MEMBANGUN SIKAP MENTAL POSITIF

MENGELOLA STRESS SECARA PRODUKTIF
Kesibukan kita di tempat kerja terutama dunia contact center adalah hal yang tidakdapat dihindari bagi para insan contact center, menghadapi sejumlah orang dengan perilaku yang berbeda bukanlah hal yang mudah, rutinitas yang padat ini berpotensi memicu stress pada sebagian orang. Stress adalah respon alamiah tubuh terhadap beban fisik maupun mental yang berlebihan, sebagai konsekuensinya adalah keseimbangan fisik dan emosi yang tidak stabil. Ketidakstabilan emosi sangat berpengaruh terhadap fungsi kognitif yaitu kemampuan berpikir logis dan berperasaan positif, sehingga berdampak buruk terhadap produktivitas.

Meski terdengar kontradiktif, nyatanya banyak dari kejadian penting dan membahagiakan dalam hidup juga berarti stress dan tekanan baru bagi seseorang. Hal-hal yang seharusnya memicu kebahagiaan seperti menikah, mendapatkan pekerjaan baru atau promosi di tempat kerja nyatanya juga dapat memicu stress dan ketidakbahagiaan. Padahal stress yang dipicu oleh hal-hal semacam ini dapat mengganggu sistem imun dan kesehatan seseorang secara menyeluruh. Kenyataan bahwa stress adalah bagian dari hidup, maka perlu teknik mengelolanya sehingga tekanan atau stress tersebut bisa diubah menjadi kekuatan atau power.

Kegagalan dalam mengelola stress dan mengubahnya menjadi power akan mengakibatkan dampak buruk yang signifikan, seperti contohnya kegagalan seorang individu dalam mengelola stress akan menimbulkan kondisi penurunan motivasi dan semangat kerja dan akibatnya adalah menurunnya kinerja. Begitu pula sebaliknya, jika kita mampu mengubah stress dengan efektif maka produktifitas dalam menghadapi tantangan akan meningkat secara signifikan karena begitu suatu kondisi stress dapat diatasi, kita telah memiliki pengalaman dan membuktikan bahwa tantangan yang berat bisa diatasi dan dampaknya akan menjadi positif bagi diri sendiri.

Untuk menyikapi stress secara efektif dan produktif, kita perlu tahu alur yang terjadi ketika seseorang berada di bawah pengaruh stress. Pada dasarnya, stress merupakan salah satu insting dasar dari makhluk hidup atau respon alami dari tubuh kita yang bertujuan untuk menjamin keselamatan dan kelangsungan hidup kita yang sering juga disebut dengan Fight or Flight Response. Yaitu reaksi melawan dan mempertahankan diri ataun melarikan diri ketika kita menghadapi bahaya yang mengancam.

Jika ada bahaya yang mengancam, tubuh kita akan mengeluarkan hormon stress yang disebut Kortisol dan efeknya memunculkan perubahan pada sistem tubuh kita, wajah akan memucat dan pencernaan menjadi lambat karena secara otomatis sebagian besar darah dialokasikan ke tangan dan kaki untuk memberi kekuatan ekstra jika kita harus melawan atau melarikan diri, kemudian untuk tambahan energi, tubuh kita akan meningkatkan detak jantung, pernafasan, tekanan darah dan kadar gula dalam darah, sehingga secara otomatis metabolisme tubuh meningkat dan hasilnya berupa energi yang lebih banyak bagi tubuh untuk mengatasi bahaya tersebut.

Namun sesudah ancaman bahaya tersebut berlalu, tubuh akan mengeluarkan hormon anti stress yang akan membuat seluruh fungsi tubuh kembali ke kondisi normal, detak jantung, pernafasan, tekanan darah, kadar gula, kekentalan darah dan metabolisma akan kembali ke
kondisi semula, fase ini disebut dengan fase relaksasi. Secara alamiah, setiap fight or flight response selalu diikuti oleh fase relaksasi. Tantangannya terutama bagi pekerja yang tinggal di kota besar dengan rutinitas dan kesibukan yang setiap harinya dihujani oleh banyak faktor pemicu stress. Belum sempat sebuah reaksi stress diakhiri oleh proses relaksasi yang alamiah, dimana semua fungsi tubuh dikembalikan ke kondisi normal, sudah muncul lagi stress yang berikutnya. Kondisi tersebut berulang terus sehingga tubuh berada dalam kondisi siaga dalam jangka waktu yang panjang. Akibatnya mekanisme yang bisa mengembalikan tubuh kita ke kondisi normal tidak bisa lagi bekerja dengan efektif.

Faktanya adalah stress juga merupakan sesuatu yang bermanfaat jika kita mempertahankannya pada level yang normal dan produktif. Tanpa stress seseorang berkemungkinan besar akan menjadi malas dan tidak termotivasi sehingga prestasi kerja juga akan menurun. Terkadang sebuah stress yang besar dan dengan intensitas tinggi bisa juga digunakan untuk memunculkan fase relaksasi pada tubuh dan mengembalikan kondisi tubuh yang sudah lama berada dalam kondisi siaga ke kondisi yang normal dan sehat.

Mengelola stress dimulai dari mengidentifikasi sumber stress dalam kehidupan kita. Hal ini tidak mudah karena sumber stress tidak selalu jelas, dan sangat mudah untuk mengabaikan
pikiran, perasaan, dan perilaku yang memicu stress. Untuk mengetahui sumber stress yang sebenarnya, lihat lebih dekat pada kebiasaan, perilaku, serta alasannya. Saat kita menerima tanggung jawab untuk peran dalam menciptakan dan menjaganya, tingkat stress akan tetap dalam kendali. Cara lainnya adalah dengan melihat bagaimana saat ini kita mengelola dan mengatasi stress dalam kehidupan. Apakah strategi penanganan yang dilakukan sehat atau tidak sehat, membantu atau bahkan tidak produktif? Sayangnya, banyak orang mengatasi stress dengan cara yang malah melipatgandakan masalah tersebut.

Cara yang tidak sehat dalam mengatasi stress yang sering tidak kita sadari kita lakukan diantaranya adalah dengan terlalu banyak atau kurang asupan makanan, meluangkan berjam-jam di depan Televisi atau Komputer. Begitu juga menarik diri dari teman-teman, keluarga, dan aktivitas, tidur terlalu banyak, menunda-nunda hal yang harus dilakukan, menghindari masalah, bahkan melampiaskan stress pada orang lain. Jika tak dapat menghindari situasi stress, kita dapat mencoba untuk mengubahnya. Bayangkan hal-hal apa yang dapat diubah agar masalah tersebut tidak muncul di kemudian hari, seringkali hal ini melibatkan perubahan cara kita berkomunikasi dan bekerja dalam kehidupan sehari-hari seperti mengutarakan perasaan daripada memendamnya. Komunikasikan masalah dengan cara terbuka dan bersedialah untuk berkompromi karena ketika kita meminta seseorang untuk mengubah perilakunya, bersedialah untuk melakukan hal yang sama.

Selain itu juga jadilah lebih tegas dengan cara menghadapi masalah langsung, lakukan yang terbaik untukmengantisipasi dan mencegahnya. Pengelolaan waktu yang tidak baik juga dapat menyebabkan banyak stress. Saat itu terjadi akan sangat sulit untuk tetap tenang dan fokus. Jika rencana telah ada sebelumnya dan memastikan tidak bekerja terlalu berat, kita dapat mengubah jumlah stress yang dialami.

successful-washington-dc-professionalKita tidak dapat mencegah atau mengubah penyebab stress seperti penyakit berat, atau resesi ekonomi nasional. Dalam hal seperti itu, cara terbaik mengatasi stress ialah menerima hal tersebut apa adanya. Penerimaan memang tidak mudah, tapi dalam jangka panjang hal tersebut lebih mudah dilakukan daripada memagari situasi yang tak dapat diubah. Jangan coba mengontrol yang tak terkontrol, banyak hal dalam kehidupan kita di luar kendali kita, khususnya perilaku orang lain. Fokuslah pada hal-hal yang dapat dikendalikan seperti cara menanggulangi masalah. Temukan sisi positif ketika menghadapi tantangan utama, coba untuk melihatnya sebagai kesempatan pertumbuhan pribadi. Jika pilihan kita sendiri yang buruk berkontribusi pada situasi stress, belajarlah dari kesalahan. Cara lain adalah dengan membagi perasaan kita kepada teman yang dipercaya. Mengungkapkan apa yang dialami dapat menjadi sangat melegakan, bahkan jika tak ada yang dapat dilakukan untuk mengubah situasi.

Cobalah untuk melihat situasi stress dari perspektif yang lebih positif dengan melihat gambar besarnya dan ambil perspektif lain dari situasi. Tanyakan diri sendiri seberapa penting hal tersebut dalam jangka panjang, Jika jawabannya tidak, maka fokuskan waktu dan energi pada hal yang lain. Perfeksionisme juga merupakan sumber utama stress yang dapat dihindari, hentikan diri dari kekecewaan karena ketidak-sempurnaan dengan cara menetapkan standar yang masuk akal bagi diri sendiri dan orang lain, dan belajar untuk menerima hal yang rasional. Fokuslah pada hal yang positif ketika menghadapi stress, ambil
waktu untuk merefleksikan semua hal yang kita hargai dalam kehidupan dan itu termasuk kualitas positif kita. Strategi sederhana ini akan membantu kita untuk tetap melihat hal-hal dalam perspektif.

Selain pendekatan mengambil-alih dan sikap positif, kita dapat mengurangi stress dalam kehidupan dengan memelihara diri sendiri dengan secara teratur meluangkan waktu untuk relaksasi. Kita akan selalu siap untuk mengatasi penyebab stress ketika secara tak terelakkan datang. Kegiatan lain yang juga dapat kita lakukan untuk menangani stress dan mempertahankannya pada level yang produktif diantaranya adalah dengan berolah raga secara teratur. Aktivitas fisik memegang peran kunci dalam mengurangi dan mencegah dampak stress. Istirahat yang cukup dan memadai akan memberikan tenaga pada pikiran, begitu juga pada tubuh kita. Merasa lelah akan meningkatkan stress karena hal tersebut bisa menyebabkan kita berpikir irasional. Dan yang terakhir adalah dengan mempertahankan pola makan yang baik.

Kegiatan tersebut menyeimbangkan dan menjaga tubuh dari dampak stress ke tubuh kita. Selain fisik, pikiran juga dapat diseimbangkan dengan cara membiasakan sikap mental yang positif, menerapkan manajemen waktu yang efektif, dan yang terakhir adalah memberikan sedikit humor dalam kegiatan sehari-hari. Jadi terapkanlah gaya hidup sehat dan biasakan pemikiran positif, karena stress tidak dapat dihindari namun dapat dimanfaatkan secara positif untuk meningkatkan produktivitas kita di dunia contact center tempat kita bekerja. (FF)

Sumber : iC@llCenter edisi 5 tahun 2015