Meningkatkan Produktivitas Karyawan dengan Coaching dan Counseling

Ada banyak jalan menuju produktivitas, banyak cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan kompetensi karyawan. Bukan hanya training, yang memang harus mengeluarkan sejumlah biaya. Ada cara lain yang murah meriah tapi sangat jitu, yaitu Coaching dan Counseling.

Arti coaching sendiri adalah suatu bentuk pengembangan melalui pelatihan dan bimbingan yang diterapkan oleh suatu perusahaan. Tujuan coaching yaitu untuk mendukung pembelajaran karyawan atau klien demi membantu mereka dalam meraih tujuan pribadi atau tujuan profesional tertentu. Coaching ini biasanya dilakukan oleh seorang manajer kepada karyawannya, terutama untuk meningkatkan pertumbuhan karyawan yang bersangkutan.  Selain itu, contoh coaching karyawan lainnya seperti, meningkatkan kepercayaan diri karyawan dan juga atasan dalam menyelesaikan problem, dan meningkatkan kualitas hubungan dan komunikasi antara atasan-bawahan.

Di sisi lain, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), counseling adalah pemberian bimbingan yang dilakukan oleh seorang yang ahli kepada seseorang dengan menggunakan metode psikologis seperti pengarahan, pemberian bantuan oleh konselor kepada konseli, penyuluhan, dan lain sebagainya. Dari penjelasan tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa coaching dan counseling, keduanya memiliki peranan yang sangat penting.

Baik Coaching maupun Counseling adalah sebuah metode intervensi untuk membantu karyawan mengatasi masalah pekerjaan. Coaching bermanfaat untuk membantu seseorang mencapai tujuan dalam kehidupannya. Coaching memegang prinsip bahwa coachee lah yang paling tahu jawaban atas masalahnya sendiri. Dalam hal ini coachee dilihat sebagai guru maupun murid. Dengan pendekatan ini, atasan yang berlaku sebagai coach tidak dilihat sebagai expert (serba tahu dan mempunyai jawaban terhadap semua masalah) dalam kehidupan coachee. Tugas coach  adalah mengajukan pertanyaan yang tepat di saat yang tepat, agar coachee bisa memulai suatu perjalanan menuju self discovery dan awareness (pemahaman dan kesadaran mengenai keadaan diri sendiri) dari perspektif baru yang berbeda.

Pemahaman dan kesadaran diri ini menghantarkan coachee pada kepercayaan diri dan pemberdayaan dari perspektif yang baru, sehingga timbul keberanian untuk melakukan tindakan-tindakan baru, sehingga bisa mencapai hasil yang sebelumnya tidak pernah diraih. Jadi coaching adalah mengenai perubahan dan transformasi, mengenai kemampuan seseorang untuk tumbuh, merubah perilaku yang menghalangi kemajuan, untuk melahirkan perilaku serta tindakan baru.

Proses coaching yang baik mempersiapkan individu dari tim yang dibina mampu berkreasi atau mampu menghadapi situasi di lapangan/keadaan yang sebenarnya pada saat coach tidak ada disampingnya. Sebagai contoh, dalam satu kesebelasan sepak bola, seorang coach yang baik mempersiapkan timnya sebelum pertandingan. Hingga pada saat pertandingan coach tidak ada di samping mereka untuk memberi tahu apa yang benar atau salah, namun binaan sang coach sebelum pertandingan membuat timnya tahu bagaimana menunjukkan kemampuan terbaiknya, belajar dari situasi dan beradaptasi sehingga mampu membuat keputusan-keputusan terbaik demi hasil terbaik.

Hasil dari sebuah proses Coaching membuat coachee mampu berpikir untuk dirinya sendiri, mampu mencari solusi untuk dirinya sendiri, mampu mengenal belief atau value yang menghambat maupun yang memberdayakan sehingga tidak ada ketergantungan dengan coach. Counseling fokus membantu karyawan untuk mengelola permasalahan mereka sendiri dengan menggunakan sumber daya mereka sendiri. Atasan hanyalah seorang fasilitator.

Beberapa situasi kerja yang membutuhkan coaching adalah orientasi dan pelatihan bagi karyawan baru, adanya kebutuhan untuk mengajarkan ketrampilan dalam pekerjaan, komitmen karyawan yang kurang, adanya konflik dengan rekan, terjadi perubahan organisasi, karyawan merasa adanya hambatan karir dan karyawan stres, jenuh, atau terlalu banyak tanggung jawab.

Melalui coaching dan counseling, beberapa manfaat yang diperoleh adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam kerja, meningkatkan kepercayaan diri karyawan dan juga atasan dalam menyelesaikan problem, meningkatkan kemampuan karyawan dalam menyelesaikan masalah dan meningkatkan keyakinan bahwa tujuan dapat dicapai. (WH)

Leave a Reply