Petani

Celoteh Pagi : Petani
Instagram : @telexindobizmart

Ada seorang petani di kota kelahiranku. Dia punya sawah yang luas, dia juga punya peternakan ayam dan sapi, produksi telur ayamnya banyak. Selain itu dia juga punya kolam ikan yang tentunya banyak ikannya. Tak jauh dari rumahnya ada kebun dengan beragam buah-buahan, pastinya ada pisang dan kelapa. Rumahnya dikelilingi oleh sawah, ada sungai mengalir di dekat rumahnya. Rasanya semua kebutuhan untuk makan bisa dipenuhi.

Untuk makan, pastinya perlu memasak dan untuk memasak tentunya dia bisa menggunakan kayu bakar, tetapi ia menggunakan kompor gas. Namun, tak cukup dengan itu, ia akan butuh panci atau wajan. Dia bisa membelinya, dengan hasil sawah, telur, ayam, ikan dan lain-lain, bisa dijual dan membeli berbagai kebutuhannya. Dia bisa membangun rumah kayu panggung dengan kualitas kayu terbaik, dilengkapi dengan berbagai ruangan beserta isinya. Semuanya harus dibeli, tentunya tidak bisa ditukar dengan ayam, ikan atau telur.

Bahkan ia juga membeli mesin untuk mengolah padi menjadi beras. Tak hanya itu, ia juga membeli kendaraan untuk membajak sawah dan mesin untuk melakukan panen. Berbagai peralatan tersebut membantunya untuk memproduksi lebih banyak dan pekerjaan menjadi lebih mudah. Tentunya ia juga butuh kendaraan untuk mengangkut padi menuju pabrik pengolahan padinya. Bisa juga digunakan untuk mengangkut ke pasar atau pembeli yang membutuhkan. Semua itu harus dibeli.

Keinginan untuk melakukan sesuatu lebih banyak menuntut dia menyediakan peralatan bahkan tenaga kerja yang lebih banyak. Banyak orang yang bekerja untuknya, baik untuk membantu membajak sawah, membantu memberi makan ayam, mengumpulkan telur dan memelihara kebun. Semua bantuan tersebut harus dibayar.

Jika ia terus meningkatkan produksinya, maka semakin besar hasilnya dan uangnya semakin banyak. Untuk apa semua itu, untuk membayar semua keinginan yang dia pikirkan dan orang sekitarnya pikirkan. Kalau hanya untuk makan tentunya semua kebutuhannya sudah terpenuhi. Terus kenapa dia harus menghasilkan lebih banyak. Apakah untuk membantu orang lain atau untuk generasi selanjutnya, atau ia hanya mengisi hidupnya dengan sesuatu yang bermanfaat ? Entahlah, yang jelas ia masih punya keinginan.

Mungkin keinginan hanya bisa duduk santai menikmati hidangan ayam bakar, sambil duduk memandang hamparan sawah kehijauan serta menikmati aliran sungai dan gemercik air dari kolam ikan. Bisa juga salah satu keinginannya adalah bisa beli mobil mewah, jalan-jalan keliling dunia, atau menginap di hotel mewah, juga bisa makan di restoran ternama. Mungkin juga keinginannya, membuat pesantren, membangun sekolah, membangun panti asuhan, memberi makan orang banyak, menyumbang ke berbagai lembaga sosial, membangun masjid, naik haji atau umroh setiap tahun.

Pada saat sawah tidak menghasilkan karena banjir, atau ternak ayam terkena penyakit dan tidak bisa menghasilkan telur lebih banyak. Pekerja tidak mampu dibayar lagi, karena produksi terhenti. Setelah beberapa bulan tidak menghasilkan dan apa yang terjadi ? Ia harus menggunakan semua sisa tabungannya. Mungkin saja itu yang dinamakan resesi petani.

Resesi atas keinginan yang lebih banyak, lebih banyak dan lebih banyak lagi. Padahal, dia bisa duduk santai menikmati alam semesta dan karunia Allah SWT. Begitulah kehidupan, ketika keinginan menyebabkan kita melakukan sesuatu lebih dari batas. Semoga menyadarkan kita untuk bersyukur dan menikmati yang ada. Akan tetapi hal ini juga tidak menyebabkan kita berpangku tangan, berdiam diri untuk melakukan sesuatu. Bersyukur jika kita diberikan sesuatu seperti petani tersebut, bagaimana jika tidak ?

Menyukuri nikmat dan menyadari kemampuan yang dimiliki untuk menuliskan sesuatu. Berharap bisa berbagi dengan semua rekan-rekan pembaca. Sesuatu yang memberikan semangat. Semoga berkenan adanya. #CelotehPagi (AA)