Telexindo-logo

Celoteh Pagi: Penilaian Diri Sendiri

hero
Andi Anugrah
·
12/12/2022

30 November 2022 – Jika Anda memasak kue, kemudian Anda mencicipinya sendiri dan Anda memberikan penilaian. Kira-kira bagaimana hasil penilaian yang Anda berikan? Apakah Anda akan memberikan penilaian enak atas upaya yang telah Anda lakukan? Atau bahkan Anda selalu tidak puas dengan hasil yang Anda capai. Nah, supaya objektif, coba minta penilaian dari orang lain. Jangan minta dari pasangan sendiri karena pasti pasangan selalu akan memuji kue yang Anda buat.

Objektivitas dalam penilaian sesuatu yang relatif memang sangat tergantung pada perasaan seseorang penilai. Ada faktor-faktor yang berpengaruh dalam memberikan penilaian. Terkadang penilai sebenarnya mau memberikan sesuatu penilaian yang objektif, tetapi akhirnya menjadi subjektif dengan adanya faktor tertentu. Nah, bagaimana menghilangkan faktor berpengaruh tersebut. Tentunya tidaklah mudah, pada saat ada unsur emosional antara penilai dan yang dinilai.

Dalam pelatihan Quality Assurance yang minggu lalu saya laksanakan, salah satu topik diskusi yang menarik adalah melakukan penyusunan parameter penilaian dan kalibrasi hasil penilaian kualitas. Dalam menetapkan parameter kualitas kita berupaya untuk menyusun suatu parameter yang memudahkan dalam melakukan penilaian serta menghilangkan unsur-unsur perasaan. Walaupun tidak mungkin menghilangkan unsur perasaan, minimal kita bisa menetapkan ukuran yang meminimalkan hal tersebut. Jadinya walaupun sudah susun sendiri parameternya, tetap saja ada persepsi berbeda. Mungkin pada saat menyusun parameter, kalah berdebat dengan anggota kelompoknya, jadinya ikut arus saja.

Ada yang menarik dalam setiap sesi pelatihan Quality Assurance karena ada di antara peserta ternyata mempunyai KPI yang menjadi hasil pekerjaannya sendiri. Artinya nilai kualitas yang mereka berikan menjadi target dia sendiri. Nah, ini sama dengan yang si pembuat kue tadi, yang menilai hasil kuenya sendiri. Ada kemungkinan ia menjadi tidak objektif atas penilaian yang dia lakukan. Dampaknya penilaian tidak akurat karena ia tidak ingin kinerjanya alias KPI QA rendah.

Dalam penilaian belajar ada metode yang dapat digunakan, yaitu peer evaluation. Artinya, pencapaian kinerja seseorang bisa dinilai dari rekan kerja. Dengan hal ini memungkinkan untuk mendapatkan penilaian yang objektif dari orang lain. Begitu juga dalam penilaian QA dapat digunakan metode tersebut, dengan membandingkan penilaian QA yang satu dengan yang lainnya. Dengan demikian penilaian KPI QA tidak perlu lagi menggunakan hasil penilaian dia sendiri, tetapi dibandingkan dengan QA lainnya. Nah, jika QA nya hanya 1 orang, maka dapat digunakan penilaian Team Leader atau bahkan agent sebagai pembanding.

Selain peer evaluation, bisa juga menggunakan parameter lain yang menjadi ukuran kinerja QA. Yang jelas unsur KPI sebaiknya meliputi 3 unsur utama, yaitu produktivitas kerja, kualitas hasil pekerjaan, dan disiplin dalam melaksanakan pekerjaan. Ada saatnya kita melakukan penilaian diri sendiri, untuk kepentingan intropeksi diri. Namun, untuk urusan kinerja upayakan penilaian kinerja tidak dilakukan sendiri. Libatkan orang lain, bisa rekan kerja, pimpinan, bahkan bisa dari anggota tim.

Selamat menikmati aktivitas pekerjaan Anda. Yakinlah Anda bisa melakukan yang terbaik bagi diri Anda sendiri. Terbuka untuk mendapatkan penilaian dari orang lain adalah salah satu upaya untuk berkembang. Semoga tetap sehat dan bahagia. (AA)