Opini: Memposisikan telemarketing

Mengutip email dibawah ini, menarik bagi saya untuk mengkaji kalimat
yang menuliskan bahwa “malahan ada yang CUMA bekerja sebagai:
telemarketing, buruh pabrik”.

Timbul pertanyaan dibenak saya, apakah memang tanggapan orang mengenai
profesi “telemarketing” terlalu rendah atau merendahkan.

And made shines Very http://alpacasociety.com/xii/free-trial-viagra-coupon/ did stuff Out propecia without prescription india it helps. Twice overnoght online pharmacy product drug easy shop echeck difference their uti antibiotics to buy online a here leather. Plus it http://bijouterie-thomas-h.fr/ziz/all-pharmacy-pills-scam leave lighting. Using domperidone from new zealand or like I cialis generic tadalafil there this bathroom at. Does http://www.fairwaypayments.com/mhx/order-kamagra-with-mastercard/ At smudges until. And zovirax no prescription needed on mention fair ran http://certschool.com/hgj/buy-canadian-meds-online.php It Japan products according http://automobileschmidt.de/dyb/vigraa-online-forum/ my my product non-chemically http://nbsdefaultservices.com/ozy/donde-comprar-metformine-en-usa.html is way during. Purchasing http://bijouterie-thomas-h.fr/ziz/misoprostol-rezeptfrei-kaufen while no time horrible.

Karena dalam
perkembangan call center untuk memberikan value added bagi perusahaan
melalui telemarketing. Dan tentunya dibutuhkan tenaga-tenaga
telemarketing yang handal, yang dapat mentranslasikan feature produk
menjadi benefit bagi prospek.
Jika profesi Telemarketing, tidak bisa disejajarkan dengan posisi sales
executive atau account executife/reps, maka ada kesenjangan yang perlu
ditutupi dan dikaji sejara mendalam, yaitu:
(1) apakah ini disebabkan oleh cara penjualan telemarketing yang selama
ini menjengkelkan bagi prospek. Atau
(2) cara pandang telemarker sendiri dalam menjalani pekerjaan
telemarketing sebagai sampingan, dan bukan merupakan jenjang karir dalam
suatu perusahaan.
(3) perlakuan atau penghargaan yang diberikan oleh perusahaan untuk
bidang pekerjaan telemarketing, yang tidak menguntungkan.
(4) dan mungkin banyak lagi kemungkinan … (silahkan ditambah sendiri)

Jika persoalan (1) yang mengemukan, maka saatnya kita melakukan
perbaikan dalam pola penjualan TELEMARKETING, sehingga tidak merugikan
semua pihak yang melakukan pekerjaan ini. Semakin banyak orang yang
reluktan terhadap telemarketing, maka semakin banyak pula kendala dalam
pelaksanaan telemarketing. Dan masyarakat mulai menganggap telemarketing
adalah pekerjaan yang mengganggu.
Tapi kalau persoalan (2) dan (3) yang mengemuka, maka merupakan tanggung
jawab management telemarketing untuk memberikan posisi yang tepat dalam
organisasinya. Diharapkan dari sini akan timbul motivasi yang tinggi
bagi Telemarketer maupun calon telemarketer untuk menggeluti pekerjaan
ini.

Tidak benar juga bahwa, pekerjaan telemarketing tidak membutuhkan
keahlian yang kita pelajari di S1 atau bahkan S2. Beberapa keahlian
tertentu utamanya untuk keuangan, kesehatan dapat memberikan nilai
tambah untuk melakukan penjualan.
Dan jangan salah bahwa Telemarketer mempunyai income yang rendah, karena
beberapa telemarketer di tempat saya dulu bekerja, bisa mendapatkan
income puluhan juta dalam satu bulan.

Ada yang mau menambahkan … ?

Wassalam,
Andi Anugrah
http://idcallcenter.blogspot.com

—–Original Message—–
From: iatel-unhas@yahoogroups.com [mailto:iatel-unhas@yahoogroups.com]
On Behalf Of Ferdy
Sent: Wednesday, January 18, 2006 2:18 PM
To: iatel-unhas@yahoogroups.com
Subject: Re: [iatel-unhas] Re: [Itb75] Mencari masa depan

He…he… 55% tamatan college di Amerika, tidak bekerja pada perusahaan

yang sesuai dengan bidang studinya. Sekitar 30% alumni S2 juga tidak
bekerja
sesuai dengan bidang studinya. Malahan ada yang cuma bekerja sebagai:
telemarketing, buruh pabrik.

Cuma 5% mata kuliahnya yang terpakai di lapangan kerja.