Healthy Check Contact Center PLN 123

Mendapatkan kepercayaan untuk melakukan healthy check contact center PLN 123 pada akhir tahun 2017 menjadi suatu tantangan tersendiri. Konfirmasi pekerjaan kami terima bersamaan dengan proyek lain yang sedang berjalan. Setelah koordinasi jadwal pelaksanaan, kami kemudian bergerak cepat dan mengumpulkan data-data yang dibutuhkan.

Jadwal yang padat akhir tahun harus menjadi kesibukan tersendiri untuk menyelesaikan laporan-laporan. Selama bulan Desember tak ada waktu yang tersisa, semua diisi dengan jadwal penerbangan dan membuat analisis laporan. Walaupun begitu kami tetap semangat menyelesaikan semua kewajiban sesuai waktu yanh ditetapkan.

Yang menantang dari contact center PLN 123 adalah lokasinya tersebar di 9 kota dengan jumlah total tenaga kerja lebih dari 1200. Selama ini contact center PLN 123 menjadi jalur pelayanan gangguan, keluhan dan niaga bagi PLN. Gebrakan yang dilakukan pada tahun 2012 dengan menyediakan layanan pasang baru dan tambah daya melalui contact center merupakan salah satu pendorong bertambahnya jumlah agent contact center PLN 123.

Setelah mengawal proses pengembangan banyak aspek contact center PLN 123, akhirnya kembali harus melakukan assessment. Dari satu kota ke kota lainnya, kami harus menganalisis secara cepat dan tepat berbagai hal yang dilakukan. Setiap kota mempunyai jumlah seat yang berbeda-beda, ada yang lebih dari 100 seat yaitu di Jakarta, ada pula yang kurang dari 30 seat seperti di Makassar dan Balikpapan.

Ada 9 parameter yang terbagi dalam 85 apek penilaian yang kami lakukan. Mulai dari strategi pelayanan sampai dengan manajemen tenaga kerja, teknologi dan proses bisnis. Semua hal penting menjadi perhatian, bukan hanya proses dokumentasi yang dilakukan, akan tetapi pencapaian kinerja yang menjadi titik penting. Dengan memerhatikan keseimbangan antara biaya operasional dan hasil kontribusi.

Beberapa aspek penting telah menjadi fokus perbaikan yang telah dilakukan, utamanya aspek kualitas proses pelayanan menjadi fokus pengembangan yang mendapatkan penilaian yang sangat baik. Walaupun dengan sejumlah keterbatasan yang mereka hadapi, dan berkurangnya jumlah agent, akan tetapi mereka mampu meningkatkan kinerjanya.

Pengembangan kualitas dilakukan dengan tim Quality Assurance yang terkoordinasi secara terpusat dan dijaga disetiap Site. Konsistensi pelayanan tercapai dengan baik dengan nilai kualitas yang tinggi. Begitu juga tingkat FCR penyelesaian pelayanan yang juga tinggi. Hal ini juga terlihat dengan tingkat kepuasan pelanggan yang cenderung lebih tinggi.

Perhatian manajemen yang lebih serius dalam mengembangan contact center dan didukung oleh pengembangan mobile apps yaitu PLN mobile. Mereka juga melakukan pengukuran kepuasan pelanggan secara teratur terhadap pelanggan yang membutuhkan pelayanan PLN 123. Demikian pula mereka mengembangkan sendiri aplikasi CRM untuk melakukan pencatatan pelayanan secara end to end.

Berbagai hal mereka lakukan dengan pengembangan aplikasi sendiri, yang didukung oleh penyedia jasa ICON+, yang sekaligus merupakan anak perusahaan dari PLN. Tak ketinggalan PLN 123 juga mengembangan layanan sosial media melalui Twitter, Facebook dan Email. Untuk kebutuhan koordinasi internal PLN 123 membangun web-chat dan penggunaan Whatsapp.

Dengan jumlah pelanggan PLN yang lebih dari 60 juta terdiri dari pelanggan prabayar dan paska bayar. Tentunya layak mereka mempunyai armada contact center PLN 123 dengan lebih dari 1200 tenaga kerja dan lebih dari 700 seat. Tidak mudah tentunya mengkoordinasikan 9 site contact center yang tersebar di 9 kota. Ditambah 1 lokasi untuk menyimpan semua server mereka.

Coba dibayangkan, jika terjadi pemadaman di suatu wilayah, PLN 123 akan menerima ribuan penelepon secara bersamaan. Transaksi prabayar juga sudah tinggi, sehingga potensi keluhan bisa terjadi kapan saja. Begitu juga pelanggan paska bayar yang berpotensi terjadi kesalahan pencatatan meter dan penagihan.

Memperkuat armada contact center PLN 123 dengan berbagai peranan penting patut mendapatkan apresiaasi dan dukungan. Dengan komitmen mereka bekerja 24 jam, 7 hari dalam seminggu, sepanjang tahun terus melayani setiap permintaan pelanggan melalui telepon, email, dan sosial media. Berharap mereka bertumbuh dengan segala inovasi bagi pelayanan pelanggan yang lebih baik serta mendukung semangat menerangi negeri dari Sabang sampai Merauke. (AA)

Manfaat Menulis Sosial Media

Menulis kata-kata pada status sosial media, baik facebook, twitter ataupun instagram merupakan kebiasaan banyak orang. Bahkan satu kata juga cukup dan disertai sebuah foto sudah menjadi tulisan yang bisa membuat orang lain menerka maknanya.

Ada juga yang punya kebiasaan meneruskan tulisan di group-group whatsapp. Tulisan yang entah sumbernya dari mana, ada yang berupa motivasi, nasehat, peristiwa, artikel atau berita, ada juga yang hanya cerita lucu atau sebaliknya cerita sedih. Ada menuliskan dengan kemasan berbeda, ada juga yang belum tentu membacanya, hanya meneruskan saja. Belum tentu ia menyerap makna dari suatu tulisan dan hanya menekan tombol share.

Pada saat kita menulis sesuatu di sosial media, kita terkadang tidak merasa perlu orang lain tahu maksudnya. Hanya melampiaskan perasaan yang seketika perlu diungkapkan. Terkadang tulisan yang kita publikasikan membuat orang lain tersinggung, atau bertanya-tanya maksudnya. Namun sebagian besar, pembaca hanya menekan tombol like, sebagai tanda dia sudah membacanya. Entah mengerti atau tidak, itu urusan yang bersangkutan.

Begitulah tulisan yang terangkai menjadi status pada sosial media. Suatu saat akan muncul kembali, sebagai pengingat bahwa kita pernah menuliskan sesuatu. Kejadian yang terjadi 1 tahun, 5 atau 10 tahun lalu bisa muncul di timeline kita dan mengingatkan sesuatu yang telah kita lalui. Artinya sosial media semakin pandai, khususnya facebook, tahu moment yang menarik untuk ditampilkan.

Kejadian tersebut bisa bersama orang-orang yang kita cintai atau rekan kerja, keluarga dan sahabat. Bahkan menceritakan masa-masa yang kita lalui sejak sekolah sampai kuliah. Mungkin juga bercerita perjalanan, tempat wisata atau kota yang pernah kita singgahi. Bisa juga makanan yang kita santap, atau pakaian yang kita kenakan.

Semua itu hanya akan menjadi kenangan, jika kita pernah menuliskannya. Entah kita menuliskan untuk konsumsi kita sendiri, atau secara khusus untuk berbagi kegembiraan dengan orang lain. Ada kalanya kita gembira, sedih, marah atau diperlakukan kurang baik, ada kalanya juga kita melayani atau membantu orang lain. Ada kalanya kita bertemu orang baru, atau bertemu dengan sahabat lama.

Ketika kita bijak bercerita melalui media sosial dengan baik, maka banyak cerita kenangan yang menjadi pelajaran. Semakin banyak yang kita tuliskan, semakin melatih diri kita untuk pandai bercerita melalui tulisan. Mengemas suatu makna yang bermanfaat bagi orang lain, sekaligus pengingat bagi diri sendiri. Bagaimanapun kita berharap bahwa sesuatu yang kita ceritakan akan bermanfaat bagi sesama. Entah sekarang atau bisa juga suatu saat nanti.

Pada saat kita menulis, maka sesungguhnya kita telah menuliskan sejarah. Baik atau tidak kualitas tuliskan kita, biarlah pembaca yang menilainya. Toh, tulisan itu bukan hanya untuk satu orang, namun bisa dibaca oleh banyak orang. Bisa jadi, satu orang tidak merasakan manfaatnya, akan tetapi masih banyak yang lain yang mungkin merasakan manfaatnya. Sosial media adalah forum yang menjangkau banyak kalangan dari berbagai belahan dunia.

Menuliskan yang baik, maka tulisan itu akan menjadi amalan yang akan terus menerus bisa kita dapatkan. Sebaliknya menuliskan yang buruk juga akan kita rasakan bebannya. Untuk itu mulailah menulis yang baik, dengan menuliskan perasaan anda yang membuat anda bahagia. Menularkan kebahagiaan adalah salah satu upaya untuk membuat orang lain berbahagia.

Semoga berkenan adanya. (AA)

Business Contribution

Kategori Business Contribution The Best Contact Center Indonesia selalu menarik untuk disimak, maklum saja disini akan banyak diceritakan peranan contact center dalam menghasilkan nilai tambah bagi perusahaan. Setiap perusahaan yang mengikuti lomba ini dituntut untuk membuktikan bahwa contact centernya mampu berkontribusi bagi target perusahaan atau lembaga.

Pencapaian utama yang sering disampaikan adalah besarnya penghasilan yang dicapai dari pelayanan contact center. Penghasilan tersebut diperoleh melalui penjualan produk atau jasa yang ditangani contact center. Dengan model ini, contact center menangani proses pemesanan, sampai pelanggan mendapatkan order konfirmasi atau jadwal pengiriman. Ada yang menangani pemesanan berupa tiket, pemesanan barang, ada juga berupa penyambungan atau instalasi serta ada yang memberikan pelayanan berlangganan atau menjadi nasabah.

Besarnya penghasilan yang dicatatkan di contact center sangat bervariasi tergantung jenis pelayanan dan industri. Dalam paparan yang disampaikan peserta lomba The Best Contact Center Indonesia pada kategori ini memang tidak semuanya bersedia memberikan besaran penghasilan yang diperoleh. Begitu juga dalam persentase penghasilan dibanding penghasilan secara total dari perusahaan.

Ada yang menghasilkan dalam kisaran ratusan juta sampai milyaran, ada juga yang menunjukkan kontribusi dalam bentuk persentase dari pendapatan perusahaan.

Tak jarang peserta juga menunjukkan kontribusi bisnis dalam bentuk penghematan biaya dari pelayanan langsung yang mahal dan dialihkan melalui contact center yang lebih murah. Begitu juga ada yang mengidentifikasi potensi kehilangan pelanggan sebagai bentuk kontribusi atau berkurangnya potensi risiko kerugian. Dilain pihak contact center juga bisa menjadi jalur pelayanan yang digunakan sebagai wujud persaingan, sehingga menjadi mutlak keberadaannya.

Kemampuan memberikan justifikasi yang jelas atas kontribusi bisnis yang diberikan contact center, merupakan kunci utama dalam mendapatkan penilaian yang baik dari dewan juri. Begitu juga keseimbangan antara hasil yang diperoleh dengan upaya atau sumber daya yang harus disediakan. Semakin kecil biaya berbanding hasil, maka semakin bagus kontribusi bisnis contact center.

Secara umum contact center menyadari bahwa walaupun contact center mampu membukukan penghasilan yang besar, namun keberadaannya tidak bisa mandiri. Contact center harus bisa berkoordinasi dengan baik dengan unit kerja lainnya dalam mewujudkan produk atau jasa yang dilayani. Kepemilikan pelanggan harus menjadi perhatian supaya tidak terjadi persaingan antara unit kerja.

Dalam memberikan kontribusi bisnis contact center harus mampu mengkoordinasikan pelayanan, sehingga kepemilikan pelanggan melekat pada bagian yang memiliki produk atau jasa. Koordinasi yang baik dan didukung oleh kemampuan komunikasi dalam menjadi kunci penting peranan contact center terhadap pelayanan pelanggan. Bagaimanapun pelayanan menjadi kunci memenangkan persaingan.

Kita tunggu saja pembuktian dari berbagai perusahaan yang bersaing dalam lomba The Best Business Contribution. Berharap bahwa banyak ide kreatif dalam menunjukkan kontribusi contact center bagi perusahaan. (AA)

Big Data dan Customer Experience Contact Center

Dalam sesi pembuka, Agusman, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia mengungkapkan apresiasi atas kerjasama yang dilakukan untuk terus meningkatkan peranan contact center Bank Indonesia. Kegiatan seminar Layanan Informasi Publik yang dilaksanakan Bank Indonesia bersama anggota ICCA mengangkat tema ”Big Data dan Customer Experience di Contact Center : Tantangan Ke Depan”.

Lebih lanjut Agusman mengungkapkan bahwa sebagai anggota ICCA, Bank Indonesia turut mendukung berbagai kegiatan pengembangan contact center. Bank Indonesia juga mendukung ICCA dalam pelaksanaan The Best Contact Center Indonesia 2018 yang akan disosialisasikan dalam kegiatan seminar kali ini.

Saat ini kita memasuki era Komunikasi digital, dimana hampir seluruh sendi kehidupan telah tersentuh layanan digital. Era ini dimulai dengan revolusi digital yang didorong oleh penemuan internet. Setidaknya ada 3 (tiga) faktor utama yang mendorong revolusi digital yaitu perkembangan telepon seluler yang menjadi perangkat utama dalam mengakses internet. Kedua, adalah perkembangan Internet of Things sehingga masifnya piranti berbasis internet yang saling terkoneksi dan menciptakan inovasi. Ketiga, perkembangan big data yang didukung kemampuan komputer melakukan analisa yang kompleks.

Perkembangan data dan informasi sangat cepat melewati batas negara dan terjadi sepanjang waktu. Dalam paparannya Agusman mengajak membayangkan bahwa setiap 60 detik, 204 juta email dikirimkan; 3,3 juta facebook post, 350 ribu tweet dan 50 miliar pesan whatsapp terkirim. Semua data dan informasi ini dapat menjadi big data yang memiliki kekayaan knowledge untuk diolah lebih lanjut.

Data tahun 2017, pengguna internet mencapai 3,7 miliar atau sekitar 50% dari jumlah penduduk di bumi. Sekitar 2,5 miliar adalah pengguna media sosial atau tumbuh 21% dari tahun sebelumnya. Kondisi di Indonesia juga tidak kalah menarik. Pengguna internet sebesar 132,7 juta atau sekitar 51% dari jumlah penduduk. Sementara pengguna media sosial sebesar 92 juta, atau meningkat 34% dari tahun 2016. Kondisi ini menunjukkan bahwa media sosial semakin berkembang pesat sebagai salah satu kanal Komunikasi yang disukai oleh miliaran pengguna dunia.

Di sisi lain, layanan digital juga bermunculan dengan contact center sebagai garda terdepan dalam memberikan layanan untuk mencapai customer engagement yang lebih optimal. Contact center juga menjadi ujung tombak perusahaan dalam membentuk profiling pelanggannya serta melakukan enhancement terhadap perbaikan layanannya secara berkesinambungan. Aktivitas di media sosial dan layanan digital yang semakin berkembang cepat dan masif telah mendorong terciptanya data baru yang begitu luas, real time, bervariasi yang sering disebut big data.

Big data saat ini menjadi instrumen yang sangat berharga sebagai bagi lembaga/institusi/perusahaan untuk meningkatkan value perusahaan. Analisis terhadap big data sangat berguna di berbagai bidang. Bagi perbankan, big data mampu menunjukkan profil risiko nasabah mereka dengan melihat kebiasaan debitur dalam mencicil utang atau bahkan pola menabung. Dengan berbekal informasi yang lengkap terhadap pelanggannya, mereka juga bisa menawarkan rumah dan investasi. Pun begitu di dunia airlines. Berbekal bagaimana perilaku customer mereka dalam melakukan pemesanan tiket dan bagaimana melakukan pembayaran, mereka dapat menyusun profil pelanggan lebih baik untuk meningkatkan hubungan dengan pelanggan (customer engagement).

Kehadiran big data telah mengubah pola bisnis contact center yang semula hanya melayani permohonan informasi dan menerima aduan, menjadi contact center yang pro aktif dan melakukan pengelolaan customer dengan memberikan informasi selangkah lebih cepat. Hal tersebut sudah banyak dilakukan oleh berbagai layanan contact center, utamanya dunia corporate yang berbasis profit oriented. Menurut Agusman, hal ini cukup berhasil dalam meningkatkan nilai perusahaan serta memperoleh customer engagement yang baik.

Keberhasilan di dunia corporate tentunya dapat menjadi contoh bagi lembaga publik yang memberikan layanan kepada masyarakat. Semua bisnis lembaga/institusi bermula dari kebutuhan publik. Karenanya, memahami harapan publik menjadi urgent dan signifikan. Di era sekarang, lembaga publik tidak bisa lagi hanya memberikan layanan yang biasa-biasa saja. Antara kebutuhan dan harapan publik harus mampu dipenuhi oleh lembaga publik dengan cepat, tepat dan berbiayai murah. Sehingga Inovasi harus terus dilakukan untuk peninkatan customer engagement, atau untuk dunia lembaga publik lebih pas dikatakan stakeholder engagement. Ini menjadi penting agar lembaga publik bisa dicintai oleh masyarakat.

Bank Indonesia memandang bahwa tantangan bagi lembaga publik dalam memberikan layanan publik yang prima (setidaknya) ada tiga hal. Pertama, kecepatan dalam inovasi layanan dengan memberikan informasi di beragam kanal, baik website, media sosial serta contact center. Kedua, tersedianya standar layanan informasi publik yang sesuai best practice dunia layanan maupun internasional. Ketiga, komitmen pimpinan serta ketersediaan sumber daya yang memadai untuk pelaksanaan kegiatan layanan informasi publik. Ketiga hal ini diperlukan agar kita mampu berkomunikasi dengan optimal kepada publik dengan memberikan layanan yang prima. Hal ini tidak saja dapat meningkatkan stakeholder engagement tetapi juga mampu menciptakan stakeholder experience.

Lebih lanjut Agusman mengungkapkan bahwa komunikasi kebijakan BI yang berhasil adalah kebijakan BI yang dipercaya oleh publik. Kepercayaan publik dapat diraih jika kebijakan itu diketahui dan publik bisa berpartisipasi. Komunikasi harus dua arah, tidak bisa hanya one direction. Komunikasi dua arah juga ditujukan agar terjadi ‘mutual understanding’ antara BI dan publik sehingga apa yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh publik. Tentunya, untuk berkomunikasi kepada publik dengan optimal maka BI harus mampu memberikan layanan informasi publik yang optimal melalui beragam channel komunikasi. Jika kolaborasi layanan informasi publik dapat terintegrasi, termasuk dengan dunia corporate, tentunya masyarakat dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dalam konteks menciptakan Indonesia yang lebih baik.

Agusman berharap bahwa melalui seminar ini, ia ingin mengajak peserta seminar untuk dapat berbagi pengetahuan mengenai big data serta customer experience di dunia contact center untuk meningkatkan layanan kepada publik sekaligus menciptakan kolaborasi layanan antara lembaga publik dengan dunia corporate. Seminar ini juga sebagai wujud nyata Bank Indonesia berkontribusi dalam membangun Indonesia yang lebih baik kedepan melalui layanan publik yang prima. Bagaimanapun Bank Indonesia, ada disetiap makna Indonesia. (AA)