Chat Komunikasi Pelayanan

Perkembangan media telekomunikasi banyak merubah pola komunikasi bisnis dan pelayanan. Coba perhatikan jika dulu kita sering menerima promosi hanya melalui SMS, sekarang lebih banyak kanal promosi termasuk twitter, facebook, path, WhatsApp atau LINE. Begitu juga kebiasaan kita dalam berkomunikasi dengan rekan bisnis, saat ini lebih banyak dilakukan dengan media tertulis, baik melalui whatsapp, telegram ataupun aplikasi lainnya. Seakan lebih mudah mengetikkan sesuatu dibandingkan berbicara lewat telepon.
Jika beberapa tahun yang lalu kegiatan komunikasi masih di dominasi oleh voice call. Dalam periode beberapa tahun belakangan ini didominasi oleh komunikasi tertulis. Dimulai dengan panetrasi yang sangat dominan oleh BBM, perangkat yang memberikan kemudahan untuk mengirimkan pesan tertulis secara gratis. Walaupun sebenarnya tidak gratis, karena kita harus berlangganan paket BlackBerry secara bulanan, mingguan, yang kemudian dikemas dalam harian. Dengan kemudahan yang diberikan, menjadikan BBM sebagai bagian dari umumnya pengguna perangkat telekomunikasi selular.
Salah satu fasilitas BBM yang menarik adalah tersedianya group chat, yang dapat menampung sampai 30 anggota. Hal ini memudahkan untuk mengkomunikasikan berbagai informasi dalam kelompok tertentu, sesuai dengan kepentingannya. Berbagai diskusi atau kegiatan sosial dan promosi juga dilakukan dengan group BBM ini. Perkembangan jumlah pengguna yang sangat cepat didukung oleh perangkat BBM yang semakin variatif dan murah. Namun begitu pertambahan jumlah pelanggan menyebabkan aplikasi ini menjadi lebih lambat dan menimbulkan banyak keluhan.
Pelanggan kemudian mencara berbagai alternatif, hal ini didukung oleh kehadiran iPhone dan Android Phone. Kegelisahan pelanggan dijawab dengan aplikasi LINE, telegram dan WhatsApp yang tersedia untuk lintas platform. Kecepatan pengiriman berita menjadi keunggulan yang ditawarkan, apalagi dengan kondisi jaringan BBM yang cukup mengecewakan. Disamping itu, ketersediaan aplikasi baru juga dengan keunggulan tersediri, seperti bisa melakukan diskusi dengan anggota group yang lebih besar, dan aplikasi tersebut juga bisa mengirimkan gambar yang lucu.
Hal ini juga diikuti oleh dengan perkembangan smart phone berbasis android yang menguasai pasar, dengan berbagai aplikasi yang lebih mudah, murah dan menarik. Tak hanya WhatsApp, LINE, bahkan facebook messenger dan juga twitter digunakan. Termasuk aplikasi seperti path, instagram dan berbagai media social lainnya, digunakan sebagai sarana berkomunikasi. Bahkan kemudian BBM ikut serta dengan menyediakan aplikasi untuk lintas platform, sehingga bisa dipakai secara gratis di Android atau iOS.
Perkembangan tersebut menjadikan persaingan antar penyedia aplikasi chat online saling menawarkan keunggulannya. Setiap aplikasi mempunyai strategi sendiri untuk meningkatkan jumlah pengguna dan mempertahankan pengguna tersebut. Dibalik itu dengan keunggulan jumlah pelanggan yang mereka miliki, maka menjadi daya tawar untuk menyediakan promosi berbayar. Terlihat dari berbagai perusahaan yang kemudian menggunakan LINE dan BBM untuk menawarkan berbagai bentuk promosi.
Kehadiran berbagai bentuk promosi ke perangkat pribadi seseorang tak dapat dihindari, karena ada posisi yang saling membutuhkan. Pengguna membutuhkan aplikasi, sementara pembuat aplikasi juga membutuhkan pemasukan dari iklan. Aplikasi yang digunakan secara gratis, harus ada yang membiayai, dan tentunya berasal dari iklan. Hal ini yang membuat nilai tawar pembuat aplikasi yang bisa leluasa untuk mengirimkan informasi atau promosi.
Terbukanya peluang promosi dimanfaatkan oleh pengguna yang kreatif dengan menawarkan berbagai hal di media komunikasi chat ini. Hubungan yang personal menjadi bagian dari komunikasi publik, bahkan kita seakan tidak bisa membedakan antara komunikasi publik dan pribadi. Lihat saja, ada yang menawarkan makanan, pakaian, jam tangan, tas bahkan lowongan pekerjaan, perjalanan wisata atau pelatihan di group facebbok, BBM, LINE atau WhatsApp. Bahkan ada yang menyampaikan berita pribadi melalui jalur publik, seakan informasi tersebut memang ingin diketahui publik.
Begitulah chat telah merubah pola kita dalam berkomunikasi, apakah kita menjadi lebih banyak berkomunikasi atau menjadi lebih malas berbicara. Semua itu akan berproses untuk adaptasi kebiasaan kita dalam komunikasi, termasuk dalam memberikan pelayanan. (AA)