Belajar Tanpa Henti, Team Leader Pun Diuji

Pelatihan untuk para leader diadakan kembali pada hari ini (22/2) di Graha Seti. Peserta sejumlah sebelas orang berasal dari AXA Services Indonesia, Asuransi Astra Buana, Kereta Api Indonesia, Perusahaan Gas Negara, VADS Indonesia, Prudential Life Assurance, Supra Prima Nusantara (Biznet), Astra Honda Motor, dan KLIP Direktorat Jenderal Pajak.

Seperti biasa, Andi Anugrah selaku trainer mengawali training dengan perkenalan. Materi pertama membahas tentang peranan contact center yang membahas mengenai Fungsi Contact Center, Kebutuhan Sumber Daya, Kontribusi Contact Center dan Komponen Biaya Pelayanan.

Materi kedua membahas seputar peranan team leader. Materi ini membahas mengenai Tantangan Operasional, Struktur Organisasi, Perubahan Tanggung Jawab, Tugas dan Kompetensi Team Leader, serta Pengembangan Kompetensi. Di sela sesi selalu ada kegiatan diskusi antara lain diskusi tentang tantangan yang dihadapi oleh team leader.

Stefani, salah satu peserta dari Astra Honda Motor, baru kali ini mengikuti training Certified CC Team Leader. Meskipun sudah berkecimpung lama di AHM, namun baru sekitar tiga bulan berada di contact center. Baginya, training ini dirasa sangat bermanfaat karena membuka wawasan mengenai kinerja leader di dalam contact center. Tantangan yang dihadapi Fani, sapaan akrabnya, sangat berbeda dibandingkan di divisi sebelumnya. Fani berharap setelah mengikuti training ini dapat mengaplikasikan ke dalam operasional pekerjaan dan bagaimana mengelola agent. (MZ)

Belajar Bisnis dari Pedagang Keliling

Belajar Bisnis dari Pedagang Keliling

Oleh Andi Anugrah
(Dalam perjalanan Jakarta – Bandung)

Coba perhatikan pedagang yang sering lewat depan rumah anda, itupun kalau ada, apakah diantara mereka ada yang baru ? Mungkin ada, tapi mana sempat memperhatikannya. Baiklah, kalau begitu yang sempat saja. Kalau semua tidak sempat, baiklah, baca saja. Siapa tahu bermanfaat buat anda yang sedang menyusun rencana bisnis. Atau bagi yang sedang tugas akhir, boleh juga mempelajari model bisnis ini.

Menarik sebenarnya memperhatikan mereka dalam menjalankan bisnisnya. Kenapa begitu ? Ada yang sudah bertahun-tahun membawa gerobaknya, kondisinya masih sama. Tidak ada perbaikan, baik pada gerobaknya, pakaian yang digunakan, maupun menu makanan tetap sama. Kenapa masih ada yang membeli ? Yah, pastilah ada yang membeli, kalau tidak, ia tidak akan berjualan disitu. Benar bukan ?

Disamping mereka yang sudah berjualan bertahun tahun, ada juga yang akhirnya tidak kelihatan lagi. Bisa karena tidak ada modal jualan, atau tidak ada pembeli. Kalau tak ada modal, pastinya itu karena kesalahan manajemen cash flow. He he he … mereka pintar juga loh berhitung cash flow, walaupun tanpa pembukuan, tapi mereka tahu yang mana yang berhutang.

Yang merasa kurang pembeli, sepertinya mereka kurang promosi atau kurang melakukan inovasi dalam cara berjualan. Coba saja, anda pasti bisa membedakan bunyi tukang nasi goreng dengan tukang bakso. Apanya yang beda, yah itu kentongannya atau bunyi piringnya. Entah siapa yang memulainya, namun itulah cara mereka menentukan perbedaan masakan yang mereka jual. Kadang-kadang mereka ada diskon juga, hmmm … benarkah? Sebenarnya tidak, biasanya diberikan porsi yang lebih banyak. Artinya ia tahu pelanggan yang jadi langganan, bahkan tahu jika ada pelanggan yang tidak membutuhkan garam atau tambahan bawang. Jadi mereka juga menerapkan manajemen pelanggan.

Apakah ada diantara mereka yang berpikiran lebih maju? Misalnya buka franchise atau sewa tempat dan tidak perlu keliling. Hmmm … Mungkin ada juga, namun faktor modal dan perputaran uang yang lebih penting. Walaupun kecil, yang penting berkesinambungan. Namun diantara ada mereka juga masih sempat menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan tinggi atau bahkan ada yang mempunyai rumah atau sawah di kampung halaman. Investasi katanya, wow … mereka lebih tahu investasi secara real dibandingkan kebanyakan dari kita. Begitulah bisnis telah mengajarkan mereka mengelola uangnya dan menempatkan pada tempat yang tepat. Tentunya tidak semua begitu, seperti pebisnis, tidak semuanya diberikan petunjuk untuk menjadi lebih baik.

Diantara mereka ada juga yang baru, ada berbagai macam makanan baru. Ada yang kemudian bertahan cukup lama, ada juga yang hanya sebentar dan menghilang lagi. Makanan seribu warga tampaknya masih dominan, seperti bubur, nasi goreng, bakso, atau soimay. Makanan seperti burger, ayam goreng, sosis dan semacamnya, berubah seiring waktu. Ada juga yang menggunakan cara berbeda untuk berhemat, misalnya tadinya menggunakan mobil, sekarang dengan motor, atau bahkan sepeda. Yang seperti ini, biasanya penjualannya menurun dan sulit menghadapi cost yang meningkat. Namun sebaliknya ada juga yang meningkat, yang tadinya pakai gerobak dorong, sekarang pakai sepeda atau bahkan motor. Yang seperti ini, biasanya melihat peluang dan jangkauan yang lebih luas. Biasanya tempat berdagangnya ada beberapa, pagi disini, dan sore disana.

Oh iya, diantara mereka yang berdagang, ada yang dimodalin oleh seseorang, ia hanya menjalankan. Tidak ada modal katanya dan lebih mudah dibandingkan pinjam dari bank. Hmmm … Ada benarnya, atau ketidaktahuan mereka atas proteksi dari si pemodal tadi. Entahlah, itu rejekinya masing-masing. Yang jelas mereka juga mengenal investor, bahkan ada pedagang yang berani pinjam modal dari calon pembelinya. Nanti dibayarnya dgn produk yang dijual. Wow … Ini seperti gaya pengusaha properti, benarkan?

Prinsipnya mereka tak perlu teori, mereka sudah melakukannya. Apakah mereka lebih berhasil dibandingkan kita? Pastinya, semua bisa dilihat dari cara pandang masing-masing dalam menikmati kehidupan. Apakah mereka lebih bahagia? Yang jelas, mereka telah memberikan kita makanan. Walaupun kita harus membayarnya. Jerih payah mereka mengalir dalam pembuluh darah kita dan menjadi energi untuk mencari uang, yang nantinya digunakan untuk membayar mereka.

Masih banyak kisah bisnis mereka, mendengar cerita mereka pasti banyak hal yang kita bisa pelajari. Apakah anda belajar sesuatu dari tulisan ini ? Ditunggu komentarnya.

Semoga berkenan adanya.