Tantangan Menjadi Perusahaan yang Terpusat Pada Pelanggan

Menjadi perusahaan yang customer-centric atau terpusat pada pelanggan memiliki beberapa tantangan yang harus diselesaikan, termasuk di dalamnya leadership, sumber dan keahlian, persepsi pelanggan, konsistensi, dan langkah yang diambil.

  • Leadership atau kepemimpinan. Layanan pelanggan belum menerima tingkat perhatian yang tepat dalam banyak perusahaan. Untungnya, hal tersebut berubah, banyak leader yang sekarang mengakui nilai dari brand dan bagaimana hal tersebut memperluas dari luar contact center ke dalam perusahaan.
  • Resource and skill. Bergerak ke model customer-centric mungkin membutuhkan fungsi sumber daya manusia yang beragam. SDM yang telah ada mungkin tidak cocok untuk hal tersebut. Jika hal ini terjadi, bagaimana cara menanganinya? Training? Rekrutmen? Sangat penting untuk menempatkan orang yang tepat di posisinya.
  • Perception. Pengalaman pelanggan secara fundamental adalah berdasarkan persepsi pelanggan. Hal tersebut adalah bagaimana perusahaan ingin direpresentasikan dan dipersepsikan. Pengalaman pelanggan adalah bagian penting dari branding, dan pengalaman tersebut harus konsisten pada semua level, termasuk kesan pertama, image perusahaan, support, kemudahan transaksi, kompetensi, dan lain-lain.
  • Consistency. Pengalaman pelanggan harus disampaikan secara konsisten di seluruh perusahaan, tidak hanya di departemen layanan pelanggan.
  • Pacing. Perusahaan harus memiliki visi, dengan langkah-langkah yang terencana. Berharap terlalu banyak dapat dengan mudah menggagalkan niat baik dan rencana yang terperinci. Jangan berusaha untuk melakukan semuanya sekaligus.

 

Credits : English, Richard. 2013. Managing the Customer Experience: How to Maximize the Lifetime Value of Your Most Precious Asset, First Print Edition. New Jersey: Avaya Inc.

Akibat Revolusi Digital: Apakah Pemasaran Offline Mati?

Jika Anda berbicara dengan seseorang di bawah usia 25 tahun dan mencoba untuk memberitahu mereka ada dunia sebelum internet mereka akan terlihat bingung untuk beberapa saat. Internet telah menyebabkan revolusi dibandingkan dengan industri pendahulunya
dalam dampaknya pada bisnis. Ini adalah platform digital dengan pengaruh signifikan non-virtual.

Anda tidak perlu menjadi seorang pemilik bisnis atau terlibat dalam pemasaran untuk melihat hal ini. Meskipun demikian, hidup di era baru SEO, media sosial, dan PPC apakah berarti bahwa pemasaran offline telah menghembuskan napas terakhirnya?

Revolusi Digital

Bagi siapa saja yang bekerja di dunia pemasaran, pekerjaan Anda pasti telah berubah dalam beberapa tahun terakhir, berbelok terus ke arah strategi ke arah online. Sebagai perangkat yang dapat digunakan orang untuk online terus meningkat, bisnis harus bisa mengatasi dengan berinteraksi dengan pelanggan mereka dengan cara baru dan melakukannya dengan cepat.

Dapat dilihat jumlah yang semakin meningkat dari halaman bisnis Facebook dan Twitter, dan situs yang tidak hanya e-commerce tapi juga mortir bisnis. Ketika kebiasaan konsumen berubah, setiap orang diharapkan memiliki kehadiran online, dan ikut serta dalam hubungan rumit dengan Google untuk mendapatkan situs mereka di puncak SERPs. Sebagian besar situs bisnis sekarang termasuk blog sebagai praktek standar, bukan hanya untuk berita perusahaan tetapi konten (dalam semua bentuk yang berbeda yang sekarang dapat diambil) yang menarik dan berguna.

Apakah strategi offline masih efektif dengan cara apapun; hal tersebut bisa menjadi waktu yang membingungkan bagi mereka yang tidak merasa seperti mereka berada dalam lingkaran. Kecuali Anda seorang marketer profesional, atau mendapatkan bantuan untuk mengembangkan strategi pemasaran Anda, mungkin sulit untuk mengetahui cara seperti apa untuk mengubah dan apa yang akan berubah tahun depan, bulan depan atau bahkan besok.

Apakah ada kehidupan di luar SERPs (Search Engine Results Page)?

Sebagai industri pemasaran digital yang terus booming dan SMEs (Small and Medium-sized Enterprises) khawatir apakah mereka melakukan hal yang benar, apakah ada harapan untuk pemasaran di luar SERPs? Jika Anda tidak memiliki kehadiran online, tanpa website, halaman Facebook dan beberapa upaya SEO, perusahaan Anda kehilangan kesempatan emas, meskipun tidak semua orang hanya hidup di dunia online.

Kata-kata masih sangat penting dan membuat 60% orang-orang sangat mungkin untuk melakukan pembelian. Kepercayaan dari teman-teman, keluarga atau hanya kenalan adalah sesuatu yang tidak bisa direproduksi di pasar online yang ramai dan tak berwajah. Lebih dari itu, saluran secara offline seperti TV, radio, dan iklan cetak masih mempengaruhi konversi, bahkan jika konversi sedang online.

Aksi Seimbang

Kecuali kita semua berubah menjadi setengah manusia setengah cyborg, akan ada kebutuhan untuk menggabungkan taktik baik online dan offline dalam strategi pemasaran Anda jauh ke masa depan. Kedua taktik diperlukan dalam hubungannya dalam strategi pemasaran yang in-line dengan strategi bisnis Anda – dengan pertimbangan target pasar Anda dan bagaimana mereka ingin berinteraksi dengan merek Anda. Ini termasuk taktik secara offline yang penting untuk terlibat dalam pemasaran yang lebih dari sekedar iklan, seperti pengembangan produk baru, harga, dan masih banyak lagi.

Credits :
http://customerthink.com/the_aftermath_of_a_digital_revolution_is_offline_marketing_dead/

Meluangkan Waktu untuk Diri Sendiri

Pekerjaan yang seolah tidak pernah berakhir dan urusan rumah tangga tentu membuat para pekerja seolah kehabisan waktu untuk dirinya sendiri. Kesibukan di tempat kerja maupun di rumah terkadang bisa sangat melelahkan.

Agar dapat menghilangkan rasa lelah baik untuk urusan pekerjaan maupun urusan rumah, ada baiknya bila seorang pekerja meluangkan waktu untuk dirinya sendiri, sekedar untuk melepas penat, atau untuk mengembangkan dirinya sendiri. Beberapa tips di bawah ini mungkin dapat memberikan gambaran betapa pentingnya memiliki waktu untuk diri sendiri.

Prioritaskan Diri Sendiri

Jika Anda terbiasa untuk menempatkan orang lain terlebih dahulu maka akan sulit untuk memprioritaskan diri sendiri, terutama jika Anda sudah berkeluarga dan memiliki anak. Tidak ada salahnya jika sesekali memikirkan diri sendiri tanpa harus khawatir memikirkan pekerjaan atau anak-anak Anda.

Bagus untuk Anda

Mengambil waktu sendiri memiliki manfaat psikologis dan fisik. Jika Anda memberikan diri Anda waktu untuk istirahat, maka Anda akan merasa segar dan lebih bahagia. Ketika Anda berfokus pada kegiatan hanya untuk Anda, tingkat stres menurun dan Anda memiliki waktu untuk mengisi ulang daya di dalam diri.

Apa yang Dimaksud dengan ‘Me Time‘?

Ada istilah Me Time, dimana artinya merujuk pada frasa ‘waktu saya’, maksudnya adalah waktu untuk diri sendiri. “Sangat penting untuk memiliki waktu untuk diri sendiri bahkan jika itu hanya setengah jam dalam seminggu. Melakukan kegiatan yang menyenangkan, seperti mandi dengan santai, membaca buku, atau berjalan-jalan,” kata Lorraine Thomas, Chief Executive dari Parent Coaching Academy.

Me time bagi setiap orang berbeda-beda, tergantung dari apa yang disukai. Melakukan yoga, membaca, mencoba resep baru, apa pun yang Anda rasa ingin Anda lakukan. Atau bahkan hanya sekedar minum teh atau minum kopi di beranda rumah.

Bisa juga untuk menekuni hobi dan pengembangan diri seperti menggambar, bermain alat musik, menari, menjahit, merajut, atau mengutak-atik kendaraan, memancing, dan mendengarkan musik.

Credits :

Siobhan Harris, http://www.webmd.boots.com/women/guide/me-time

Keterampilan Menyimak Agent

Agent yang baik adalah agent yang mampu “mengerti”, bukan hanya sekedar “mendengarkan” kata-kata yang terucap. Saat pelanggan mengungkapkan pikiran dan perasaannya, mungkin ucapannya terdengar namun agent belum tentu memahami artinya. Untuk memahami, agent harus fokus pada setiap informasi yang pelanggan berikan. Hanya dengan cara inilah, agent dapat menjalankan salah satu fungsi sebagai agent, yakni sebagai “Voice of Customer” atau menjadi suara pelanggan.

Aktivitas menyimak hanya bisa dilakukan ketika tidak sedang berbicara. Biarkan pelanggan yang melakukan call mengungkapkan permintaannya, gali permasalahannya, sehingga bisa menemukan maksud yang terkandung dalam setiap ucapannya. Ada beberapa tips untuk menjadi pendengar yang baik, sebagai berikut.

Konsentrasi

Konsentrasi berarti fokus menyimak gagasan, bukan sibuk menyusun balasan. Dalam mendengarkan seringkali mengalami gangguan, yang menyebabkan konsentrasi terpecah. Terkadang diam bukan untuk mendengarkan, tapi memikirkan jawaban yang pas untuk membalas. Dengarkan dengan jujur, pahami baik-baik, dan hilangkan kekhawatiran tidak bisa menjawab pertanyaan pelanggan. Kalau sudah paham masalah mereka, maka jawaban akan mengalir dengan sendirinya.

Dalam berkonsentrasi agent dapat mencatat hal-hal penting. Ada dua poin yang penting dicatat oleh agent contact center yaitu data profil pelanggan dan masalahnya. Catat poin-poin penting utamanya pada saat melakukan pertanyaan-pertanyaan di awal pembicaraan. Patut dihindari untuk mengajukan pertanyaan yang berulang terkesan tidak menyimak dengan baik.

Sabar

Dalam menyimak dengan baik, maka perlu untuk bersabar dengan tidak memotong pembicaraan. Saat lawan bicara sedang mengungkapkan pikirannya, seringkali terlalu cepat merasa paham kemana arah pembicaraan dan maksudnya. Akibatnya terpancing untuk memotong pembicaraan yang pada akhirnya secara etika terkesan tidak menghormati lawan bicara. Terkesan bersikap sok tahu, padahal belum tentu demikian maksud lawan bicara.

Tujuan dari aktivitas mendengarkan adalah mendapatkan makna kebutuhan pelanggan. Agent tidak akan mampu mendapatkan maknanya, jika terlalu terburu-buru menafsirkan sesuatu atas dasar pikiran sendiri. Bersabar untuk menyimpulkan gagasan utama apa yang hendak disampaikan pelanggan.

Tanggapan

Lawan bicara membutuhkan tanggapan atas interaksi yang dilakukan, sehingga merasa didengar. Untuk itu dapat dilakukan dengan memberikan tanggapan dengan menggunakan kata-kata seru. Hindari membisu sepanjang waktu, sebab pelanggan dapat salah mengartikan diamnya agent sebagai putusnya sambungan atau tidak adanya perhatian.

Berikan umpan balik, yang tidak diartikan pelanggan sebagai bentuk interupsi pembicaraan. Pada saat tertentu dalam pembicaraan, agent harus mengeluarkan suara sebagai indikator bahwa “mengerti” permasalahan mereka. Dalam contact center, ada tiga tanggapan yang sering digunakan yakni kata “ya”, “baik”, dan “betul”. Kata-kata pendek “baik bu” atau “baik pak” bisa dirangkaikan dengan menyebutkan nama pelanggan, misalnya “baik pak Andi”. Kata “baik” bisa dipakai bila “terpaksa” memotong pembicaraan yang terlalu panjang dan melantur.

Sopan Santun

Pada beberapa pelayanan contact center, kadang agent terlalu banyak mengucapkan kata yang tidak perlu. Pada dasarnya agent berusaha terdengar sopan, sebaliknya justru membuat percakapan menjadi lama dan membosankan. Supaya pembicaraan terdengar interaktif dan tetap menjaga kesopanan dalam berinteraksi, maka sebutkan nama pelanggan namun tidak perlu terlalu sering.

Biasakan pula untuk tidak mengucapkan kata maaf bila tidak salah. Ucapkan maaf bila ada dari perkataan atau tindakan yang salah. Penggunaan kata sangat perlu menjadi perhatian agent, dengan begitu memberikan kesan profesional dan citra perusahaan yang diwakili. Penggunaan kosakata yang formal secara positif, tanpa mengurangi adanya kebutuhan untuk berkomunikasi dalam kerangka keakraban.

Credits: Anugrah, Andi. 2015.  First Step to Contact Center Services. Jakarta: Telexindo Bizmart