Menemukan Keunggulan

Menjelang akhir tahun biasanya kita mulai sibuk melakukan perencanaan tahun depan, sekaligus melakukan evaluasi tahun berjalan. Ada hal-hal yang tertentu yang kita capai, ada yang belum tercapai, dan mungkin juga ada yang tidak terlaksana. Dalam dinamikan perjalanan bisnis, ada prioritas-prioritas tertentu yang dijalankan, sehingga beberapa hal tertunda dan beberapa hal terlaksana dengan baik.

Pada saat dihadapkan pada berbagai kemungkinan dan gejolak bisnis, resiko mungkin diambil untuk mengantisipasi dampak kerugian yang lebih besar. Begitu juga resiko mungkin diambil untuk mengambil peluang yang lebih baik, sehingga bisa berkembang lebih cepat. Semuanya dengan mempertimbangkan berbagai hal antara aspek pendapatan, biaya, sumber daya dan resiko yang mungkin terjadi.

Kemampuan untuk beradaptasi terhadap berbagai dinamika bisnis tersebut membutuhkan proses latihan dan pengalaman. Dalam proses belajar dalam suatu perusahaan atau organisasi, setiap orang mempunyai perjalanan karir yang berbeda-beda. Ada yang menjalani dengan posisi yang berbeda-beda, sehingga dapat merasakan tantangan pekerjaan yang berbeda. Ada pula yang mempunyai posisi yang sama, sehingga ia menjadi ahli atau menguasai secara khusus bidang pekerjaan yang dikerjakan.

Seseorang yang sudah lama mengerjakan sesuatu dan tidak menjadi ahli, maka ia telah membuang waktu yang bermanfaat. Seseorang yang mempunyai kemampuan yang khusus atau spesialisasi tertentu, maka akan tepat untuk menggeluti bidang tertentu dan memiliki jalur karir spesialist. Seseorang yang mampu menjalankan berbagai bidang dan berpindah dari satu posisi ke posisi lainnya, maka ia akan lebih banyak menjalankan fungsi manajerial dan mampu mengelola orang lain.

Ada kalanya kita salah menempatkan seseorang dan memberikan tugas yang tidak sesuai dengan minat dan kemampuannya. Walaupun kita bekali dengan berbagai pelatihan dan bimbingan yang memadai, ia juga tidak mampu berkembang pada pekerjaan tersebut. Akhirnya kita menganggap ia tidak berhasil, padahal bisa jadi ia sebenarnya mempunyai keahlian lain yang sesuai dengan kemampuannya.

Karyawan tersebut pada dasarnya punya kelebihan dan akan menemukan keunggulannya pada saat ditempatkan pada bidang yang sesuai. Namun pada kenyataannya mencari bidang yang sesuai bagi seseorang bukanlah perkara yang mudah, misalnya ada pekerjaan yang sesuai, tapi pekerjaan tersebut sudah ada orang lain yang mengerjakan. Bisa juga karyawan tersebut tidak pernah menunjukkan keahlian tertentu yang dapat diberdayakan.

Bisa juga terjadi bahwa mencari keunggulan karyawan belum diperoleh, karena sulitnya komunikasi untuk mengungkap keunggulan yang dimiliki karyawan tersebut. Inilah pentingnya bagi pimpinan perusahaan atau secara khusus bagian HR mengerti psikologi karyawan untuk menggali tantangan pekerjaan dan bagaimana menyalurkan keunggulan karyawan secara maksimal. Tentunya keahlian tersebut harus sejalan dengan bisnis perusahaan, jika tidak, maka harus disalurkan pada perusahaan yang sesuai dengan keahlian yang diminati.

Mengelola karyawan yang sulit ditangani akan menjadi beban tersediri, sehingga waktu terasa banyak terbuang untuk melakukan bimbingan. Pada saat kita sudah harus fokus pada pengembangan, kita masih harus membimbing untuk memperbaiki masalah pribadi yang dihadapinya. Namun justru ini keunggulan yang melahirkan pemimpin-pemimpin bisnis, pada saat ia bisa melewati masa-masa menghadapi tantangan pekerjaan dan akhirnya menemukan rekan kerja atau tim yang mampu bergerak cepat dalam mencapai tujuan.

Menemukan keunggulan karyawan dan menjadikan tim yang kompak, akan menjadi keunggulan tersendiri dalam memenangkan persaiangan bisnis. Keunggulana karyawan yang tersalurkan dengan baik, bisa menjadi modal dalam meraih berbagai peluang bisnis. Bagaimanapun memiliki karyawan yang mamopu menggunakan keahlian dengan baik, akan menjadi sumber pendapatan serta sumber kebahagian dalam bekerja.

Menemukan keunggulan seseorang membutuhkan pemimpin atau pelatih yang bisa melihat potensi pada diri seseorang dan menggunakan keunggulan tersebut sebagai peluang perbaikan. Ibarat seorang pencari bakat pada bidang olah raga atau kesenian, pemimpin seperti ini tak jarang harus bergerilya untuk mencari talent-talent berbakat. Pencari bakat bisa saja melakukan proses pembinaan dari usia dini, melihat potensi yang dimiliki dan kemudian mengembangkannya.

Calon karyawan yang direkruit melalui proses seleksi yang ketat, sesungguhnya untuk mencari potensi yang dapat dikembangkan dari calon karyawan tersebut. Begitu juga karyawan yang mendapatkan pembekalan di suatu perusahaan diharapkan menemukan budaya kerja serta menemukan potensi yang dapat dikembangkan dalam suatu perusahaan atau organisasi. Pada saat memulai suatu pekerjaan dan berhadapan dengan lingkungan yang disiplin, teratur, kreatif, fun dan penuh dinamika, maka karyawan tersebut akan membentuk dirinya untuk menyatu dalam kondisi tersebut. Begitu juga sebaliknya.

Membiarkan diri terbentuk dalam suasana positif yang membuat kita menemukan keunggulan adalah suatu proses yang bijak. Dibandingkan tenggelam pada keluhan atas kesulitan pekerjaan yang dihadapi, bahkan keluhan pada manajer atau atasan yang memberikan tugas yang sulit. Ada saja hal-hal bermanfaat yang bisa ditemukan dalam suatu tantangan pekerjaan. Mengkomunikasikan harapan, proses kerja, dan keunggulan yang bisa dikerjakan adalah jalan yang tepat untuk meraih prestasi bersama.

Selamat menemukan keunggulan-keunggulan anda. Jika anda pemimpin atau manager yang berhadapan dengan tim yang sulit, mungkin anda belum menemukan keunggulan anda dalam memimpin tim. Jika ada adalah karyawan dan berhadapan dengan manager yang sulit, mungkin anda belum menemukan keunggulan anda dalam menyampaikan keahlian yang lebih bermanfaat. Semoga berkenan adanya. (AA)

Optimisme Pedagang Makanan

Dalam kesempatan car free day hari ini, menyempatkan ngobrol dengan rekan-rekan tim Telexindo. Melihat lebih dekat suasana yang ada di ruang terbuka sekitar jalan Thamrin. Berbagai macam kepentingan hadir disana, ada berdagang, ada yang olahraga, ada yang wisata kuliner, ada yang cuci mata, ada yang meminta sumbangan, ada juga yang melakukan survey dan berbagai kegiatan lainnya.

Berjalan sejauh kurang lebih 5 km, tak terasa karena diselingi dengan berbagai perbincangan menarik dan juga kesempatan foto bareng. Banyak cerita dan pengamatan yang dilakukan untuk memberikan makna bagi pengembangan diri dan perusahaan. Ada saja ide yang menarik dijadikan ide, bisa begini atau begitu dengan mengamati yang dilakukan orang lain.

Pernahkah anda mendengar makanan cilok, cilung atau cilor, makanan dengan bahan yang sama. Namun kita tidak akan membahas bahan makanan ini, kita hanya mencoba membahas bagaimana pedagang memiliki optimisme dalam menjual. Coba saja perhatikan, sepanjanh jalan banyak penjual makanan yang menjual berbagai macam jenis makanan.

Apakah semua makanan tersebut habis terjual ? Bagaimana jika tidak habis ? Apakah mereka akan rugi dan berhenti menjual ? Berapa keuntungan yang mereka dapatkan ? Sejumlah pertanyaan coba dijawab untuk mengungkap bagaimana pedagang merencanakan proses penjualan dan menghitung keuntungan yang mungkin mereka peroleh.

Mereka harus menghitung dengan baik supaya semua makanan yang mereka bawa terjual habis. Artinya mereka harus menghitung bahan yang harus buat dan sesuai dengan harga yang mereka akan jual. Jika terlalu kecil atau sedikit, maka pelanggan akan pindah ke gerobak lainnya. Porsi yang mereka jual cukup dengan waktu penjualan selama car free day artinya harus habis sebelum jam 10:00 atau jam 11:00.

Kelihatannya tak ada upaya khusus untuk mengajak pembeli untuk mencoba dagangan mereka. Pembeli datang dan pergi yang tak peduli apa nama gerobak yang menjual dagangan tersebut. Sepertinya sudah ada standar acuan pembuatan makanan, yang menyebabkan pembeli bisa membeli dimana saja dan yakin rasanya hampir sama.

Ada juga gerobak yang cukup terkenal dengan namanya, sehingga menarik minat pelanggan membeli lagi di gerobak tersebut. Berbagai nama penjual makanan yang cukup terkenal hadir di sepanjang trotoar jalan thamrin. Deretan penjual ketoprak dan bakso, berselang-seling di area khusus depan pagar Kementerian BUMN. Warna gerobaknya sama, yang kepikiran adalah apakah makanannya sama ? Jangan-jangan ini cuma satu pemiliknya, sambil memikirkan bagaimana kualitas dari makanan tersebut.

Yang jelas penjual makanan itu, berapapun banyaknya mereka tetap optimis bahwa ada pembeli yang membeli makanan yang dijajakan. Sebuah silap positif yang harus ditiru bahwa optimisme dalam berdagang dibutuhkan untuk membuat kita tetap kreatif dan semangat dalam berusaha.

Mereka yakin pasti ada kalanya kurang beruntung, sehingga pembeli kurang. Ada saja resiko hujan, atau gangguan keamanan yang bisa terjadi. Namun semangat mereka menghadapi tantangan kehidupan membuat mereka bisa berhitung untung rugi dan membuat mereka tetap optimis dalam berjualan. (AA)

Keluarga Karyawan

Ketika jadwal sangat padatnya dan ada keluarga yang membutuhkan perhatian, maka jadilah inisiatif untuk melaksanakan family gathering. Mengingat jadwal kosong yang tersedia sangat terbatas, maka digunakan waktu yang singkat untuk melaksanakan kegiatan. Acara bareng keluarga karyawan dikemas dan segera diputuskan anggarannya.

Tempat yang dipilih tidak jauh yaitu Sentul, dengan harapan semua karyawan bisa ikut dan jarak yang lebih dekat. Hasilnya panitia bergerak cepat dalam semalam bisa melakukan konfirmasi tempat dan jadwal semua kegiatan. Maklum tim Telexindo sudah terbiasa dengan mengatur event, jadi ini bukanlah hal yang sulit dilakukan.

Pagi yang cerah di hari Sabtu, keluarga demi keluarga berdatangan. Yang punya suami atau isteri, tak lupa datang dengan keluarganya. Keceriaan dan kebersamaan segera mencair dengan berbagai kegiatan bersama yang dilakukan. Acara pertama adalah makan siang bersama dengan menu prasmanan, yang dilanjutkan dengan check in hotel untuk istirahat sejenak.

Jelang sore, keluarga berkumpul kembali dan melakukan berbagai aktivitas. Ada yang mengikutkan anaknya lomba mewarnai, ada juga yang bermain ayunan, serta ada yang tanding futsal. Terlihat kelompok karyawan pria dan suami karyawan bergabung dalam futsal yang dilakukan di lapangan hotel. Sore yang mendung sangat mendukung olah raga bersama ini, sehingga waktu berlalu dengan cepatnya.

Acara ditutup dengan perkenalan semua anggota keluarga. Masing-masing karyawan diberikan kesempatan memperkenalkan keluarganya. Mulai dari Andi Anugrah sebagai direktur Telexindo, selanjutnya Anita Rizqiana dan Marlia EP sebagai Manager di Telexindo serta semua karyawan lainnya. Acara dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba mewarnai.

Malam harinya masih ada acara makan malam dengan hidangan barbeque berupa ayam, daging, udang, sosis dan cumi-cumi. Diiringi musik yang lembut suasana makan malam terasa akrab, tak lupa karyawan yang bisa menyanyi mempersembahkan lagu spesial buat semua anggota keluarga.

Malam semakin larut dan berharap acara ini menjadi acara yang berkesan bagi karyawan dan keluarga karyawan Telexindo. Masih ada acara esok yang menanti sebelum kesibukan mempersiapkan lomba The Best Contact Center Indonesia 2018. (AA)

Potensi Waktu Luang

Tiba-tiba saya ingin menuliskan kisah ini, mengungkapkan bagaimana pandangan saya dalam menggunakan waktu luangnya. Saya tidak ingin menilai apakah cara orang lain berbisnis salah atau tidak. Hanya ingin menjadikan pengalaman ini, sebagai sesuatu yang dibagi dan berharap bahwa itu akan bermanfaat.

Sewaktu awal memasuki dunia kerja, saya diajak rekan untuk berbisnis MLM (Multi Level Marketing). Pada saat itu karir saya sudah bisa dikatakan stabil sebagai karyawan tetap pada perusahaan multi nasional. Ada beberapa kali mengikuti sesi presentasi bisnis dari MLM berbeda dan tidak perlu disebutkan namanya. Tentunya menarik, karena banyak sesi motivasi yang membangun semangat kita. Beberapa tahun saya jalankan dan membangun jaringan, ternyata saya kurang cocok dengan bisnis model ini.

Beberapa model MLM juga sempat dicoba, tapi tetap saja tidak bisa berkembang. Uang yang sudah dibelanjakan sudah banyak, poin dan jaringan sudah ada, tapi hasil tidaklah sesuai harapan. Saya yakin bukan pada sistem MLMnya yang salah, namun cara saya menjalaninya yang kurang tepat. Kemudian saya mulai mencari esensi bahwa apa yang dicari dalam MLM ? Uang, jabatan atau level, rumah atau mobil mewah dan seterusnya.

Dengan menghabiskan banyak waktu luang yang seharusnya saya gunakan untuk keluarga, membangun kompetensi diri, membangun bisnis dan juga keuangan. Saya harus memutuskan pilihan untuk fokus bekerja, juga kuliah dan saya ingin bangun pengetahuan dan keterampilan yang saya miliki, supaya bisa lebih berkembang.

Saya yakin suatu saat, tanpa bisnis sampingan, saya juga bisa berkembang dan berhasil. Itulah cara saya memotivasi diri seperti halnya para upliner MLM memotivasi downline-nya. Dengan memfokuskan diri pada keahlian yang selama ini kita miliki dan mengembangkan diri dengan keahlian tersebut, maka suatu saat bermanfaat.

Saya pikir memulai sesuatu yang baru dengan MLM memang bukan pilihan yang tepat bagi saya dalam mencari uang tambahan di kala waktu luang. Sebaliknya saya harus gunakan waktu luang saya untuk mengembangkan diri pada perusahaan yang saya tempati bekerja. Dengan begitu saya punya bekal lebih banyak dan bisa saya gunakan, sesuai dengan peluang yang ada.

Seiring dengan waktu, kemampuan yang saya miliki di bidang contact center berkembang dan mulailah meyakinkan diri untuk memulai bisnis pelatihan. Saya tidak langsung keluar dari perusahaan, akan tetapi masih menggunakan sedikit waktu luang untuk aktivitas mengajar tersebut. Saya pun melihat sedikit peluang untuk berkembang disana. Saya yakin bahwa dengan memberdayakan semua potensi yang saya miliki, Insya Allah akan berhasil.

Waktu luang yang lebih banyak pada saat berbisnis, digunakan untuk menulis, menjalin kerjasama, melatih dan berbagai hal. Tak dipungkiri, banyak godaan untuk kembali bekerja pada saat pemasukan perusahaan sedang sepi. Namun semua itu bisa ditangani dengan semakin sibuknya dalam berbagai kegiatan.

Dari waktu ke waktu, saya semakin menyadari bahwa waktu luang pada saat berbisnis lebih sedikit, banyak tersita untuk berbagai aktivitas. Mengajar, menulis, merancang, mengelola perusahaan, termasuk membimbing anak-anak dan mengurus organisasi. Semuanya butuh perhatian dan saya harus mengkombinasikan semua itu, supaya tetap menjadi kegemaran.

Saya rasa menikmati semua proses dan dinamika dalam bekerja serta mengisi waktu luang adalah suatu hal yang harus kita syukuri. Tak peru menyalahkan orang lain dalam bisnisnya, cukup kita fokus menjalankan pekerjaan kita dan membangun kemampuan kita. Gunakan waktu luang untuk membangun diri, sehingga apapun yang kita kerjakan, suatu saat akan bermanfaat.

Pernah juga saya coba berjualan ke rekan kerja, berbagai macam, akan tetapi hanya sebagai selingan dan cara untuk menjalin hubungan. Hasilnya tidak banyak, mungkin cara menyukurinya yang kurang. Yang ini hanya untuk menutupi perputaran uang tabungan atau bahkan cenderung menguras tabungan saja. Yang jelas semua pengalaman itu berharga dalam mengarungi bisnis yang sebenarnya. (AA)