Menunggu atau Menunda

Dalam melakukan pekerjaan terkadang seseorang menunggu sampai ada perintah atau permintaan melakukan sesuatu. Seakan harus ada yang mengendalikan atau memberikan instruksi supaya badan berjalan dan melakukan sesuatu. Ibaratkan sebuah robot yang menunggu code program untuk dieksekusi.

Entah kenapa kita terbiasa menunggu dipengaruhi oleh pihak lain supaya bisa bergerak. Kita menunggu ada orang lain yang berinisiatif dan memulai lebih dahulu. Kita terkadang menunggu ada yang marah atau ada yang menasehati untuk melakukan perbaikan atau sesuatu lebih baik. Kita menunggu umpan balik pelanggan untuk melakukan perbaikan atas keluhan mereka. Kita menunggu adanya trigger untuk menyemangati kita melakukan sesuatu.

Dalam menulis juga saya membutuhkan trigger tertentu untuk memberikan semangat menuangkan ide. Celoteh pagi menjadi sesuatu yang menjadwalkan saya setiap pagi untuk menulis, menuangkan ide yang ada di kepala. Ada saja yang dipikirkan dan perlu dituliskan. Hal ini menyebabkan saya juga membaca, menonton, mengamati sesuatu sebagai referensi untuk menulis. Jangan heran jika tulisannya beragam, tergantung kemauan jari ini untuk menulis.

Menunggu, ya begitulah. Kata ini juga terjadi pada investasi, kita seakan menunggu orang lain yang lebih dulu memulai. Kita hanya tertarik melakukan investasi pada saat melihat orang lain bisa mencapai hasil tertentu. Padahal kemungkinan nilai investasinya sudah berbeda, jika memulai dari awal. Kenapa tidak memulai pada saat awal ? jawabnya belum terpikirkan. Menunggu sampai ada yang mencoba lebih dahulu, sehingga kita menjadi follower.

Dalam melakukan investasi teknologi atau aplikasi tertentu, kita juga menunggu ada pihak lain yang lebih dahulu menerapkan. Dalam beberapa kegiatan penjualan yang pernah saya tangani, ada saja calon pelanggan yang menanyakan “siapa pengguna pertama di Indonesia?”. Seakan mereka tidak ingin kami jadikan kelinci percobaan untuk implementasi suatu teknologi. Pada saat sudah ada yang mulai dan ada hasilnya, mereka kemudian akan mengikuti. Tentunya pada saat itu, biaya yang harus dikeluarkan akan lebih besar dibandingkan jika memulai dari awal.

Menunda, mungkin hal yang tepat untuk hal tersebut, bukan menunggu. Hal yang sama terjadi pada hampir setiap acara ICCA, panitia akan sibuk menjelang akhir proses pendaftaran. Kebiasaan menunda sering terjadi dan panitia sudah memaklumi bahwa akan ada beban kerja tambahan pada akhir masa pendaftaran. Bukan hanya The Best Contact Center Indonesia, juga terjadi pada kegiatan seminar dan berbagai kegiatan lainnya. Peserta seakan menunggu yang lain mendaftar duluan, nanti kalau ramai baru ikutan. Padahal mereka bisa mempersiapkan lebih baik, jika sudah ada rencana untuk berpartisipasi.

Begitulah. Pada saat anda menunda, kami akan menunggu partisipasi anda. Semoga tulisan ini memberikan semangat bagi anda. Ayo, kita saling menyemangati melewati kondisi saat ini. Semoga berkenan adanya. #CelotehPagi (AA)