Sembilan hari di Delapan Bandara

Sembilan hari di Delapan Bandara

Mendapatkan tugas sebagai pengamat pada salah satu perusahaan dan memberikan rekomendasi sudah sering dilakukan. Namun kali ini harus menjalankan perjalanan yang cukup menantang, dan melewati 8 bandara dalam 9 hari. Bahkan kami harus menggunakan jasa penerbangan dari 5 Airlines dengan tipe pesawat berbeda.

Tentunya tugasnya bukan untuk menjadi pengamat bandara, akan tetapi sebagai mystery shopper pada bandara tersebut. Ah salah, pasti anda menebak pekerjaannya merupakan proyek dari perusahan bandara itu. Nah, bukan begitu maksudnya. Saya hanya menjadi penikmat dari fasilitas bandara yang saya kunjungi. Pekerjaan yang kami lakukan adalah melakukan analisis pada pelayanan contact center.

Perjalanan dimulai dari bandara Halim Perdanakusuma Jakarta dengan tujuan ke Semarang. Menikmati proses yang berlangsung pada bandara yang terasa sempit jika dibandingkan dengan Bandara Soekarna Hatta. Namun ini menjadi pilihan karena lebih dekat dari rumah dan kantor. Yang jelas ada jadwal pesawat yang pas dengan jadwal kami.

Bandaranya terasa penuh dengan banyaknya penumpang yang terasa tak tertampung dengan semakin meningkatnya frekuensi penerbangan dari bandara ini. Antrian kendaraan yang masuk dan keluar tak dapat dihindari, begitu juga antrian masuk area check in. Begitu juga ketika kita masuk ke area menunggu, tampak sekumpulan penumpang yang menunggu karena pesawat delay. Akan sulit kita menemukan bangku kosong, dan agak sedikit kurang nyaman, karena jarak antara tempat duduk sangat dekat.

Yang menarik tentunya dari bandara ini adalah fasilitas self check in yang memudahkan untuk yang tidak bawa bagasi. Begitu juga fasilitas makan dengan sejumlah restoran dan cafe cukup memadai. Bahkan di ruang tunggu yang sempit, masih ada beberapa cafe yang memakan tempat yang cukup luas.

Penerbangan kali ini menggunakan pesawat Citilink dan saya akan bercerita mengenai airlines yang kami gunakan selama perjalanan ini dalam tulisan terpisah. Penerbangan yang singkat ke Semarang dan kami tiba di Bandara Adi Sucipto Semarang.

Berhubung ada bagasi, maka kami harus menunggu proses pengambilan bagasi. Memperhatikan ruang pengambilan bagasi tentunya yang pernah ke bandara ini, akan merasa ruang tunggunya agak sempit. Suasananya agak mirip dengan Bandara Halim, bahkan mungkin Halim masih lebih baik. Kalau tidak salah hanya ada satu ban berjalan yang tersedia, sehingga tidak dapat membayangkan jika banyak pesawat yang datang.

Yang menarik dari bandara ini adalah pengumuman yang dilakukan dalam Bahasa Jawa, selain Bahasa Indonesia dan English. Bagi orang luar Jawa seperti saya yang tidak mengerti, mungkin saja menjadi menarik gaya penyampaiannya, walaupun agak aneh. Beberapa pojok dibuat untuk mengabadikan diri, belum menarik minat saya untuk ber selfi ria. Maklum dalam kondisi botak, kurang layak untuk dipamerkan.

Tak lama di bandara, karena tugas sudah menanti. Kami segera mengambil taxi bandara yang tersedia. Sangat cepat prosesnya, tak ada antrian di counter atau tak ada tenaga penjual yang teriak menawarkan jasa taxinya. Kali ini kami tidak menggunakan fasilitas online car seperti go-car atau grab car.

Hari berikutnya kami bergegas ke bandara untuk menuju penerbangan selanjutnya ke Surabaya. Tentunya yang kami tuju adalah Bandara Juanda. Suasana bandara ini berbeda dengan ruangan pengambilan bagasi yang jauh lebih luas. Tampak diujung ada deretan tenaga penjual layanan taxi yang berebut penumpang. Kami tentunya memilih salah satunya, karena sudah agak larut dan kami harus istirahat untuk jadwal kerja esoknya.

Setelah menyelesaikan tugas seharian, kami bergegas kembali ke Bandara Juanda. Kali ini proses pemeriksaan agak ketat dan melalui beberapa tahapan pemeriksaan. Kebetulan kami juga melakukan kunjungan ke salah satu contact center yang ada di bandara ini. Jadi kami harus melewati pemeriksaan tambahan 2 kali.

Yang berkesan tentunya adalah makanan di bandara, karena pada saat datang tadi malam kami makan di sini. Pada saat berangkat kami kembali mencoba salah satu makanan di sana. Tak ketinggalan kami mencoba mantau dengan ayam lada hitam. Mungkin karena lapar jadi terasa enak, atau memang enak rasanya. Entahlah, yang jelas saya mau membeli lagi.

Perjalanan selanjutnya ke Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar. Sebetulnya bandara ini terletak di kota Maros atau mungkin perbatasan antara Maros dan Makassar. Sama halnya dengan Bandara Soekarno Hatta yang berada di Tangerang, tapi tetap di tuliskan di Jakarta. Saya kira ini hanya untuk memudahkan, sebagai ibukota negara atau ibukota provinsi.

Datang tengah malam, jadi tak banyak yang kami perhatikan di bandara ini. Walaupun saya beberapa kali mendarat di bandara ini, jika pulang kampung halaman. Jadi saya tidak mau banyak komentar terhadap bandara ini. Bergegas kami mengambil taxi bandara yang sudah lebih teratur dibanding sebelumnya.

Besoknya kami melaksanakan pekerjaan dan agak santai karena kami akan berangkat ke Balikpapan hari berikutnya. Kami masih sempat menikmati ikan bakar khas Makassar dan juga berbelanja tambahan pakaian. Jadwal pekerjaan menuntut kami melanjutkan ke beberapa kota dan tak dapat kembali ke Jakarta, sesuai jadwal semula.

Melewati 2 malam di Makassar, kami melanjutkan ke Balikpapan dengan bandaranya yang baru dan bagus yaitu Sepingan. Tiba pagi hari di bandara ini, kami perhatikan ada Supermaket dan Departemen Store di bandara ini. Kayaknya next time kalau mau ke Balikpapan bisa beli baju disini, jika kekurangan baju.

Sebagai bandara yang baru, ada 1 counter pelayanan taxi, dengan petugas yang berbusana daerah dan kami mencobanya. Hanya Rp 70 ribu untuk sekali jalan, sayangnya kami salah jalan, jadi kami harus membayar 2 kali lipat. Berhubung ada 2 lokasi yang di kota ini, maka kami salah dalam memberikan petunjuk. Beruntung tidak macet, sehingga kami bisa tiba dengan cepat.

Hanya semalam di Balikpapan dan kami menuju ke Medan. Kali ini penerbangan harus transit di Jakarta. Bandara yang kami tuju tentunya Soekarno Hatta dan lanjut ke Kuala Namu. Penerbangan 2 jam dari Balikpapan ke Jakarta dan lanjut 2 jam lagi ke Medan. Transit di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta memang tidak mudah, karena jarak antara gate bisa sangat jauh.

Ada fasilitas angkutan golf car yang bisa digunakan, akan tetapi hanya mengambil penumpang di titik yang ditentukan. Jadi yang terlanjur jalan, tidak bisa menghentikan mobil penumpang yang lewat. Saya coba menghentikan salah satu, tapi mereka tidak mau, saya pikir mungkin sudah ketentuannya begitu, sehingga saya meneruskan jalan melewati lorong yang panjang.

Tiba malam hari di Kuala Namu, kami memutuskan menginap di hotel dekat bandara. Bandara Kuala Namu yang baru dan bagus, tertata dengan rapi. Tidak sulit untuk menemukan taxi di bandara ini, bahkan petugasnya cukup membantu kami untuk mendapatkan taxi yang diharapkan.

Setelah menginap dua malam di Medan, pagi hari kami melanjutkan penerbangan ke Palembang. Bandara yang dituju tentunya Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Tak banyak yang kami perhatikan di bandara ini, maklum sudah melewati beberapa hari yang cukup melelahkan. Rasanya tak ada waktu menikmati bandara, hanya jadi tempat numpang lewat.

Hanya semalam di Palembang, banyaknya pembangunan disana sehingga kemacetan banyak terjadi. Kami memutuskan tidak kemana-mana, hanya menikmati makan malam dengan ikan pindang khas palembang. Tentunya kami juga menikmati hidangan empek-empek yang disediakan tuan rumah.

Rasanya kangen pulang ke rumah setelah perjalanan 9 hari yang melelahkan. Kami kembali melewati Bandara Halim, karena lebih mudah kembali ke rumah. Tiba di Bandara Halim, kami mencoba mencari online taxi, salah satu menggunakan grab car, sedangkan saya mencoba go-car. Cukup mudah menemukan diantara padatnya kendaraan malam itu. (AA)