Nilai Tambah Pekerjaan

Nilai Tambah Pekerjaan

Suatu saat saya merenovasi rumah dan kebetulan mendapatkan tukang yang sudah dikenal. Bagi sebagian kita tentunya repot jika melakukan renovasi rumah, ada saja yang mau diperbaiki. Yang tadinya hanya sedikit membengkak menjadi banyak bagian. Namun kali ini bagian yang membengkak bukan anggarannya, akan tetapi solusi yang diberikan.

Jika saya mengamati tukang yang bekerja dan mencoba membedakan antara seorang tukang dan pemberi solusi. Ketika ada tukang yang tidak hanya menyelesaikan tugas, tapi sekaligus memperbaiki yang berpotensi masalah, maka ia juga menjadi pemberi solusi.

Pada dasarnya ia bisa saja menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan sesuai permintaan. Namun ada kalanya jika ia menemukan bagian yang harus diperbaiki, maka ia juga melakukan perbaikan yang diperlukan. Hasilnya tidak hanya menyelesaikan pekerjaan yang diminta, ia juga merapikan dan memperbaiki sebelum terjadi kerusakan.

Nah, ini suatu nilai tambah pekerjaan. Setiap kita bekerja, seharusnya bisa memberikan nilai tambah dalam pekerjaan. Bagaimanapun pelanggan ingin menikmati hasil dari pekerjaan kita. Bukan hanya menyelesaikan pekerjaan, akan tetapi apa hasil atau dampak bagi pelanggan.

Jadi kalau suatu saat anda menggunakan jasa kami dan belum menemukan nilai tambah pekerjaan yang kami berikan. Jangan sungkan untuk menyampaikan ke saya. Dengan senang hati akan dijadikan masukan, sehingga kami bisa melakukan perbaikan. Semiga anda menemukan nilai tambah atas pekerjaan yang kami lakukan.

Semoga berkenan adanya. (AA)

Big Data, Block Chain, dan Virtual Currency

Big Data, Block Chain, dan Virtual Currency

Pembahasan cukup menarik mengenai Big Data, Block Chain dan Virtual Currency dalam Seminar Contact Center Bank Indonesia bersama beberapa pembicara dari Bank Indonesia, Telkom Indonesia, Komisi Informasi dan Ebdesk Indonesia. Acara yang dihadiri oleh kalangan contact center Indonesia, cukup menarik minat peserta untuk menyimak sampai akhir.

Sesi pembahasan pertama adalah mengenai virtual currency yang dibawakan oleh Yosamartha, Asisten Direktur Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran Bank Indonesia. Beliau memaparkan secara detail bagaimana perkembangan penggunaan virtual currency dan hubungannya dengan teknologi block chain.

Yosa juga menggambarkan contoh penggunaan virtual currency yang merupakan mata uang yang tidak disertai dengan underlined asset yang jelas. Bahkan ia mencontohkan, jika anda mempunyai uang bitcoin (salah satu virtual currency), maka anda tidak bisa menukarkan dengan uang tunai. Namun jika anda mau membeli bitcoin, maka banyak yang menyediakan. Untuk itu diharapkan masyarakat berhati-hati dalam menyikapinya.

Dengan sejumlah resiko dan fluktuasi nilai yang tidak bisa diprediksi, apalagi nilainya bisa melonjak lebih dari 300 persen, maka menurut Yosa ini dapat dikategorisasikan sebagai investasi bodong. Dengan demikian pemilik virtual currency tidak dapat dijamin nilainya, semua itu merupakan resiko pribadi. Menginagt virtual currency tidak ada negara yang menjaminnya.

Bitcoin menggunakan teknologi yang namanya blockchain yang saling menghubungkan berbagai perangkat yang saling terhubung, yang memungkinkan untuk mencatat transaksinyang dilakukan secara tersebar. Jika melakukan transaksi blockchain, maka proses pencatatan yang dilakukan di suatu payment gateway, secara otomatis akan membutuhkan verifikasi dari device lain yang menyatakan terjadinya transaksi. Semua itu akan tersebar dalam semua jaringan yang ada.

Memang Yosamartha mengatakan bahwa konsep blockchain tidak mudah untuk membahasnya. Namun ia menekankan bahwa penerapannya bisa dalam berbagai hal. Yang diproteksi oleh Bank Indonesia saat ini adalah proses penggunaan untuk transaksi pembayaran. Dengan demikian semua Bank di Indonesia dilarang untuk menggunakannya sebagai alat pembayaran yang sah.

Tak kalah menariknya pada sesi diskusi panel yang membahas mengenai bigdata. Pada dasarnya ada 3 pembicara, namun hanya 2 yang membahas mengenai bigdata. Rudwan Prasetyarto dari Ebdesk mencoba memaparkan bagaimana wujud bigdata. Ridwan mencoba menampilkan apa yang dilakukan oleh ratusan server dalam mengidentifikasi dan mengelola hubungan suatu informasi.

Hal yang sama disampaikan oleh Komang Budi Aryasa, Deputy EGM Divisi Digital Service Telkom Indonesia. Komang menegaskan prinsip dasar bigdata, bukan pada banyaknya data, namun pada strukturnya. Data yang tertabulasi dalam jumlah yang banyak bisa dikatakan small data, karena mudah dilaporkan.

Bagi Komang, bigdata artinya data itu tidak terstruktur dan tersebar dalam berbagai format, dan dibutuhkan upaya untuk melakukan interkoneksi antara data, sehingga menjadi informasi yang akurat. Bisa saja data itu berupa gambar atau foto, video, tulisan, bisa berupa status facebook, twitter, email, chat, dan berbagai media lainnya.

Pada intinya, informasi dan teknologi berkembang dengan pesatnya, dan kita harus mencari value dari informasi tersebut sehingga dirasakan manfaatnya. Demikian pemaparan dari Komang, sekaligus menjadi kesimpulan penting dari pengelolaan big data. (AA)

Proaktif Contact Center

Siapa yang dapat memahami kebutuhan pelanggan dan bertindak cepat untuk memenuhinya, maka ia akan memenangkan kompetisi. Begitulah kira-kira salah satu quote mengenai keunggulan informasi.

Contact center sebagai unit kerja yang mendengar, mencatat dan merekam bahkan memenuhi kebutuhan pelanggan, mempunyai data yang tidak sedikit. Data tersebut tersimpan dalam database aplikasi customer management, baik terstruktur ataupun tidak. Ada yang menggunakan sebagai bagian dari laporan kinerja contact center, akan tetapi banyak yang hanya menyimpannya saja.

Entah sampai kapan disimpan dan digunakan untuk apa, mungkin tidak ada yang tahu apa gunanya setelah masalah pelanggan diselesaikan. Pokoknya dicatat saja, sebagai bagian dari upaya untuk menindaklanjuti kebutuhan pelanggan. Masalah yang disampaikan pelanggan dapat diselesaikan dengan baik oleh contact center, karena adanya pencatatan ini. Adanya data permasalahan dapat dikoordinasikan dengan unit terkait untuk diselesaikan.

Tidak sedikit anggaran yang dialokasikan untuk contact center dalam mencatat, merekam dan menindaklanjuti suatu permasalahan. Bahkan terkadang membutuhkan sumber daya yang besar untuk menyelesaikan satu permasalahan, mengingat pentingnya penanganan yang dibutuhkan.

Begitu masalah tersebut selesai, data mengenai penyelesaian tinggallah sebuah data, yang bahkan tak pernah digunakan atau dikenang lagi. Itu hanyalah sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan dan setelahnya bisa dilupakan. Bisa jadi karena management contact center memang hanya ditugaskan menyelesaikan masalah pelanggan, selebihnya bagaimana pencatatan itu dimanfaatkan belum ada arahan yang jelas.

Bayangkan berapa banyak permasalahan pelanggan yang mengalir ke contact center untuk diselesaikan. Permasalahan ini menjadi sebuah kecenderungan yang harusnya digunakan sebagai alat bantu untuk mengambil keputusan atau tindakan. Berbagai perubahan pola kebutuhan pelanggan disampaikan melalui contact center, yang kita abaikan karena kita akan melakukan survey terpisah.

Unit kerja lain kurang percaya data pelanggan yang diberikan contact center, sehingga harus melakukan survey dari penyedia survey yang dilakukan setahun sekali. Bisa dibayangkan bahwa contact center yang setiap hari melayani pelanggan kurang digunakan analisis data kebutuhan pelanggan dan justru menggunakan data external. Hal ini bisa terjadi karena datanya tidak diolah dan dipresentasikan dengan baik atau data yang dikumpulkan memang tidak memiliki struktur yang dapat digunakan.

Saatnya manajemen contact center keluar dalam comfort zone ini dengan mulai secara proaktif menggunakan data untuk dianalisis. Kebutuhan pelanggan dipresentasikan dalam laporan yang mudah digunakan, sehingga membantu unit kerja lain dalam mengambil keputusan. Bahkan contact center dapat menindaklanjuti berbagai kebutuhan pelanggan dengan melakukan antisipasi secara proaktif.

Publikasi dapat dilakukan untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan pelanggan, penawaran dapat dilakukan bahkan penjualan dapat ditangani dengan cepat. Berbagai jalur komunikasi dapat digunakan secara proaktif dan dimanfaatkan untuk menjangkau pelanggan. Penggunaan database pelanggan dapat dimanfaatkan untuk membangun relationship, sehingga pelanggan nyaman dalam mengungkapkan kebutuhannya.

Melakukan hal ini merupakan proses yang tidak mudah bagi manajemen contact center, mengingat kebiasaan yang kurang proaktif dan kurang berani dalam mendobrak cara lama dalam mengungkapkan peranan contact center. Terbiasa dalam membatasi diri untuk membuat nyaman unit kerja lain dan menunggu pihak lain untuk memberikan izin. Padahal pelanggan tidak dapat menunggu dengan sabar.

Era yang semakin cepat, semakin mudah dengan berbagai akses komunikasi menuntut semua pihak untuk bekerjasama. Tidak membatasi diri dalam kekuasaan masing-masing, sehingga pihak lain tidak dapat membantu secara proaktif.

Untuk itu gunakanlah data yang dimiliki contact center, baik berupa data transaksi, data pelayanan, data rekaman dan sejumlah data lain menyangkut kebutuhan pelanggan. Laporkan dengan baik, presentasikan, koordinasikan dan sinergikan untuk dengan cepat mengambil tindakan bagi memenuhi kebutuhan pelanggan. Berharap dengan begitu anda memenangkan kompetisi.

Yang jelas, kita butuh contact center melakukannya secara proaktif, untuk kontribusi yang lebih baik. (AA)

Permainan Tukaran Kado

Permainan Tukaran Kado

Biasanya setiap akhir tahun, Telexindo mengadakan acara tukaran kado. Setiap karyawan diminta membawa kado dalam bungkusan kertas koran. Kemudian kado tersebut dikumpulkan dan diberikan nomor undian. Setiap karyawan akan mendapatkan kesempatan pengundian sesuai dengan nomor yang sudah disiapkan pantia.

Berdasarkan nomor yang diterima, maka karyawan akan mendapatkan hadiahnya sesuai nomor yang ada pada kado. Setelah itu ada acara ramai-ramai membuka kado secara bersamaan. Ada yang senang dapat hadiahnya dan ada juga yang lebih tertarik dengan hadiah dari orang lain. Tak lupa foto-foto dan makan bersama.

Namun kali ini panitia melakukan perubahan kegiatan tukaran kado. Setiap karyawan tetap diberikan nomor undian, namun nomor tersebut adalah nomor urut mengambil hadiah. Kado yang dikumpulkan juga tidak diberikan nomor, karena karyawan boleh memilih bungkusan yang diinginkan. Pastinya yang punya nomor awal lebih berkesempatan memilih hadiah yang lebih bagus.

Oh, ternyata tidak. Permainannya adalah urutan selanjutnya boleh mengambil hadiah yang dibuka peserta sebelumnya, jika ia menyukainya. Begitu peserta lain menyukai kado yang sudah dibuka oleh peserta sebelumnya, maka ia harus mengambil lagi kado yang baru. Bisa juga ia meminta kado orang lain. Begitu seterusnya sampai semua mendapatkan giliran mengambil kado.

Kado hanya boleh diminta orang berbeda sebanyak 2 kali, sehingga jika seseorang meminta kado yang sudah dibuka oleh karyawan lainnya. Kado tersebut masih bisa berpindah tangan 1 kali. Selama masih 1 kali berpidah tangan, maka siapapun boleh meminta kado yang ada ditangan. Kadang-kadang karena ia suka kadonya, maka ia sembunyikan. Tetap saja ada yang mengincar kado yang disembunyikan.

Tak boleh ada yang menolak, jika kadonya diminta oleh orang lain. Itulah makna saling memberi dan tak ada ego untuk memiliki sesuatu hanya untuk kepentingan diri sendiri. Semua senang dengan pilihan hadiah yang didapatkan, bahkan ada mendapatkan hadiah yang lebih mahal.

Coba tebak, apa saja kado yang dibawa karyawan. Biasanya yang dibawa adalah tempat minum, gelas, tempat makan, sendok garpu, atau peralatan yang biasanya mereka gunakan makan dan minum di kantor. Kali ini ada juga yang memberikan sandal, bantal, sandaran kepala, cermin, senter dan handuk. Masih ada yang lainnya, yang entah apa namanya, yang jelas bermanfaat.

Begitulah Telexindo merangkai kebersamaan diakhir periode tahun buku 2017. Ada saja kejutan yang dapat dirasakan oleh karyawan, walaupun dengan hidangan sederhana di ruang teras belakang kantor. Semua menjadi indah, jika dinikmati bersama dalam suasana yang gembira. (AA)