Kebersamaan

Salah satu bagian penting dalam membangun tim kerja adalah adanya kebersamaan dalam melakukan suatu hal. Banyak hal dapat dilakukan bersama, baik dalam aktivitas pekerjaan maupun kegiatan sosial atau kebersamaan lainnya. Makan siang bersama, hang out bersama atau nonton bareng, olah raga, bahkan diskusi dan curhat bareng.

Dalam rutinitas pekerjaan, setiap orang ingin diperlakukan sebagai manusia dengan segala kebutuhannya, termasuk kebutuhan untuk bersosialisasi. Ketika kita berangkat kerja bukan hanya untuk menyelesaikan pekerjaan, namun berinteraksi dengan manusia lainnya. Merasakan bahwa ada kebutuhan bertemu dengan orang lain, walaupun terkadang berdebat dalam diskusi, marah atas kelakuan tim atau gembira atas pencapaian kinerja.

Memanusiakan diri bahwa kita bekerja bukan hanya karena ingin mendapatkan penghasilan atas pekerjaan yang kita lakukan. Namun pada hakekatnya kita bekerja untuk memanfaatkan potensi diri, sehingga kita bermanfaat bagi orang lain. Kalaupun akhirnya kita dibayar, maka besar atau kecilnya adalah cara orang lain menghargai apa yang kita kerjakan. Jika belum mendapatkan yang sesuai, bisa jadi cara kita memanfaatkan potensi kita yang kurang.

Kehadiran kita di kantor memberikan makna bahwa ada yang harus dikerjakan bersama. Jika tidak, mungkin kita cukup bekerja dari rumah dan bisa menyelesaikan lebih banyak hal. Menghabiskan waktu berada di jalanan dan akhirnya pulang dengan kelelahan, saya kira bukanlah tujuan dari kita bekerja. Menikmati kebersamaan dengan rekan kerja atau sahabat merupakan kebahagiaan yang membuat kita tetap punya energi untuk datang ke kantor.

Saat ini tersedia banyak fasilitas yang memungkinkan kita bekerja secara jarak jauh. Aplikasi berbagi dokumen, sampai dengan conference call dapat dilakukan untuk tetap bersama tim. Namun saya rasa hal tersebut hanya mengatasi sebagian dari kerjasama dan koordinasi yang harus dilakukan. Tetap saja, ada bagian tertentu yang mengharuskan kita rapat dengan tim dan mendiskusikan berbagai hal penting.

Pada hakekatnya kita tetap membutuhkan bertemu, seperti sepasang kekasih yang bisa video call semalam, akan tetapi belum puas jika belum bertemu. Walaupun mereka tahu bahwa bertemu sejenak akan melepaskan kerinduan dan setelahnya bisa jadi akan berdebat lagi dengan sejumlah masalahnya. Menikmati masalah sebagai bagian dari tantangan yang harus dihadapi dalam interaksi antar manusia.

Kebersamaan dengan rekan kerja harus dibangun bersama sebagai bagian dari menerima satu sama lain dalam komunitas kantor. Sempatkan untuk makan siang bersama, sempatkan untuk diskusi santai bersama, sempatkan have fun bersama, jalan-jalan bersama, melakukan kegiatan sosial bersama bahkan melakukan proyek bersama.

Jika belum pernah melakukannya, maka mulailah saat ini juga. Ikutlah kegiatan proyek pengembangan, berpartisipasilah pada sharing session, atau makan barenglah bahkan sesekali traktirlah teman anda. Hidup ini berarti karena ada orang lain yang membutuhkan kita. Semangat. (AA)

Titik Keseimbangan

Sebuah bandul, jika digerakkan maka ia akan berayun untuk mencari titik keseimbangan, sampai akhirnya ia terdiam. Seakan ia sedang menunggu gerakan atau guncangan berikutnya, sehingga ia bisa berayun mengikuti irama gaya gravitasi. Sebuah benda akan mencari titik keseimbangannya dan berakhir dalam diam.

Dalam banyak hal kita juga merasakan guncangan yang sama dengan bandul. Ada kalanya kita mendapatkan motivasi baru dan bergerak kencang mengikuti irama. Lama kelamaan akan bosan dan terdiam, saat kita sedang berada dalam zona nyaman. Seakan kita sedang menunggu daya pendorong baru yang dapat memotivasi diri untuk kembali bergerak.

Itulah salah satu alasan berbagai sesi motivasional selalu banyak diikuti. Seakan banyak orang mencari daya ayunan baru untuk membangkitkan semangatnya, baik dalam belajar, bekerja, berkarya dan berbisnis. Jika kita mengikuti sesi motivasi, maka kemungkinan kita akan bertemu dengan orang lain, dan menemukan sesuatu hal yang baru. Ada kalanya kita juga senang mendengarkan ceramah atau pidato atau hanya sharing yang sebenarnya kita juga tahu. Bahkan kita menertawakan diri, jika hal tersebut sedikit menyinggung kelakuan kita.

Dinamika yang sama kita rasakan jika memulai suatu pekerjaan atau proyek. Kita akan semangat pada saat mulai masuk kantor baru, sampai pada saatnya kita berhadapan dengan banyak gangguan atau godaan. Yang menyebabkan kita akhirnya tenggelam pada kesibukan yang memotivasi atau sebaliknya kita akan hanyut dalam rutinitas dan tanpa daya.

Program-program motivasi yang dilakukan di perusahaan dengan berbagai bentuk reward adalah salah satu upaya yang menggerakkan bandul semangat. Memotivasi tim untuk bangkit dan bersaing, berlomba menjadi yang terbaik. Menemukan bahwa ada pesaing di dunia ini yang selalu bisa dijadikan acuan bahwa kita terasa tertinggal. Dengan demikian memacu diri untuk melalukan perbaikan.

Jika program motivasi tidak mampu menggerakkan semangat anda untuk meraih prestasi, bisa jadi anda benar-benar dalam zona nyaman. Coba carilah pesaing anda, yang memacu adrenalin anda untuk berpikir dan bertindak cepat. Dengan demikian anda mampu menggunakan otak anda secara maksimal serta menemukan ide-ide kreatif baru.

Begitu juga kita dapat menggunakan keahlian dan kreativitas kita untuk bertindak serta menemukan sesuatu yang baru dan lebih bermanfaat. Proses mencari dan mencari, akan membuat kita terus berada dalam ayunan bandul. Yang membuat kita keluar dari titik keseimbangan atau zona nyaman.

Ayo bergerak, berkarya dan raih prestasi. Semoga berkenan adanya. (AA)

Mengukur Emosi

Emosi, bagaimana perasaan orang, adalah kunci untuk menentukan bagaimana kita berperilaku dan merespons rangsangan. Banyak perusahaan masih belum aware terhadap hal ini. Perusahaan harus menyadari bahwa mengukur dan memahami perilaku konsumen atau manusia, mulai dari pengalaman pelanggan, keterlibatan karyawan, pengalaman pengguna dan merek terhadap pesan, pengujian produk dan paket, dapat dilakukan dengan menangkap dimensi emosional.

Tantangannya adalah bahwa mengukur emosi tidaklah mudah. Emosi kita tidak segera bisa diakses oleh diri kita sendiri. Sementara orang mungkin bisa melakukan introspeksi, mengeksplorasi dan akhirnya mengidentifikasi emosinya, namun hal ini tidak mudah, membutuhkan banyak waktu, dan bukan pendekatan praktis untuk pengumpulan data yang dibatasi waktu. Berikut ada beberapa pendekatan dan cara untuk mengukur emosi yang dapat digunakan menurut situasi dan kondisi suatu perusahaan.

Pendekatan Tradisional

“Dalam skala dari sekian tolong beri nilai bagaimana pengalaman anda terhadap iklan atau brand ini”. Pendekatan survei tradisional adalah dengan cara langsung meminta responden menilai berdasarkan perasaan mereka pada beberapa jenis skala. Ini bisa berupa skala numerik atau kategoris atau skala menggunakan simbol atau emotikon.

Pendekatan ini mudah diterapkan, konvensional, murah dan praktis. Ini sejajar dengan bagaimana kita meminta pelanggan dan karyawan untuk menilai perusahaan pada atribut lainnya. Hasilnya bisa segera diintegrasikan dan diproses dengan penilaian kinerja yang rasional.

Kita tidak secara sadar mengetahui perasaan kita, maka pendekatan ini jauh dari sempurna. Namun ini tentu lebih baik daripada mengabaikan emosi atau perasaan sama sekali.

Pengukuran Neuro dan Fisiologis

Kita tahu bahwa perasaan menimbulkan reaksi fisik. Mengapa tidak secara langsung mengukur tanggapan neurologis dan fisiologis yang dapat memberi tahu kita bagaimana perasaan orang? Kita bisa mengukur bagaimana mata mereka bergerak atau bagaimana detak jantung, pernapasan, keringat atau gelombang otak mereka berubah sebagai respons terhadap rangsangan.

Jika Anda bisa menyewa ilmuwan saraf beserta teknologinya, pendekatan ini sangat bagus untuk tes skala kecil tentang bagaimana orang bereaksi terhadap rangsangan mulai dari gagasan, konsep, simbol, citra dan warna hingga pesan, pengalaman (digital dan fisik) iklan, kemasan dan produk. Bagaimana perasaan seseorang saat mereka menggunakan situs web Anda? Duduk di mobil? Mencoba pakaian? Menonton atau mendengarkan iklan Anda? Ada banyak aplikasi dimana pengukuran fisiologis yang dekat dan pribadi bisa sangat informatif.

Pendekatan ini, bagaimanapun, cenderung agak rumit dan tidak mudah terukur, serta memerlukan beberapa keahlian dan peralatan khusus.

Pengukuran Asosiatif

Jika Anda menginginkan sampel yang representatif atau memerlukan data dengan skala, pengukuran asosiatif mungkin merupakan pilihan yang lebih baik daripada fisiologis. Implicit Association Tests (IATs) dapat mengukur perasaan mendalam responden daripada pertanyaan survei tradisional dan lebih sesuai dengan pengukuran bawah sadar. Berdasarkan psikologi sosial mengenai bias, IAT umumnya bergantung pada kecepatan seseorang menjawab pertanyaan tentang hubungan antara dua topik untuk mengukur kekuatan keterikatan seseorang.

Analisis Emosi atau Empati

Teks tidak terstruktur adalah tambang emas untuk mengeksplorasi perasaan. Kita dapat mengambil komentar mereka dan menganalisis komentar mereka untuk menentukan perasaan mendasar mereka. Apakah orang tersebut mengekspresikan frustrasi atau mungkin amarah? Apakah mereka terkejut atau mungkin senang? Sebagai sesama manusia, kita bisa melakukan ini secara manual, sama seperti coding open-end.

Menjelajahi emosi yang memotivasi perilaku pelanggan atau karyawan adalah hal yang harus dilakukan. Tapi bagaimana caranya? Tentu saja, tidak ada satu ukuran cocok untuk semua jawaban. Itu tergantung, dan menggunakan banyak alat untuk menangkap emosi dari sudut yang berbeda selalu disarankan. Apakah Anda mencari lebih banyak aplikasi kualitatif atau kuantitatif? Apakah Anda memerlukan sampel yang representatif dalam skala atau populasi yang kecil cukup? Apakah Anda memiliki survei yang dapat Anda gunakan? Atau apakah Anda ingin menganalisis data yang ada? Apakah Anda memerlukan hasil real-time? Dan, tentu saja, apa yang ingin Anda capai?

Sumber: Lax, Howard. 2017. Measuring Emotions for CX and EE (and anything else).

Menjalankan Sesi Brainstorming

Brainstorming merupakan salah satu cara untuk menggali dan mengembangkan gagasan untuk berbagai macam tujuan, penelitian, tugas, merencanakan suatu pekerjaan, dan lainnya. Berikut adalah rangkaian bagaimana menjalankan sesi brainstorming yang baik.

Buat gagasan atau ide sebanyak mungkin

Ada alasan di balik membuat gagasan sebanyak mungkin, yaitu novelty (kebaruan) dan ideas come in waves (gagasan datang dalam gelombang). Biasanya ketika kita meminta seseorang untuk mengemukakan gagasan, ada beberapa gagasan umum yang akan muncul dari setiap orang. Biasanya gagasan ini tipikal,hampir semua orang yang diminta untuk memberikan gagasan tidak memiliki kebaruan atau kreativitas. Untuk mencapai ide kreatif dan novelty (kebaruan), kita perlu mendorong diri sendiri keluar dari zona nyaman untuk mendapatkan ide termudah dan paling sederhana.

Jika diperhatikan dengan saksama, kita mendapatkan ide secara bergelombang. Begitu Anda menemukan beberapa ide kreatif, hal itu lebih mudah untuk memodifikasi, menambahkan atau mengurangi sesuatu dari gagasan itu dan menghasilkan lebih banyak gagasan. Setiap gelombang ide yang Anda alami, Anda akan melihat bahwa Anda bergerak menuju ide yang unik, kreatif dan baru.

Ide gila

Kenapa kita butuh ide gila? Lebih mudah untuk membuat ide gila yang menarik, bisa ditindaklanjuti dan yang sedikit lebih masuk akal daripada membuat ide biasa yang membosankan menjadi menarik. Ambil ide gila untuk memecahkan masalah yang ada dan cobalah untuk membuatnya lebih praktis. Hal ini akan mendorong Anda untuk menumbuhkan semangat kreatif.

Menunda penilaian

Mengapa kita perlu menunda penilaian? Brainstorming adalah proses dua langkah yaitu menghasilkan gagasan dan memilih gagasan. Penting untuk menjadikannya sebagai dua langkah terpisah dalam proses mendapatkan hasil yang baik. Memberikan penilaian dengan terburu-buru dapat membunuh kreativitas lebih cepat. Pada saat seseorang mulai menilai gagasan tertentu itu sebagai sesuatu yang baik atau buruk, pikiran kita mulai menerapkan filter pada pemikiran kreatif kita.

Kesempatan yang sama dan keberagaman

Bagaimana kita bisa memastikan bahwa setiap orang mendapat kesempatan untuk membagikan gagasan mereka? Pembentukan gagasan atau konsep adalah proses dua langkah. Langkah pertama adalah menghasilkan ide, yang dapat dilakukan dalam tiga langkah yang berbeda yaitu brain dump (mengosongkan pikiran), share it (membagikan), dan build upon it (membangun).

Langkah pertama adalah meminta setiap individu mengemukakan ide secara terpisah. Setiap individu dapat mengemukakan gagasan sebanyak mungkin sebagai individu, tanpa diskusi atau berbagi gagasan mereka. Ide ini murni dari pemikiran setiap individu.

Langkah kedua adalah meminta setiap orang untuk berbagi ide dengan tim. Orang lain yang memiliki ide yang sama atau serupa bisa mengelompokkan gagasan mereka seputar ide yang pertama kali diajukan. Semua orang berbagi gagasan mereka satu demi satu sampai semua gagasan dibagikan.

Langkah terakhir dalam proses ini adalah agar orang-orang menghasilkan gagasan baru (menggabungkan, mengedit, mengganti atau mengurangi gagasan yang telah dibagikan oleh seseorang di dalam tim). Hal ini dilakukan lagi secara individual dan nantinya akan dibagikan dengan tim. Tim kemudian dapat mendiskusikan untuk mengeksplorasi apakah mereka dapat menghasilkan gagasan yang lebih kreatif sebagai sebuah tim.

Keseluruhan proses tersebut memang sangat berguna dan efektif untuk digunakan sebagai dasar untuk melanjutkan ke tahap eksekusi. Namun tidak kalah penting adalah memprioritaskan hal tertentu untuk dijadikan keputusan bersama.

Kesimpulannya adalah brainstorming merupakan kegiatan penting yang berpotensi membantu merangsang kreativitas kita dan memecahkan beberapa tantangan yang paling mendesak. Namun, jika tidak ditanggapi dengan serius dan dilakukan dengan ketat, ini juga merupakan pemborosan waktu.

Sumber: Gupta, Mukesh. 2017. How to Run a Good Brainstorming Session.