Mangga

Orang Sunda pasti punya arti tersendiri untuk kata Mangga. Begitu juga yang suka memakai sarung, pastinya ingat sarung mangga. Namun yang saya akan bahas bukan itu, melainkan nama buah yang rasanya enak. Tergantung dari jenis mangga yang dimakan, ada yang memang sengaja pilih yang asem, untuk rujak. Ada pula yang suka berbau harus dan manis, karena itu memilih buah mangga yang dikenal dengan arumanis. Yah, rasanya tentunya harum dan manis, jika memilih mangga yang sudah matang.

Salah satu tetangga kami punya pohon mangga yang selalu berbuah lebat. Walaupun buahnya besar dan terlihat menarik, tetapi jarang yang berani memetik buahnya. Rasanya memang agak asem, mungkin cocok untuk rujak. Kalau di kampung saya bisa dibuat bumbu masak. Saya tidak tahu namanya dalam bahasa Indonesia. Yang jelas digunakan untuk masak ikan bumbu kuning khas sulawesi.

Kalau kita makan ikan bakar, juga ada mangga yang biasanya dicampur dengan cabai. Dengan rasa asem mangga membuat bau amis dari ikan akan terasa lebih enak. Biasanya kalau makan ikan bakar, saya suka memilih sambal mangga tersebut. Selain itu, bisa juga dengan bumbu kecap, yang diberikan potongan cabai. Hmmm … jadinya pengen ikan bakar yang fresh, seperti yang ada di rumah makan dekat pelelangan ikan.

Membahas mengenai mangga, ini juga merupakan bisnis yang menarik. Ada salah satu penjual minuman di salah satu mall dekat rumah, yang menjual mangga dan dulu antriannya sangat panjang. Kemasan es cream dan mangga dalam satu gelas tinggi, harganya kalau tidak salah Rp50 ribu. Mengusung merek dari Thailand, yang terkenal dengan mangganya yang manis. Entah benar mangganya impor dari Thailand atau hasil budidaya di Indonesia. Itulah bisnis mangga.

Kalau ke Thailand, pastinya belum lengkap jika belum menikmati hidangan mangga. Namanya manggo sticky rice, terbuat dari kombinasi beras ketan dan mangga, diberikan sedikit santan dan beras goreng. Rasa mangga yang manis khas Thailand serta ketan yang diberikan santan sedikit asin, merupakan kombinasi yang menarik. Biasanya saya bisa makan 2 atau 3 porsi, harganya sekitar 180-200 Bath.

Mangga juga merupakan buah favorit keluarga, sehingga orang tua saya menanam 5 pohon mangga di sekitar rumah. Kalau berbuah bersamaan, harusnya gantian, supaya bisa menikmati mangga sepanjang tahun. Hmmm … begitulah, mangga ada musimnya. Kalau berbuah, yah semuanya ikutan berbuah. Ada 3 jenis mangga yang ditanam, yang jelas ada mangga golek dan arumanis, yang satu lagi nggak tahu namanya.

Biasanya ayah saya memetik mangga yang sudah agak tua. Tidak bisa menunggu sampai benar-benar kemerahan, karena akan berlomba dengan kelelawar yang akan menikmati lebih dahulu. Mangga yang sudah agak tua, hanya menunggu 2 atau 3 hari dan sudah matang dengan sempurna. Makan mangga bersama keluarga tentunya salah satu hal yang dinantikan. Biasanya juga dihidangkan bersama dengan ketan. Kayaknya mirip dengan yang ada di Thailand.

Tulisan mangga ini mengingatkan kampung halaman dan sosok ayah yang sering saya ajak main catur di bawah rindangnya pohon mangga. Menyejukkan berada di rumah orang tua, karena banyak pepohonan di sekitarnya. Hanya saja, memang membuat kesibukan tertentu, karena dedaunan yang membutuhkan dibersihkan setiap hari. Kalau pohon mangga terlalu tinggi, perlu dipangkas, karena akan mengganggu jaringan listrik. Selain itu terkadang merusak atap rumah yang terbuat dari seng.

Beberapa buah yang lain juga ada di sekitar rumah, seperti alpukat, belimbing, kelapa, pisang dan buah lainnya. Namun mangga selalu disimpan sebagai kenangan. Nah, mungkin anda punya buah kenangan yang ditanam di sekitar rumah orang tua anda. Yang jelas begitulah indahnya punya kampung halaman.

Selamat menikmati. #CelotehPagi (AA)