Toilet

Sebelas tahun yang lalu saya menulis mengenai pentingnya menghitung kebutuhan toilet untuk contact center. Bagi Anda yang bekerja di contact center atau pabrik dengan jumlah tenaga kerja yang banyak, maka ketersediaan toilet menjadi sangat penting. Namun saya juga apresiasi bagi petugas atau pengguna yang selalu membersihkan toilet setelah digunakan, Begitu juga bagi yang menggunakan toilet secara cepat, sehingga bisa digunakan orang lain. Tak kalah pentingnya, apresiasi bagi yang sabar antri untuk mendapatkan toilet.

Saya sempat memperhatikan beberapa tempat keramaian yang tidak dilengkapi dengan toilet yang memadai. Hal ini menyebabkan antrean yang panjang untuk membuang hajat dan dapat menimbulkan penyakit yang bermacam-macam. Bisa terjadi di mall, tempat rekreasi, terminal, bandara, hotel atau tempat keramaian lainnya. Pada saat banyak orang berkumpul, maka ada saja yang membutuhkan ke toilet. Hal ini merupakan siklus yang normal dari seseorang, yang bisa mengkonsumsi sesuatu dan juga membuangnya ke tempat yang layak.

Dalam beberapa kunjungan ke contact center, saya sering memperhatikan toilet mereka. Baik tingkat kebersihannya, jumlah ruangannya, ketersediaan air, alat pengering, sabun dan juga tissue. Ada contact center tertentu yang sangat bersih toiletnya dan ada pula yang sangat jorok, bahkan air tidak tersedia dengan memadai. Saya jadi kepikiran, bagaimana mungkin karyawan di tempat tersebut bisa nyaman dengan kondisi toilet yang terbatas. Apakah hanya saya yang berpikiran seperti itu ?

Pada saat saya merancang dan membangun rumah sendiri, maka yang saya pikirkan adalah toilet dan jumlah yang cukup. Begitu juga pada saat memilih kantor, saya akan perhatikan ketersediaan toiletnya. Hmmm, saya juga pernah tidak memilih hotel sebagai lokasi pelatihan, karena jumlah toiletnya terbatas. Begitu juga pada saat memilih tempat belanja atau mall, saya akan mempertimbangkan lokasi yang punya toilet yang bersih. Bukan berarti bahwa saya suka ke toilet, hanya antisipasi saja, karena kalau sudah ke toilet dan antrian panjang. Hmmm … lebih baik batal saja.

Walaupun latar belakang saya bukan arsitek atau teknik sipil, karena saya lulusan teknik elektro. Entah kenapa saya selalu mempertimbangkan hal yang satu ini. Demikian pula pada saat saya diminta untuk mendesain ruangan contact center. Saya akan memperhatikan keseimbangan antara jumlah orang yang bertugas dengan jumlah toilet yang akan disediakan. Yang sulit, jika gedung yang dipilih tidak didesain untuk ditempati oleh banyak orang, sehingga tidak mungkin menambah jumlah toilet yang disediakan. Beberapa perkantoran di Jakarta memang kurang memperhatikan jumlah toilet, karena mereka tidak merencanakan digunakan untuk contact center.

Ada beberapa lokasi contact center yang mengubah model toilet dan menambah sekat ruangan. Namun terkadang jumlahnya tetap saja tidak cukup, karena jumlah agent yang bertugas ada ratusan bahkan ribuan. Saya jadinya membayangkan kondisi ini di pabrik, yang jam istirahatnya bersamaan. Beberapa kali saya ke pabrik tertentu, jika istirahat, saya coba perhatikan yang mereka lakukan pada saat istirahat. Berapa karyawan yang akan langsung ke toilet pada saat istirahat dan beberapa yang memilih untuk makan/minum atau aktivitas lainnya.

Berhubung saya menganggap ini adalah hal yang serius. Setiap saya menjadi juri lomba, maka toilet ini menjadi pertanyaan penting yang ditanyakan dalam penjurian lomba The Best Contact Center Indonesia. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara lain. Pesan penting dari hal ini, jika anda ingin menilai perhatian seseorang pada kebersihannya, perhatikan toiletnya.

Sudahkah anda ke toilet pagi ini, pastikan anda juga membersihkan toilet anda. Walaupun saya agak jorok, saya tetap berpesan “Upayakan meninggalkan toilet dalam keadaan bersih, karena ada orang lain yang akan menggunakannya”. Salam sehat. #CelotehPagi (AA)