Menjadi Kontributor Terhadap Bisnis Perusahaan

Edisi 4 : Kolom Majalah

Menjadi Kontributor Terhadap Bisnis Perusahaan
Oleh Andi Anugrah

Suatu minggu pagi yang cerah sambil menonton TV saya update status di BB acara yang sedang saya tonton. Tiba-tiba seorang teman mengirimkan BB message mengenai langganan TV berbayar yang ia kelola. Dengan salam hangat sebagai teman, mengisi obrolan via BB pagi itu, tentunya yang diperbincangkan adalah langganan TV. Tak lupa ia menawarkan untuk berlangganan TV berbayar yang ia kelola, lengkap dengan harga serta paket promosi yang ditawarkan. Berhubung saya sudah berlangganan TV cabel dan internet dari salah satu perovider, sambil mengucapkan terima kasih tentunya tawarannya saya tolak dengan halus dan memuji proses penawaran yang dilakukannya.

Peristiwa yang sama mungkin juga anda pernah alami, tidak sekali ini saja, namun beberapa provider lain juga melakukannya. Jika ditawarkan oleh seorang sales atau telesales, kita sering menghadapinya, bagi di mall atau di rumah serta juga di kantor bahkan lepas sholat jum’at. Namun jika ditawarkan oleh seorang yang tidak terlibat secara langsung dalam sales atau dalam kata lain customer service, apalagi seseorang yang anda kenal baik, agak sulit menolaknya. Itulah tantangan bagi kita sebagai customer, namun coba melihat dari sisi pandang rekan anda tersebut. Mengapa dia sampai berminat untuk menawarkan, walaupun bukan area yang menjadi tanggungjawabnya.

Pastinya ia punya sejumlah alasan, yang tentunya tidak diungkapkan, kecuali saya mencoba menggalinya. Tapi tidak saya lakukan di pagi itu, karena saya yakin waktunya kurang tepat, apalagi saya sedang asyik menonton bersama keluarga. Setelah balik memegang BB saya kembali berpikir atas kejadian tersebut, dan mencoba menganalisa, kenapa seseorang karyawan mau melakukannya. Menawarkan produk yang mereka jual, walaupun bukan tanggungjawabnya untuk menjual.

Suatu kesempatan juga salah seorang karyawan Telexindo yang bertemu dengan temannya dan bertanya mengenai pekerjaannya. Ia menceritakan pekerjaannya dan kegiatan bisnis yang diakukan, tentunya sambil menginformasikan jasa yang ditawarkan Telexindo. Walaupun ia tidak bisa menjelaskan dengan detail, namun telah memberikan satu informasi bermanfaat yang mungkin suatu saat dibutuhkan oleh orang tersebut. Kenapa dia mau melakukannya ? Apakah ia bangga bekerja di Telexindo atau hanya supaya orang lain tahu ia bekerja atau ada faktor lain ?

Sebaliknya tak jarang diantara kita justru tidak mau diketahui dimana bekerja atau bagian apa ? Hanya bersembunyi dibalik kebesaran nama perusahaannya, tanpa bisa menyebutkan apa yang sebenarnya dikerjakan. Kuatir diketahui atau tidak perduli apa arti peranan mereka dalam memberikan awareness mengenai perusahaan kepada orang lain. Hal ini bisa terjadi bagi pekerja contact center, dengan memposisikan diri sebagai “operator telepon”, sehingga memberikan konotasi yang tidak besar peranannya dalam perusahaan.

Bukan artinya kita harus membesar-besarkan atau melebih-lebihkan peranan contact center, namun kita harus mencari titik pemahaman mengenai peranannya dalam bisnis perusahaan kita. Bahkan jika memungkinkan menawarkan produk atau jasa yang dijual oleh perusahaan kita. Pentingnya bagi kita untuk memahami produk yang sedang dipromosikan, sehingga kita tidak hanya berada dalam lingkungan kerja yang terbatas oleh dinding ruangan kita. Perlu melihat secara luas, bergaul dengan sesama pekerja dan menjadi bekal bagi kita untuk berkomunikasi dengan pihak lain.

Dengan cara itu kita bisa menjadi kontributor bagi pengembangan bisnis perusahaan. Semakin banyak yang melakukannya, maka semakin banyak akan terlibat dalam menciptakan keterikatan dan pengalaman baru dalam proses penjualan. Citra perusahaan akan lebih baik, motivasi dan ikatan kerja lebih baik, hasilnya akan kembali pada bisnis perusahaan. Tentunya semoga akan kembali dalam penghasilan yang lebih besar serta kelangsungan kerja yang lebih lama. (**)

Leave a Reply