PERKATAAN

PERKATAAN YANG MENDUKUNG AKAN MENINGKATKAN SEMANGAT DAN HASIL KERJA

Di tempat kerja, uang dan gaji yang adil sangat penting, tetapi bagi seorang pegawai yang telah mengabdi bertahun-tahun, kebahagiaan dan kesetiaaan tidak bisa di beli. Pekerja dimotivasi dan bertahan lebih lama karena mendapat pengakuan atas hasil kerjanya yang baik sebuah perasaan bahwa mereka dihargai dan dilibatkan dalam operasional perusahaan. (BOB NELSON)

“SAYA INGIN MEMBERIKANNYA PADA ATASAN”

Beberapa tahun lalu saya menghadiri sebuah seminar akhir pecan bersama sekitar 50 orang peserta lainnya. Pemimpin seminar meminta kami untuk saling memperkenalkan diri dan menyebutkan pekerjaan kami. Kemudian ia mengajukan serangkaian pertanyaan kepada setiap orang tentang karier orang yang bersangkutan. Ia membuat setiap orang merasa penting karena pertanyaan-pertanyannya dan ia member kami semua kesempatan untuk saling mengenal pada awal hari itu. Ketika giliran saya tiba, saya mengenalkan diri dan menyebutkan bahwa saya seorang guru, penulis dan pembicara. Ia tamoak terkesan, seperti halnya semua peserta dalam kelompok itu, ketika mengetahui bahwa saya telah menulis sebuah buku. Ia berkata. “Saya belum pernah bertemu dengan seorang penulis. Saat itu seperti ada rasa ingin tahu tentang penulis.

Pemimpin seminar tidak mengajukan pertanyaan tentang saya sebagai guru maupun pembicara, tetapi ia ingin mengetahu segala sesuatu tentang menjadi seorang penulis. Ia mengajukan serangkaian pertanyaan tentang penulisan, penerbitan dan isi buku pertama saya. Ia kemudian bertanya apak saya akan menulis buku lain. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya sedang mengumpulkan materi untuk buku kesua saya dalam waktu yang sangat lama dan saya berharap dapat mulai menulis buku kedua itu sesegera mungkin. Ia bertanya tentang apa buku kedua saya itu. Saya katakan kepadanya bahwa buku itu tentang kekuatan kata-kata, terutama kata-kata yang positif, dan bagaimana kata-kata itu membawa hal yang terbaik bagi orang lain.

Pada pembicaraan ini, seorang wanita muda yang duduk dekat dengan saya berkata, “Cepatlah, tulislah segera. Saya ingin memberikannya kepada atasan saya.”Pernyataan ini disambut dengan tawa dan sebuah komentar dari salah seorang peserta seminar lainnya, “Saya akan membeli tiga eksemplar. Tidak seorang pun atasan saya yang mengerti soal ini.”Semakin banyak tawa yang terdengar, diikuti dengan beberapa sentiment anti atasan dan lebih banyak lagi pesanan untuk buku yang belum dituliskan. Salah satu peserta berkata dengan lucu, “Sepertinya semua atasan kita telah gagal dalam kursus Dale Carnegie.”Kemudian pemimpin seminar mengajukan sebuah pertanyaan retorik: “Mengapa Anda mengira begitu banyak orang dalam posisi pemimpin tidak memahaminya?”

Sebenarnya, ada sebuah jawaban untuk pertanyaan ini, atau paling tidak ada sebuah teori yang kuat. Tanpa mengindahkan jenis pekerjaan apa yang terlibat, sebagian besar orang memulai dari bawah pada awal karier mereka. Dalam banyak kasus, bila mereka bekerja keras dan berkinerja baik, mereka mendapat promosi. Lebih sering daripada tidak, promosi seperti ini membuat orang yang dipromosi harus mengelola bawahannya yang notabene adalah orang lain. Dan, sayangnya, melakukan tugas dengan baik dan memimpin orang merupakan sesuatu yang sama sekali berbeda. Diperlukan seperangkat keterampilan untuk membuat orang mengeluarkan yang terbaik dari dirinya, dan sebagian besar dari keterampilan ini berkaitan dengan komunikasi efektif, termasuk di dalamnya adalah pemilihan kata-kata yang bijaksana.

BAGAIMANA MANAJER BERBICARA: APA YANG DIKATAKAN KARYAWAN

Karena masalah ini muncul pada awal seminar hari itu, bagaimana para manajer berbicara kepada bawahannya menjadi topic pembicaraan. Tampaknya hamper semua peserta dalam seminar ingin mengatakan sesuatu tentang bagaimana atasan mereka berbicara kepada para pegawai. Percakapan ini berlanjut di sepanjang sesi pelatihan, sepanjang rehat, makan siang, bahkan setelah seminar selesai. Saya mendengar banyak hal yang mengejutkan dan mengecewakan tentang bagaimana para penyelia, presdien, pemilik, CEO dan orang-orang lain dalam posisi pemimpin berbicara kepada bawahan mereka.(Dan dalam sebuah survey baru-baru ini, lebih dari sebagian karyawan-55%-mengaku jarang sekali mendapat ucapan terima kasih atas usaha mereka. Hanya 35% yang mengaku mendapat ucapan itu secara teratur.)

Para peserta seminar ingin mengetahui isi pikiran saya karena mereka mengira bila saya menulis buku tentang bagaimana kata-kata seharusnya digunakan, saya pastilah seorang pakar. Namun kenyataanya, mereka mengetahui lebih banyak tentang penggunaan kata-kata di tempat kerja melebihi saya. Sebagai permulaan, saya baru mulai membaca dan mengumpulkan data tentang bahasa di tempat kerja, dan itu merupakan bagian kecil dalam buku saya. Kedua, pengalaman saya terbatas pada dunia akademis, dan saya menerima sedikit sekali umpan balik positif dari para atasan saya dalam 20 tahun pertama karier mengajar saya. Secara naïf saya mengasumsikan bahwa para manajer dalam dunia bisnis lebih baik dalam area ini. Tetapi ternyata, saya mendapati hal yang berbeda.

Sekarang saya terusik dan ingin mengetahui lebih banyak tentang bagaimana orang-orang berbicara di tempat kerja. Beruntung sekali, saya memiliki akses mingguan ke beberapa orang dari berbagai jenis pekerjaan. Para mahasiswa saya di University of San Francisco berusia 30.40, dan 50 tahunan. Mereka ikut program khusus yang didesain untuk para pekerja dewasa demi mendapat gelar dalam bidang perilaku organisasional, yang dapat secara baik dideskripsikan sebagai ilmu psikologi terapan di tempat kerja. Banyak dari mereka kembali ke kampus setelah beberapa tahun kemudian dan mereka sangat haus untuk belajar. Tujuan mereka adalah belajar mengaplikasikan teori-teori dari buku ke dalam dunia kerja yang nyata sehingga mereka dapat menjadi manajer-manajer yang efektif. Dalam prosesnya, mereka memiliki banyak hal untuk diceritakan kepada saya tentang manajer-manajer mereka sendiri. Selama beberapa tahun selanjutnya, saya belajar bahwa lebih dari tiga perempat mahasiswa saya memberikan nilai buruk kepada manajer-manajer mereka dalam hal cara para atasan itu berbicara kepada karyawannya.

Saya mengajar murid-murid teori tentang bagaimana para manajer seharusnya berbicara kepada karyawan mereka dan mereka mengajar saya tentang bagaimana sebagian besar manajer sesungguhnya berbicara kepada karyawan mereka. Selama 20 tahun berikutnya, saya mendesain banyak survey, mengum-pilkan data, dan mendengarkan para mahasiswa saya. Pertanyaan paling penting dalam survey-dan salah satu pertanyaan yang paling ingin didiskusikan oleh para murid adalah-“Apa cara paling efektif bagi seorang manajer agar dapat membuat karyawannya merasa bernilai dan dihargai?” Berikut ini jawaban-jawaban mereka dalam urutan pentingnya bagi mereka:

Apa yang ingin didengar karyawan dari manajer mereka?
1. Dikenal dan diberi penghargaan atas sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan baik.
2. Meminta masukan-pendapat, persepktif, saran.
3. Menunjukkan suatu ketertarikan kepada para karyawan-menanyakan perihal keluarga, aktivitas, dan sebagainya.
4. Membuat harapan-harapan mereka jelas
5. Menawarkan bantuan
6. Memanggil karyawan dengan nama depannya
7. Mengkritik dengan halus, membangun, dan secara pribadi.

Apa yang tidak ingin didengar karyawan dari manajer?
1. Gosip-tidak professional, menyakiti orang lain, menghancurkan semangat.
2. Tidak peduli kepada karyawan-sama sekali tidak berbicara kepada mereka
3. Kritik tajam, terutama diucapkan di depan sesame rekan kerja
4. Berbicara merendahkan orang lain seakan-akan mereka inferior
5. Terus-menerus mengeluh dan berfokus pada hal-hal negative
6. Berteriak dan suara tinggi
7. Menggunakan bahasa yang kasar dan marah
8. Mengancam

Sumber: Positive Words, Powerful Results; Oliver Wendell Holmes