EFEK SAMPING BUDAYA INSTAN

Akal kecerdasan manusia, pada awalnya, menggagas berbagai penemuan, pemikiran, solusi, teknologi, untuk membantu hidup, yang mana tantangannya semakin komleks, agar menjadi jauh lebih mudah. Kendaraan bermesin dicipta sehingga perjalanan ke berbagai tempat menjadi lebih cepat. Makanan dalam beragam kemasan dijual agar proses komsumsi harian dapat lebih praktis dan tidak merepotkan. Komputer untuk mengatasi kesulitan dalam pengetikan, penyusunan, penggambaran, dan lain – lain. Alat komunikasi mempermudah dua orang atau lebih untuk terkoneksi, meski berjauhan. Internet memberikan kesempatan untuk mengakses informasi lebih update di seluruh belahan dunia. TV menjanjikan hiburan di depan mata di detik ia di nyalakan.

Dunia Yang Dahulu Serba Sulit, Berubah Menjadi Serba Mudah

Di satu sisi, manusia merasakan beberapa keuntungan. Selain keefektifan dan poin efisiensi, situasi dan fasilitas yang terus membaik seiring dengan perkembangan zaman membantu menyelesaikan tugas-tugas dengan lebih baik, lebih banyak pekerjaan yang dapat dilakukan dalam satu waktu, halangan-halangan yang dapat di cari jalan keluarnya dengan kecanggihan teknologi, berlimpahnya pengetahuan, serta membantu manusia mendapatkan sesuatu dengan cepat tanpa harus berjerih payah.

Meski demikian, ada juga efek samping adari budaya instan yang kini kita tumbuh di dalamnya, sebab, kenyamanan-kenyamanan yang diberikan tersaebut, dengan atau tanpa kita sadari, terbentuk pribadi-pribadi sumber daya manusia yang “baru”. Sebagai buktinya, kita mendapati manusia modern lebih sering mementingkan hasil dari proses menuju hasil itu sendiri. “karakter” yang terbentuk dari pembiasaan harian, di mana mereka mendapatkan hal.hal bagus tanpa bersusah payah meraihnya, cenderung berpikir singkat dan “melupakan” proses, tidak terbiasa dengan proses. Situasi tersebut menghasilkan manusia yang temramental, alias cepat atau frustasi bila hasil tidak secepat dan semudah yang biasa didapatkan.

Contoh, orang kota terbiasa mendapatkan air hanya dengan memutar keran di rumah akan lebihcepat emosional ketika hidup di pedesaan, yang untuk mengakses air, mereka harus berjalan jauh menuju sengai, bersusah payah mengangkutnya ke rumah, itupun dalam jumlah yang terbatas. Bila ingin menambah air, harus kembali ke sungai, dan mengangkutnya lagi. Begitu seterusnya.

Kebudayaan instan juga menciptkan karakter-karakter yang malakukan apa saja demi tercapainya keinginan, seperti kaya dengan korupsi, dapat nilai bagus dengan menyontek, ingin cantik dengan operasi plastik, menyerobot antrian agar dilayani duluan, saling serobot mobil di jalanan, dan lain sebagainya. Manusia-manusianya juga menjadi santai, manja, malas kerja keras, dan sulit bersungguh-sungguh.

Pendapat ini didukung Risman Hery, S.Psi,. seorang ahli psikologi, yang berpendapat bahwa budaya kemudahan yang mengelilingi kita hari ini dapat membentuk suatu watak yang tidak memiliki daya juang dikarenakan segalanya serba instan. Yang sangat mengkhawatirkan bahwa situasi ini sangat mempengaruhi para generasi muda yang terhitung cukup banyak mengkomsusmsi layanan teknologi instan. Ironisnya lagi, lanjut Risman, kemudahan-kemudahan tersebut terkadang tidak disesuikan dengan kontrol yang proporsional, baik kontrol diri maupun kontrol sosial. Jika dibiarkan ini akan membeku menjadi suatu karakter diri yang akan berprilaku instan pula pada kehidupan sosial.

untuk itu, penting bagi kita untuk menyadari dan segera membenahi diri bila terdapat mentalitas-mentalitas “instan” dalam diri kita. Sebap, menjalani proses yang berliku, penuh dengan tantangan, menyelesaikannya satu demi satu, bersabar, optimis, itu penting bagi untuk pembentukan manusia dewasa yang siap mengatasi berbagai masalah hidup. Apabila dalam membentuk sesuatu yang berkualitas. Butuh kerja keras dan kegigihan dalam waktu yang panjang.

Memang, tidak seluruhnya produk dan budaya instan itu buruk efeknya, hanya saja kita perlu mengangtisipasi efek negatifnya sadapat mungkin. Belajar menikmati proses akan membentuk kematangan, mampu bersikap, dan mengambil keputusan-keputusan besar. (**)

Sumber : Majalah iC@llCenter Edisi 7 Tahun 2012.