Sumbu Pendek


Seperti umumnya bahan peledak, biasanya mempunyai sumbu untuk memicu terjadinya ledakan. Semakin pendek sumbu yang digunakan, maka makin cepat meledak, sebaliknya semakin panjang sumbu yang digunakan, maka semakin lama terjadinya ledakan. Sumbu ibarat hitungan mundur bom waktu yang siap menjalar untuk mencapai titik ledakan yang diinginkan. 
Dalam kehidupan kita juga demikian, ada kalanya kita terlihat sangat emosional dan mempunyai sumbu pendek, yang responsenya terhadap kondisi tertentu sangat cepat. Kita marah pada saat makanan lambat disajikan, kita marah pada saat kereta terlambat, kita marah pada saat jalanan macet dan semacamnya. Sebaliknya sebagian dari kita juga mempunyai sumbu yang agak panjang yang bisa mengulur waktu untuk tidak meledak. Kita bisa menikmati sebuah proses atas tertundanya atau ketidaksesuaian sesuatu dan mengambil hikmahnya.
Sikap mengulur waktu akan memberikan kita kesempatan untuk berpikir lebih jernih terhadap berbagai kondisi yang kita hadapi. Bahkan kemungkinan bisa memahami atau mengantisipasi dampak yang ditimbulkan dari sikap yang emosional. Bagaimanapun luka yang timbul akibat suatu ledakan, merupakan hal yang tidak bisa dikembalikan sempurna, alias pasti ada cacatnya.
Sebagai mahluk yang memiliki perasaan, jika kita punya sedih, kita juga akan punya rasa gembira. Jika kita punya marah atau kecewa, kita juga punya senang atau bahagia, jika kita bisa merasa lambat, kita juga bisa merasakan yang cepat. Jika tahu yang buruk atau jelek, kita juga akan tahu yang cantik atau baik. Hal yang bertolak belakang ini merupakan sesuatu yang tidak mudah diseimbangkan. 
Terhadap sesuatu yang tidak sesuai kita punya cara pandang untuk kecewa atau marah. Pada saat kita berhak untuk marah, berhak untuk menuntut dan berhak mendapatkan lebih baik. Apakah tidak boleh kita kecewa, marah dan menuntut ? Tentu saja ada jalurnya yang lebih baik, walaupun jalur keras terkadang dirasakan menjadi jalur yang mudah untuk mendapatkan perhatian.
Bagaimanapun sikap emosional dapat dikendalikan dengan mengatur sumbu ledak perasaan kita. Sikap menahan diri, mengulur waktu dan tetap tenang akan memudahkan mencerna makna, sekaligus bisa berkomunikasi dengan baik. Cara kita berkomunikasi menjadi alat kendali untuk menyampaikan sesuatu dengan bijak, baik dalam bahasa tulisan maupun dalam komunikasi verbal.
Bulan Ramadan bisa menjadi bulan dimana kita belajar mengendalikan emosi. Lebaran menjadi titik dimana kita merayakan keberhasilan kita mengendalikan diri, sekaligus kita lulus dan bisa menerapkan selanjutnya. Tetap semangat dan mari mengolah emosional kita dengan mengatur sumbu ledak kita. Semoga hikmah ramadan menjadi berkah bagi kita semua. (AA)