Merancang Presentasi yang Menarik

Membuat presentasi mungkin terlihat sederhana, namun ternyata juga tidak sesederhana yang kita pikirkan. Isi presentasi memang penting, tapi jika tampilan presentasi kurang menarik tentu akan membuat audiens tidak tertarik dan cepat merasa bosan. Andi Anugrah membawakan pelatihan Design Powerpoint Presentation untuk melatih peserta berpikir kreatif untuk menyusun presentasi yang menarik.

Sejumlah peserta yang hadir di pelatihan kali ini berasal dari beberapa perusahaan seperti dari Kereta Api Indonesia, Acer Indonesia, Anugerah Pharmindo Lestari, Kalbe Nutritionals, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Infomedia Nusantara, dan Angkasa Pura I.

Materi yang disampaikan oleh Andi Anugrah antara lain seputar bagaimana cara untuk mendapatkan ide kreatif. Cara paling umum dilakukan adalah melihat hal-hal secara langsung, mendengar, dan melakukannya. Agar slide presentasi tampil menarik, jangan ragu untuk bermain dengan bentuk, kombinasi warna, angka, dan kata. Pada sesi pelatihan tersebut peserta juga ditantang untuk membuat skrip dan menyusun urutan materi sesuai dengan skrip yang telah dibuat. Hal yang tidak kalah penting adalah menyusun presentasi dengan tema yang sesuai dengan kepribadian pembuat presentasi.

Esra Melita Hutabarat, atau lebih akrab disapa Esra, mengatakan bahwa pelatihan yang dijalaninya kali ini memberikan manfaat baginya. Selama ini peserta dari Kalbe Nutritionals ini mengaku bahwa penampilan slide presentasi tidak menjadi perhatian utama. Namun setelah mengikuti pelatihan ini, Esra merasa bahwa penampilan slide presentasi juga harus diperhatikan agar audiens tertarik dan memperhatikan presentasi yang disampaikan.

Lain lagi dengan Roesdaniel Ibrahim, peserta pelatihan dari Otoritas Jasa Keuangan, pelatihan ini merupakan hal yang baru baginya. Di OJK sendiri sebenarnya sudah diterapkan standar slide presentasi yang cukup berbeda dengan yang disampaikan oleh Andi Anugrah. Namun hal penting lain yang didapatkan adalah bagaimana menggali kreativitas agar penampilan presentasi tidak monoton.

Di akhir perbincangan dengan kedua peserta tersebut, Esra mengaku ingin mengikuti pelatihan lain yang berhubungan dengan public speaking, dimana Esra ingin agar apa yang dia sampaikan dapat meyakinkan lawan bicaranya. Roesdaniel sendiri mengatakan bahwa dia membutuhkan pelatihan softskill lain seperti mediasi tim, couching dan counselling, complaint handling, dan monitoring untuk softskill yang dimiliki Agent. (MZ)

Belajar Tanpa Henti, Team Leader Pun Diuji

Pelatihan untuk para leader diadakan kembali pada hari ini (22/2) di Graha Seti. Peserta sejumlah sebelas orang berasal dari AXA Services Indonesia, Asuransi Astra Buana, Kereta Api Indonesia, Perusahaan Gas Negara, VADS Indonesia, Prudential Life Assurance, Supra Prima Nusantara (Biznet), Astra Honda Motor, dan KLIP Direktorat Jenderal Pajak.

Seperti biasa, Andi Anugrah selaku trainer mengawali training dengan perkenalan. Materi pertama membahas tentang peranan contact center yang membahas mengenai Fungsi Contact Center, Kebutuhan Sumber Daya, Kontribusi Contact Center dan Komponen Biaya Pelayanan.

Materi kedua membahas seputar peranan team leader. Materi ini membahas mengenai Tantangan Operasional, Struktur Organisasi, Perubahan Tanggung Jawab, Tugas dan Kompetensi Team Leader, serta Pengembangan Kompetensi. Di sela sesi selalu ada kegiatan diskusi antara lain diskusi tentang tantangan yang dihadapi oleh team leader.

Stefani, salah satu peserta dari Astra Honda Motor, baru kali ini mengikuti training Certified CC Team Leader. Meskipun sudah berkecimpung lama di AHM, namun baru sekitar tiga bulan berada di contact center. Baginya, training ini dirasa sangat bermanfaat karena membuka wawasan mengenai kinerja leader di dalam contact center. Tantangan yang dihadapi Fani, sapaan akrabnya, sangat berbeda dibandingkan di divisi sebelumnya. Fani berharap setelah mengikuti training ini dapat mengaplikasikan ke dalam operasional pekerjaan dan bagaimana mengelola agent. (MZ)

Ekosistem Big Data

Pembahasan tentang teknologi seolah terus membanjir, semakin cepat, dan semakin berkembang. Big data, yang terus berkembang seiring perkembangan teknologi, turut ikut andil di berbagai organisasi, perusahaan, bahkan instansi pemerintah. Big data membantu wadah-wadah tersebut untuk memanfaatkan data yang mereka miliki dan menggunakannya untuk mengidentifikasi peluang-peluang baru. Hal ini berdampak pada bisnis yang meliputi operasional hingga dampaknya pada pelanggan.

Di dalam big data terdapat sebuah ekosistem yang terdiri dari empat golongan utama. Golongan pertama adalah data devices yang berfungsi untuk mengumpulkan data dari berbagai lokasi dan secara berkelanjutan menghasilkan data baru. Contohnya antara lain adalah perangkat mobile, GPS, ATM, RFID, dan medical imaging. Golongan kedua adalah data collectors yang berisi pihak-pihak berkepentingan untuk mengumpulkan data dari perangkat tertentu maupun dari pengguna. Contohnya antara lain adalah pemerintah, retail, financial, internet, dan medical. Golongan ketiga adalah data aggregators merupakan golongan yang melakukan pengumpulan terhadap semua data. Contohnya antara lain adalah websites, advertising, analytics services, dan media achieves. Golongan terakhir adalah data users/buyers merupakan golongan pengguna data yang telah dikumpulkan dan hasil pengumpulan data. Golongan ini menggunakan wawasan yang diperoleh untuk kepentingan bisnis atau lainnya. Contoh dari golongan ini adalah media, bank, delivery services, marketers, dan employeers.

Ekosistem big data di atas menuntut adanya tiga kategori peran, yaitu deep analytical talent (memiliki kemampuan analitik yang kuat dan keahlian untuk mengolah data mentah, data tidak terstruktur, serta data dalam jumlah besar), data savvy professionals (memiliki kemampuan teknikal yang tidak mendalam, tetapi memiliki pengetahuan dasar mengenai statistik dan domain permasalahan dengan baik), dan technology and data enablers (para ahli bidang teknikal yang mendukung proyek analitik dan memiliki keahlian dalam bidang computer engineering, programming, dan
database administrator).

Merepotkan!

Pernah dengar kata-kata “Maaf jika merepotkan..”, dan dibalas oleh lawan bicaranya “Oh, tidak apa-apa, kami sudah biasa direpotin”. Duh, senangnya jika mendapatkan tanggapan seperti itu, tapi kalau lawan bicaranya membalas dengan senyum kecut, rasanya nggak enak juga bukan?

Begitulah, pada dasarnya siapa sih yang mau direpotin, namanya juga repot, pasti mengurusi sesuatu hal yang kurang berkenang. Memang bisa terjadi bahwa orang akan menjawab pertanyaan basa-basi itu, dengan nada manis, walaupun dalam hatinya berantem. Tidaklah mudah, karena setiap kita memiliki perasaan. Walaupun begitu kita harus menyadari bahwa kita hidup dalam lingkungan yang saling membutuhkan, terkadang kita direpotkan atau merepotkan. Di call center, rasanya hal ini sering terjadi, pelaku call center seringkali direpotkan dengan berbagai hal akibat kelakukan pihak lain atau unit kerja lainnya. Coba saja perhatikan, setiap ada iklan yang membingungkan, pasti yang ramai berdering telepon di call center. Memang disengaja begitu, supaya kita tahu ada yang menanggapi iklan tersebut. Coba kalau tidak ada yang bingung atau yang berminat cari tahu, artinya kita tidak tahu apakah promosi itu cocok atau tidak.

Demikian pula setiap kali ada masalah pengiriman, baik pengiriman tagihan ataupun pengiriman barang, pasti yang akan kerepotan melayani pertanyaan pelanggan adalah call center. Atau bisa juga terjadi kegagalan pelayanan di kantor cabang, ketidak-tersediaan fasilitas pelayanan, baik di mesin ATM, atau internet bagi bank, ataupun kegagalan pelayanan di jaringan bagi provider selular. Mulai dari komputer yang bermasalah, software aplikasi yang tidak berjalan atau taxi yang tidak datang tepat waktu, atau susu bayi yang kadaluarsa dan berbagai macam permasalahan pelanggan. Siapa yang mau menangani permasalahan pelanggan itu? Call center atau customer care atau front desk?

Semua permasalahan tersebut harus dapat ditangani juga oleh call center dengan baik. Pastinya merepotkan, nyatanya mereka senang direpotin dan dengan senang hati menyelesaikan berbagai macam permasalahan tersebut. Dengan sabar satu per satu diselesaikan, jika ada yang menumpuk, maka ada yang siap membantu menyelesaikannya.

Walaupun dengan karakter yang kuat dan tingkat kesabaran yang dimiliki, tak jarang agent call center juga bisa lepas kendali. Untuk itulah, maka harus dijaga dengan baik atas setiap interaksi dengan pelanggan. Dengan menerapkan Quality Assurance yang tepat, diharapkan dapat diketahui sikap dan perilaku agent dalam memberikan pelayanan. Utamanya dalam konsistensi pelayanan, kemampuan memberikan solusi serta kemampuan dalam berkomunikasi.

Sebagai praktisi yang terjun di dunia call center, pastinya Anda akan menyadari direpotkan adalah penting sebagai bentuk kontribusi call center kepada bisnis perusahaan. Kemampuan praktisi untuk membangun hubungan baik dengan pihak lain menjadi penting. Kita tidak hanya tenggelam pada rutinitas operasional call center, akan tetapi membuka diri untuk saling belajar, dimanfaatkan dan memanfaatkan. Bukankah, sebaik-baiknya kita adalah yang bermanfaat bagi sesama. Semoga Berkenan. (AA)

Artikel ini pernah dimuat di majalah iCallCenter edisi III tahun 2010