Pensiun atau Nikmati Hidup

Dalam suatu perbincangan, mengemuka bagaimana caranya bisa pensiun dini. Kelihatannya banyak orang mengidamkan suatu saat bisa istirahat kerja dan tetap mendapatkan penghaslan yang besar. Layaknya seorang pengusaha yang bisa bersantai menikmati hidup dan tinggal menunggu hasil kerja keras dari orang-orang yang digaji untuk menghasilkan.

Diatas kertas rasanya indah, kenyataan belum tentu seperti itu. Pada saat anda menjadi sesuatu yang lebih tinggi, maka anda akan berupaya untuk mencapai target berikutnya. Naluri manusia tidak pernah ada cukupnya, apakah itu membuktikan kita serakah ? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Kita selalu merasa kurang dan tidak terkadang melupakan kita mempunyai sesuatu yang lebih.

Seorang kawan yang bermain di bursa saham, berharap bahwa dia akan menghasilkan sesuatu dari saham yang dibelinya. Suatu hari dia bisa untuk puluhan juta dalam sehari, dilain waktu dia bisa rugi puluhan juga bahkan ratusan juta dalam sehari. Suatu perbandingan yang seimbang, saham yang ditanamkan harus dipantau perjam setiap hari. Pekerjaannya memang cuma memantau layar monitor, tapi denyut jantungnya pasti berdenyut tajam pada saat pasar lagi turun. Pekerjaannya kelihatan santai, tapi resikonya besar, termasuk nyawanya, jika dia punya penyakit jantung.

Seorang kawan pengusaha lainnya, yang kerjanya membuat perusahaan, setiap tahun kayaknya ada saja perusahaan baru yang dibuatnya. Mempekerjakan banyak orang dan menggaji profesional dengan biaya yang tinggi. Apakah dia akan berhenti ? Saya rasa tidak, dia akan terus berupaya untuk mengembangkan bisnisnya dengan lebih besar. Saya yakin ada orang yang digajinya untuk memikirkan itu, tapi saya rasa diapun tidak berhenti berpikir. Kapan berhentinya ? Entah, tanya pada rumput yang bergoyang.

Lain lagi, seorang kawan memutuskan untuk berhenti bekerja dan kembali ke kampung halaman untuk berkebun dan beternak ayam. Menjadi petani keren dalam istilahnya, bekerja dialam dan menikmati hidup. Suatu waktu hama menghabiskan hampir semua investasinya. Walaupun begitu dia tidak berhenti, dan mencoba bangkit dengan semua potensi yang dimilikinya. Apakah dia menikmatinya ? Selama dia masih hidup, saya rasa dia menikmatinya, tergantung pada kita memandangnya.

Disekeliling kita banyak orang memandang hidup dengan cara berbeda. Itu adalah pilihan dan kita tidak memaksa seseorang mengikuti cara kita. Nikmati hidup dengan cara anda sendiri.

Semoga berkenan !

Regards, Andi Anugrah

Sent from my BlackBerry® powered by Telexindo