah

Sent from my BlackBerry® powered by Telexindo