Nilai Sebuah Usaha

Kolom Majalah : Nilai Sebuah Usaha

Tahukah Anda bagaimana latar belakang pendiri WhatsApp, sebelum dibeli facebook ? Mungkin sebagian besar dari kita tidak tahu dan tidak mau tahu. Seorang Jan Koun, pendiri WhatsApp, lahir dan besar di Ukraina dari keluarga yang relatif miskin. Saat usia 16 tahun ia nekat pindah ke Amerika, demi mengejar apa yang kita kenal sebagai “American Dream”. Di usia 17 tahun, ia hanya bisa makan dari jatah pemerintah. Ia nyaris menjadi gelandangan, tidur beratap langit, beralaskan tanah.

Begitu juga siapa yang tahu Dong Nguyen, pembuat aplikasi game Flappy Bird, yang mengantarkan dia berpenghasilan sekitar 600 juta per hari dari iklan. Pemuda berusia 29 tahun asal Vietnam ini, menjadi pemberitaan karena aplikasi game buatannya menarik perhatian dalam jangka pendek. Yang kemudian dengan alasan tertentu ditarik dari peredaran. Justru dengan penarikan itu semakin menjadikan pemberitaan.

Itu hanya 2 penggalan cerita dibalik potensi keuntungan yang diraih dari dunia teknologi kreatif. Bayangkan aplikasi game gratis bisa menghasilkan 600 juta sehari. Aplikasi sederhana, yang mempermainkan emosi pemainnya, dan ternyata bisa meraup keuntungan buat pembuatnya. Begitu juga aplikasi chat atau ngobrol ala Koun yang ternyata harganya sangat luar biasa.

Bagaimana kisah Koun dalam menjalani hidupnya, banyak tantangan yang dilaluinya untuk sampai pada titik yang sekarang. Coba saja untuk bertahan hidup, Koun pada saat mudanya harus bekerja sebagai tukang bersih supermarket. Hidup begitu pahit, dan semakin buruk saat ibunya di diagnosa kanker. Keluarga Koun pernah hidup hanya dengan tunjangan kesehatan seadanya.

Walaupun, Koun diterima kuliah di San Jose University, namun ia milih drop out. Ia lebih suka belajar programming secara otodidak. Dengan keahliannya sebagai programer, Jan Koun, diterima bekerja sebagai engineer di Yahoo dan bekerja disana selama 10 tahun. Di Yahoo, Koun berteman akrab dengan Brian Acton, yang selanjutnya mereka berdua yang membuat WhatsApp tahun 2009 setelah resign dari Yahoo. Mereka berdua sempat melamar ke Google, namun ditolak. Google mungkin menyesal seumur hidup menolak lamaran mereka.

Setelah WhatsApp resmi dibeli dengan harga 209 triliun diakhiri Februari 2014 lalu, Jan Koun melakukan ritual yang mengharukan. Ia datang ke tempat dimana ia dulu setiap pagi antri untuk dapat jatah makan, saat ia masih remaja miskin berusia 17 tahun. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding tempat ia dulu antri. Mengenang saat-saat ia tidak punya uang, bahkan sekedar untuk makan.

Koun tak pernah menyangka perusahaannya dibeli dengan harga yang sangat fantastis. Namun rejeki datang dari arah yang tak terduga. Remaja miskin yang dulu dapat jatah makan, kini jadi billioner. Mungkin hanya 1 di antara miliaran penduduk bumi ini yang bisa mendapatkan keajaiban seperti ini. Namun tentunya masih banyak keajaiban lain yang bisa kita peroleh, tidak semua bisa seperti tantangan yang dihadapi Jan Koun. Ujian demi ujian mungkin telah dilaluinya, dan ia tak berhenti untuk melahirkan inovasi produk. Tak menyerah, bahkan bisa melahirkan sesuatu yang lebih baik dan bernilai bagi perusahaan lainnya.

Kenapa Facebook mau dan rela membeli WhatsApp dengan harga begitu besar ? tentunya manajemen facebook memandang ini ada nilai lebihnya, yang pasti bisa memberikan hasil yang lebih besar. Bisa hasil yang lebih besar dari pendapatan WhatsApp sendiri atau potensi WhatsApp untuk berkembang menjadi pesaing facebook.

Disamping itu kita harus juga belajar dari aspek kepedulian yang dilakukan Nguyen. Penarikan game Flappy Bird yang dilakukannya, semata hanya karena banyaknya keluhan mengenai game ini. Kekesalan orang lain akibat game ini memang menjadi perhatian, sehingga Nguyen kemudian menarik game ini dari online store. Walaupun kehilangan potensi pendapatan, namun ia punya pandangan sendiri.

Keberhasilan untuk mendapatkan uang sesaat, ternyata tidak membuatnya silau. Bagaimanapun ada aspek lain yang patut diperhatikan dalam meraih keberhasilan. Pada saat orang lain turut menikmatinya, itulah bagian penting yang patut menjadi cerita. Semua itu akan merubah kehidupan finansial Koun dan Nguyen, selanjutnya tentunya sangat dipengaruhi bagaimana mereka terus mengembangkan diri untuk memberikan nilai bagi orang lain.

Belajar dari hal ini, tentunya kita harus bisa dan mempunyai harapan bahwa apapun kondisi kita saat ini, semuanya bisa berubah jika kita terus menerus berusaha. Melahirkan ide terbaik dan bermanfaat bagi orang banyak, semakin banyak yang menggunakan, semakin banyak potensi pendapatan. Bisa berupa pendapatan langsung, ataupun tidak langsung, seperti kerjasama dan iklan.

Kemampuan kita memberikan nilai lebih dan mudah digunakan atau melibatkan orang lain, maka akan mendorong terciptanya nilai yang lebih banyak lagi. Prinsip ini juga harus tertanam bagi operasional contact center. Yang harus memandang bahwa contact center akan bermanfaat, jika digunakan oleh lebih banyak pengguna atau pelanggan.

Upaya untuk mendorong peningkatan penggunaan contact center, sejalan dengan nilai yang kita berikan ke pelanggan. Kemampuan contact center untuk memberikan solusi, akan mendorong seseorang untuk menggunakan lebih sering. Pelanggan yang mendapatkan solusi, akan merasa mendapatkan rekan atau keluarga yang membantu. Dengan cara ini maka nilai pelayanan akan semakin tinggi, seiring dengan bertambahnya pelanggan yang menggunakan pelayanan contact center.

Jadi, tak perlu menjadi Dong Nguyen atau Jan Koun untuk menjadi berhasil, kita juga bisa melakukan lebih baik dari kemarin. Apapun nilai yang kita bisa berikan hari ini, lakukan yang terbaik sesuai peran Anda. Semangat Koun atau Nguyen yang harus kita contoh, yang bisa merubah diri dari peran sebagai programmer, menjadi seorang penjual ide yang unggul. (AA)