Telepon Millenial

Menurut salah satu survei yang dipublikasikan di blog www.bankmycell.com, 81% dari millenial merasa cemas atau takut pada saat menerima panggilan telepon atau berkomunikasi melalui telepon. Dalam survei yang sama menunjukkan bahwa 88% millenial lebih suka memiliki paket data yang tak terbatas dibandingkan mendapatkan paket gratis menelepon (free call) dan SMS.

Generasi millenial, umumnya berada di depan layar sejak mereka dilahirkan. Mereka umumnya membaca pesan melalui layar monitor mereka dan dianggap memudahkan mereka berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini menyebabkan mereka tidak terbiasa untuk berkomunikasi melalui telepon, sehingga membuat ketakutan untuk berkomunikasi. Fenomena khusus ini memiliki nama telefonofobia dan pada dasarnya ditentukan oleh kecemasan mental untuk berinteraksi dengan orang lain melalui komunikasi telepon.

Berdasarkan survei, hampir semua responden millenial merasa mereka harus mempersiapkan diri sebelum menelepon atau menerima telepon. Millenial lebih memilih untuk menggunakan pesan email dan chat. Mereka lebih baik menuliskan pesan chat dan menyampaikan melalui layar mereka.

Ketika millenial berbicara dengan seseorang melalui telepon, mereka merasa memiliki keterbatasan. Mereka merasa memiliki lebih sedikit waktu untuk menyampaikan pendapat secara profesional atau kemampuan mengartikulasikan jawaban. Sayangnya, tanpa mencoba dan berlatih melakukannya, maka mereka akan semakin tidak mampu. Mereka harus berani menantang diri mereka dan tidak hanya bisa menggunakan bahasa yang tertulis pada layar gadget. Mereka berisiko jika tidak mengembangkan kemampuan komunikasi atau bisa menjadikan mereka semakin terisolasi.

Coba saja perhatikan, hasil survei juga menunjukkan bahwa ada 54% millenial yang menghindari telepon dari teman, keluarga bahkan orang tua. Sepertinya berbeda jika yang menelepon adalah pasangan, hanya 11% dari mereka yang mengabaikan telepon dari pasangan. Nah, ini menunjukkan bahwa millenial punya tingkat komunikasi tertentu dengan pasangan. Dalam kondisi personal tersebut mereka mau berkomunikasi, tetapi mungkin saja dengan mengabaikan keluarga atau teman di sekitarnya.

Kita seharusnya beradaptasi dengan cara komunikasi yang sesuai untuk menyampaikan pendapat. Generasi Y dan Z juga harus meluangkan waktu untuk menghargai manfaat mental dari pengembangan keterampilan komunikasi verbal. Sangat mudah untuk mengisolasi diri dengan fokus pada layar gadget, tetapi ini dapat mengikis keterampilan komunikasi dasar yang kita butuhkan sebagai manusia. Keterbatasan kemampuan komunikasi dapat menyebabkan masalah kesehatan mental di kemudian hari.

Semoga ini menjadi inspirasi bagi kita untuk berkomunikasi. Komunikasi telepon cenderung emosional dan ini merupakan salah satu cara untuk melatih kita berkomunikasi. Hambatan ini juga bisa jadi bahan pembelajaran bagi contact center dalam menyiapkan tenaga kerja millenial untuk memberikan pelayanan melalui telepon. Anyway, sudahkah anda menelepon seseorang kemarin ? Bagaimana dengan hari ini, apakah anda merencanakan menelepon seseorang.

Gunakan paket free call anda. Semoga berkenan adanya. #CelotehPagi (AA)