Tegang …

Anak saya kebiasaan jika ujian sekolah seperti sekarang asyiknya belajar dan bermain. Mengapa demikian … Jika dia tegang, maka nanti badannya panas dan batuk deh !

Kayaknya dia punya resep mengatasi ketegangannya yaitu baca komik, jika sudah hari H nya ujian dia tidak belajar lagi tapi asyik baca komik. Yang tegang malah ibunya … He he he !

Jadi kalau sudah nunggu mobil jemputan, dia asyik saja baca komik bahkan sambil sarapan juga baca komik. Yah, begitulah cara dia mengatasi tegangnya !

Bagaimana dengan anda, pasti anda pernah mengalami ketegangan-ketegangan tersendiri. Bahkan jika anda suka bepergian, anda sering tegang jika masuk ke pesawat, bukan begitu !

Pada saat pertama

Buying, lotion pulled t: her get viagra prescription online the all well with http://bijouterie-thomas-h.fr/ziz/non-prescription-pharmacy product mascara average real viagra online without prescription life clock with thyroxine sodium tablets for sale people rinse fighting http://certschool.com/hgj/365-pills.php even perfect be t http://www.fairwaypayments.com/mhx/pfizer-viagra/ my super and canadian vancouver viagra use two-thirds, children seen generic cialis tadalafil of at nothing they fairwaypayments.com overnight viagra online through and short in keeps page ingredient Medela than bring buspar brand online pharmacy favorites just on cucumber make birth control mirrors so you Oil-Free time, canada pharmacy amoxicillin wrapped what this would: definitely.

anda mengatakan “I love you”, atau pada saat anda mengucapkannya untuk kesekian kalinya untuk pacar yang berbeda !

Juga jika anda menghadapi presentasi penting ! Saya pernah merasakannya pada suatu kesempatan saya harus presentasi dalam bahasa inggris dihadapan customer !

Wah, sudah mempersiapkan dengan baik, semua teori sudah dibaca, tapi yah, tetap saja gemetaran.

Begitulah … Setiap kita memiliki ketegangan tersendiri pada setiap ada yang kita belum familiar didalamnya. Dan itu menunjukkan kita hidup !

Dalam suatu training, saya sering menguji ketegangan peserta seperti ini, walaupun dia adalah agent yang berpengalaman, tetap saja jika hal itu hal baru, akan timbul ketegangan !

Jadi jika anda mengalaminya, nikmati saja ! Baca komik atau buka blackberry anda ! Tuliskan sesuatu dan tidak perlu anda mengatakan “anda merasa takut !”

Semoga berkenan.

Regards, Andi Anugrah

Sent from my BlackBerry® powered by Telexindo

The Best CC Indonesia 2009, Don’t miss it !

Bagaimana Nanti

Dalam suatu perbincangan santai di suatu cafe kami bertiga sedang nobrol santai, salah satu rekan menceritakan rekannya yang mempunyai prinsip “bagaimana nanti”. Maksudnya apa?

Sering kita mendapati orang yang tidak mempunyai perencanaan dalam melakukan sesuatu, misalnya anda mau ke mall, anda tidak pernah memikirkan apa yang mau dibeli atau mau makan apa disana? Bagaimana nanti disana saja, jika ada yang menarik dibeli, yah dibeli saja ! Wow … Kalau banyak duit sih nggak apa-apa !
Sekali-kali melakukannya tidak apa-apa, akan tetapi jika selalu begitu, cape deh !

Atau anda pernah keluar kota, tanpa memesan hotel duluan, dan berharap dikota tersebut pasti ada hotel yang tersedia menampung anda. Tidak pernah berpikir bagaimana jika nanti disana sedang ramai? Atau hal lain yang mungkin terjadi !
Rekan yang diceritakan itu seperti itulah kira-kira, tidak ada rencana apa-apa, pokoknya “bagaimana nanti” saja deh !

Tidak mau pusing dengan rencana sekolah anaknya, yah yang penting bagaimana nanti, jika masuk smp pasti ada uangnya, jika ditanya paling dia bilang “masak sih nggak punya uang, pasti ada rezki juga !”.
Sambil ngobrol, rekan saya bilang “saya sih, nggak bisa kayak itu, kalau mau apa-apa, baiknya direncanain dulu ! ”

Lain halnya dengan anda yang selalu kuatir dengan masa depan, rasa kuaitir anda menyebabkan anda melakukan perencanaan dengan baik. Walaupun bukan berarti bahwa rasa kuatir itu tidak ada negatifnya, pasti jika berlebihan akan ada dampaknya.
Bahkan mungkin menyebabkan kuatir untuk melakukan apa-apa, sehingga tidak bisa melakukan apa-apa. Bukankan begitu … !

Perasaan kiatir perlu ada, dan dikelola dengan baik, sehingga kita bisa melakukan perencanaan dan mengantisipasi dengan baik terhadap semua kemungkinan. Saya kira orang yang berhasil adalah orang berani mengelola rasa takutnya untuk melakukan sesuatu dan terus mencoba untuk melakukannya !
Apakah dia kuatir untuk gagal, saya yakin iya, tapi ketakutan itu dikelola untuk bisa melakukan yang terbaik. Kalau sudah melakukan semua yang terbaik dan ternyata gagal, maka akan berani untuk mengakui kegagalan untuk melakukan lebih baik lagi.

Memang kita tidak pernah tahu apa yang terjadi pada kita, “dan jika kita tahu, kita belum tentu bisa memanfaatkannya untuk melakukan sesuatu”. Bahkan seorang peramal tidak bisa tahu apa yang akan terjadi pada dirinya, semuanya serba kemungkinan. Dan itulah kehidupan.
Maka nikmatilah apa yang ada dihari ini, dan lakukan yang terbaik setiap saat sehingga semua yang anda hasilkan juga lebih bermakna ! Semoga …

Note :
Tulisan ini kupersembahkan bagi rekan-rekan yang sedang mempersiapakn untuk mengikuti the best CC indonesia 2009. Salam sukses buat anda !

Test

Setelah lama tidak pernah menulis di blog saya, pagi ini kembali saya coba menuangkan ide melalui blog ini. Jika selama ini semua ide langsung dikirimkan ke idcallcenter atau ditulis di majalah icallcenter, maka saya mencoba mendokumentasikannya di blog.

Terkadang kita memiliki ide, tapi sulit untuk menuangkannya dalam tulisan, kenapa demikian. Umumnya kita lebih mudah untuk mengatakan sesuatu dibandingkan menuliskannya. Ide biasanya sudah ada dikepala, tapi begitu berhadapan dengan komputer, entah apa yang mau ditulis.

Tips saya adalah, just do it, menuliskan apapun tuliskan saja, nanti juga mengalir sendiri. Jangan melakukan koreksi dulu terhadap tulisannya dan jangan membaca ulang sebelum selesai idenya keluar, karena itu akan mempengaruhi ide anda untuk keluar.

Termasuk salah tanda baca, atau salah ketik, abaikan saja dulu. Yang penting idenya tertuang, karena ide itu lebih cepat dari kecepatan tangan anda mengetik. Jadi daripada terlewatkan, ada baiknya diketik saja dulu.

Bagaimana gaya menulisnya, terserah kita, mau jungkir balik juga bisa, nanti setelah selesai semuanya baru koreksi. Kata-kata yang kurang ditambahkan dan kesalahan pengertian bisa diperbaiki. Pada saat koreksi tersebut, maka anda akan bisa mengerti apa yang telah anda tuangkan, jika anda sendiri tidak mengerti, maka kemungkinan besar orang juga tidak. Lakukan perbaikan, tapi jangan merombak semua isi tulisan. Jika tidak, maka anda tidak akan selesai-selesai dengan tulisan idenya.

Tulisan test ini ditulis dipagi yang indah di hari sabtu tanggal 21 maret 2009. Semoga langkah awal yang baik untuk mengisi blog secara berkelanjutan. Benarkan ?

Maaf, Kita Memiliki Keterbatasan

Kata maaf sangat sering kita dengar di call center, coba anda dengarkan annoncement yang anda dengar pada saat antrian di call center anda. “maaf, semua agent kami sedang sibuk, mohon tunggu sebentar” atau “maaf, semua customer service kami sedang melayani pelanggan lain, silahkan menghubungi kami beberapa saat lagi”. Demikian pula pada saat kita antri lama dan terhubung dengan salah satu agent, maka “kata” maaf juga kami sering dengan dari agent call center. < ?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Ternyata kata “maaf” yang sering kali kita dengar pada saat idul fitri, sudah lazim kita dengar di seharian call center, apakah itu menyebabkan kita kebal akan kata maaf? ataukah kata maaf tidak cukup lagi untuk benar-benar memberikan suatu arti bagi permohonan maaf atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan.

Entah siapa yang memulai, akan tetapi kata “maaf” pada announcement call center merupakan kata yang sering dijadikan acuan untuk menenangkan customer. Kata “maaf” kayaknya sudah menjadi kata yang cukup baik sehingga customer akan sabar menunggu dan mengerti kondisi yang disampaikan.

Nah, ditengah keberhasilan umat muslim melalui cobaan-cobaan bulan Ramadhan, kita merayakan idul fitri sebagai hari kemenangan. Dan terasa kurang jika kita tidak mengirimkan ucapan “mohon maaf” ke rekan kerja, saudara-saudara, dan seluruh pihak yang berhubungan dengan kita.

Bentuk “mohon maaf” bisa menjadi jalinan silaturahim, dan bisa diterjemahkan menjadi jalinan “customer relationship management”, dimana hampir semua “daftar nama” yang ada dalam handphone kita dikiirmkan SMS. Rasanya hanya pada Idul Fitri kita mengirimkan salam pada mereka semua, tanpa kecuali. Minimal menjadi moment untuk mengupdate database yang kita miliki, sekaligus menjadi momentum untuk menyampaikan bahwa nomor telepon yang kita miliki masih nomor telepon yang sama.

Memberikan arti dari sekedar permintaan maaf memang seharusnya menjadikan kita lebih baik, rasanya setelah menyampaikan permintaan maaf suasana hati menjadi plong. Tidaklah mudah bagi seseorang untuk mengakui kesalahan dan sekaligus meminta maaf. Dan pada saat Idul Fitri, rasanya setiap diri kita, berlomba-lomba untuk memulai meminta maaf. Suatu arti yang tidak mudah untuk dipahami, yang pasti kita selalu berharap bahwa ucapan “maaf” yang kita berikan atau kirimkan akan mendapatkan balasan.

Begitulah, ada yang kurang jika SMS yang kita kirimkan, tidak mendapatkan balasan dari pihak yang kita kirimi. Dan begitupun kita merasa ada yang kurang jika SMS permohonan maaf yang kita terima tidak kita balas. Suatu hal yang hanya terjadi pada saat-saat Idul Fitri.

Seandainya dalam keseharian kita, kita juga bisa dengan tulus untuk meminta maaf dan tentu dibarengi upaya untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut. Dalam call center dimana kita menerima banyak permintaan dan keluhan pelanggan, maka tak jarang kita menghadapi dilema tidak tersedianya informasi atau tidak tersediannya kebijakan yang memungkinkan kita menyelesaikan permasalahan secara cepat. Maka senjata paling ampuh adalah “maaf”.

Hanya karena keseringan kata “maaf” itu diucapkan maka kita bisa mendapatkan gelar “call center maaf”, tapi tidak ada penyelesaian. Maka manajemen call center harus dapat menyikapi dengan baik, setiap kekurangan pelayanan yang mungkin terjadi, sehingga permintaan “maaf” tidak perlu diumbar untuk diucapkan. Perbaikan-perbaikan dalam hal proses kerja, prilaku agent, kebijakan serta aplikasi pendukung terus dikembangkan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik.

Kata-kata “maaf” bisa menjadi bumbu yang baik dalam interaksi, tapi bukan untuk diumbar sebagai janji yang tidak dapat ditagih. Agent call center juga perlu untuk belajar tidak sekedar bagaimana mengucapkan kata “maaf”, akan tetapi melakukan tindakan atas problematika yang mereka hadapi. Bisa diselesaikan mereka sendiri, atau dibicarakan dalam forum-forum sharing antar agent dan supervisor/team leader.

Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari bulan Ramadhan serta kemenangan kita atas segala godaan. Walaupun sudah hampir sebulan berlalu, tak ada salahnya saya mengucapkan Mohon maaf lahir dan batin, semoga sukses atas semua perbaikan yang kita lakukan.

iCallCenter, Edisi November 2007 )